Beranda Keislaman Akidah Berawal dari “Kullu”, Doktrin Wahabi Semua Bid’ah Sesat

Berawal dari “Kullu”, Doktrin Wahabi Semua Bid’ah Sesat

Harakah.id – Berawal dari kullu, semua bid’ah sesat, titik. Berangkat dari pemahaman kata kata ‘kullu’, doktrin Wahabi bersifat paten dan tidak mengenal nego.

Kaum Wahabi atau Salafi (sebagai mana klaim internal mereka) bagaikan virus akut yang menginfeksi kerangka tubuh umat Islam. Analogi Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnh Wal Jamaah, menyebut Wahabi ibarat penyakit menular akut yang wajib diamputasi sebelum menjalari tubuh lain. Artinya, paham ini perlu penanganan serius dari para ahlinya.

Munculnya harakah Wahabiyah, sebagaimana penuturan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, merupakan salah satu dari tiga motif utama terbentuknya organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama lahir berdasarkan tiga motif, agama, Aswaja dan nasionalisme.

Kekhawatiran para ulama Aswaja mengenai tersebarnya paham keislaman yang baru muncul abad ke-18 ini didasari beberapa sebab. Di antaranya, gerakan yang berasaskan ekstrimisme dalam dakwah Islam yang muaranya berembrio pada doktrinasi ekslusif secara massif.

Menurut jumhur ulama Aswaja, doktrin demikian merupakan ketimpangan beragama yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Pasalnya, goal agama Islam adalah rahmatan lil alamin, tidak melakukan justifikasi subjektif yang muaranya memicu kebencian dan kerusakan. Doktrin Wahabi pada pengikutnya merupakan musibah besar yang dialami umat Islam. Dengan keberadaan mereka, Islam bukan lagi menjadi agama cinta kasih, tapi monster yang setiap saat mengintai dan mengganggu jamaahnya.

Analisis saya, doktrin Wahabi yang begitu timpang bermuara dari satu hadis populer, “kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin finnar.” Berdasarkan hadis ini, kaum Wahabi menganggap semua jenis bid’ah terkategori sesat dan menyesatkan. Konsekuensinya, setiap pelaku bid’ah terstigma dosa bahkan kufur, karena melaksanakan ajaran sesat yang sengaja diciptakan. Berangkat dari pemahaman kata ‘semua’, yang merupakan terjemah dari kata kullu, doktrin Wahabi bersifat paten dan tidak mengenal nego. Berasal dari kullu, semua bid’ah sesat, titik.

Versi Aswaja, selaku rival utama Wahabi di samping Syi’ah, kata kullu tidak hanya sempit bermakna ‘semua’, termasuk dalam kullu bid’atin dhalalah. Aswaja memaknainya dengan mayoritas bid’ah dihukumi sesat bukan semua bid’ah secara absolut. Jadi, dalam kenyataannya, bid’ah masih bisa terbagi menjadi dua, tiga bahkan lima sesuai ijtihad dan istinbath masing-masing.

Baca Juga: Makna Sunnah Serta Perbedaannya dalam Ilmu Hadis dan Ushul Fikih [1]

Kullu memiliki padanan makna, berupa sebagian ataupun mayoritas, laiknya (yang telah masyhur menjadi istidlal kaum sunni) dalam Al-Qur’an yang menyebut kulla safinatin ghasba. Dalam kanyataannya, tidak semua kapal diambil oleh raja dzalim masa Nabi Musa dan Khidir As., tapi ada tahap filterisasi dan kualifikasi kapal-kapal yang dinilai layak.

Atau seperti dalam ayat waja’alna minal ma’i kulla syai’in hay (dan kami menjadikan ‘semua’ sesuatu yang hidup dari air). Padahal, sudah maklum, malaikat dan setan termasuk mahluk hidup dan asal penciptaannya bukan dari air, melainkan cahaya dan api. Artinya, kullu dalam kulla syai’in tidak bermakna am mutlak. Cukup dari sini, pemaknaan kullu dengan diksi ‘semua’ (secara mutlak) versi Wahabi sudah runtuh, meski masih banyak dalil pembuktian makna kullu.

Dari satu hadis, menimbulkan ranting-ranting perpecahan yang memicu konflik inter-eksternal. Dari kata ‘kullu’, semua berubah menjadi salah. Padahal, andaikan komunitas ini tidak menutup hati mau berkontemplasi mengenai sanggahan dari Sunni, ihwal klasifikasi makna ‘kullu’ yang bisa bermakna aghlabiyatul bid’ah (kebanyakan bid’ah, bukan semua bid’ah) pemahaman bid’ah tentu sudah final.

Sekian rimbunan bukti telah disodorkan, tapi hati tak urung terbuka. Plesetan ataupun doktrinasi menjadi bukti sulitnya menginfluensi seorang yang terpengaruh satu doktrin, sekalipun kebenaran ilmiah telah menemui final. Dari kata “kullu” pecah menjadi lima doktrin ke-Wahabi-an, takfir, tabdi’, tajsim, anti-taklid, dan anti-madzhab.

Baca Juga: Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Takfir artinya mudah mengkafirkan mereka yang tidak sepaham, meski dalam sisi khilafiah sekalipun. Tabdi’ yakni membidahkan segala amalan yang –versi mereka– dirasa tidak selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Tajsim atau menganggap Allah mempunyai jasad atau tubuh laiknya manusia, hewan, jin, dan mahluk lain.

Anti-Taklid, karena taklid bagi mereka hanya pada Allah dan Rasul. Jikalau taklid pada ulama, anggapan mereka, ulama tidak maksum dan rentan salah, maka haram bertaklid pada ulama, toh dalam faktanya mereka pun bertaklid pula, hanya enggan atau malu mengakuinya.

Anti-Madzhab, Wahabi tidak menerima madzhab dalam kontruk apapun, meski dalam kenyataannya toh mereka tetep bermadzhab, namun sekali lagi malu mengakuinya.

Kelima doktrin itulah yang mendorong para pengikut Wahabi kian puritan dan eksklusif dalam dakwah Islam dan itu semua hanya berawal dari pemahaman kata kullu. Berawal dari “kullu” yang disalah pahami, timbul fatwa rentan konflik yang menyulut perpecahan di tengah masyarakat luas. Bayangkan! Hanya kullu, agama dikesankan lumpuh untuk menciptakan rasa nyaman.

Penting kiranya untuk mempromosikan ulang Pesantren Salaf sebagai wadah terefektif dalam pengkajian ilmu keagamaan, mengingat follower dari para korban “kullu” mayoritas buta literasi kitab kuning dan ilmu alat Arab.

Baca Juga: Melegitimasi Praktek Bom Bunuh Diri Menggunakan Hadis Tak Lain Adalah Satu Jenis Kebodohan
Baca Juga: Sejarah Lengkap Aliran Salafi-Jihadi: Pertemuan Berbagai Kepentingan [2]

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...