Berbagi Nasihat di Media Sosial Itu Dianjurkan, Tapi Perhatikan Syarat dan Adabnya

0

Harakah.id – Hendaknya kita bermurah hati berbagi nasihat. Tetapi tidak lupa memperhatikan adab dan syarat dalam berbagi nasihat.

Bangsa Indonesia dikenal dermawan. Senang berbagi. Berbagi dengan orang lain memiliki nilai tersendiri. Apapun yang bisa diberi, akan dibagikan. Begitulah masyarakat kita. Terlebih di era internet. Berbagi menjadi begitu mudah. Tinggal klik, maka donasi maupun lainnya, akan langsung terkirim.

Menurut data APJII (Asosiasi Pengusaha Jaringan Internet Indonesia), ada sekitar 142 juta pengguna internet di seluruh Indonesia. Separuh lebih penduduk Indonesia bisa internetan. Paling banyak diakses menggunakan handphone. Pada umumnya, masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk mengakses media sosial, dibanding layanan penyedia data seperti google schoolar dan lainnya.

Rupanya, perkembangan ini mempengaruhi cara kita mengekspresikan kedermawanan. Berbagi materi mungkin masih terus menjadi karakter umum bangsa kita. Tetapi ada perkembangan lain.

Kita senang berbagi pesan keagamaan. Nasihat agama. Pada akhirnya, akun sosmed kita ada yang terkesan sebagai akun dakwah. Hampir semua postingannya adalah pesan dakwah. Pesan keagamaan. Nasihat agama. Entah ditujukan kepada siapa.

Di antara pengguna sosmed ini, ada yang berubah. Sikapnya di media sosial tidak seramah di dunia nyata. Entah kenapa. Ada kecenderungan kita menjadi hakim atas postingan orang lain, isu yang sedang marak di media sosial, dan lainnya. Jadi, selain sifat dermawan, senang berbagi, kita juga mengembangkan sifat mudah menghakimi. Hal ini tentu tidak sehat.    

Berbagi nasihat merupakan perbuatan mulia. Agama kita sangat menganjurkannya. Dalam sebuah hadisnya disebutkan

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: “الدِّينُ النَّصِيحَةُ” قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ”

Dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi Saw berkata, “Agama adalah nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya, “Bagi siapa?” Rasulullah Saw berkata, “Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin umat Islam, dan orang awamnya.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ” قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: “إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ”

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Kewajiban Muslim atas Muslim lainnya ada enam.” Ditanyakan, “Apa saja enam itu Wahai Rasulullah?

Beliau berkata, “Ketika engkau bertemu dengannya, ucapkan salam, ketika diundang, datangilah, ketika ia meminta nasihat, berilah nasihat, ketika ia bersin lalu ia membaca hamdalah, doakan dia, ketika ia sakit, jenguklah, ketika meninggal, iringi jenazahnya.” (HR Muslim).

Kedua hadis di atas menyebut memberi nasihat sebagai salah satu perbuatan mulia. Jadi, nasihat itu sangat penting dalam Islam. Saking pentingnya, dikatakan, agama adalah nasihat. Artinya, kandungan terbesar agama Islam adalah nasihat. Rasulullah juga menyebut nasihat sebagai haqqul Muslim. Kewajiban seorang Muslim.

Namun demikian, tidak semua orang dapat begitu saja berbagi nasihat. Ada syarat dan adabnya agar nasihat yang kita bagi kepada orang lain dapat tepat guna. Setidaknya, ada lima adab yang harus diperhatikan dalam berbagi nasihat.

  1. Al Ikhlash fin nashihah (Ikhlash dalam memberi nasihat, diniatkan karena menjalankan perintah Allah)
  2. Al Ilmu Bima Yanshah Wa Al Amal bihi Awwalan (Berdasarkan ilmu dalam perkara yang dinasihatkan dan telah diamalkan).
  3. Al Rifqu wa Layyin fin Nashihah (Bersikap lembut dan santun dalam memberi nasihat).
  4. Al Israr biha wa ‘adamu Al Fadhihah (tidak terang terangan dan menjauhi menjelek jelekkan)
  5. Ikhtiyar al Waqt wa Al Makan Al Munasibain (Memilih tempat dan waktu yang tepat)

 Al Ikhlash fin nashihah (Ikhlas dalam memberi nasihat, diniatkan karena menjalankan perintah Allah). Hendaknya kita tidak pelit dalam berbagi kebaikan dan nasihat kepada orang lain.

Tetapi tidak pula dilatarbelakangi keinginan ingin dikenal atau terkenal di hadapan orang lain. Hindari memberi nasihat karena menuruti keinginan ego atau nafsu sendiri yang seringkali memunculkan sikap memaksakan kehendak.

Al Ilmu Bima Yanshah Wa Al Amal bihi Awwalan (Berdasarkan ilmu dalam perkara yang dinasihatkan dan telah diamalkan). Hendaknya kita memberi nasihat dalam perkara yang kita punya ilmu di dalamnya.

Karena tidak mungkin orang bodoh, tidak punya pengetahuan tentang sesuatu, bisa berbagi pengetahuan dan nasihat dengan orang lain. Perlu diingat pula, bahwa sebelum berbagi nasihat, hendaknya kita telah mengamalkannya. Karena ini terkait dengan agama. Allah Swt berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain berbuat kebaikan, sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berpikir?  (Qs. Al Baqarah: 44)

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa apa yang kamu tidak kamu kerjakan (Qs. As Shoff: 3).

Al Rifqu wa Layyin fin Nashihah (Bersikap lembut dan santun dalam memberi nasihat). Hendaknya dalam menyampaikan nasihat dilakukan dengan lembut dan santun. Baik dalam bahasa, sikap dan ekspresi.

Ingat cerita tentang nasihat Nabi Saw terhadap Aisyah agar senantiasa bersikap lembut sekalipun terhadap orang Yahudi yang mendoakan jelek Nabi. Orang A’rabi yang kencing di Masjid Nabawi, lalu akan dipukul para sahabat, Nabi mencegahnya. Ingat kisah Nabi Musa yang diperintah menemui Fir’aun dan diperintahkan kepada qaulan layyinan. Ada sebuah pepatah mengatakan,

ما كان الرفق في شيء إلا زانه وما كان العنف في شيء إلا شانه

Tak ada kelembutan dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya. Tak ada kekerasan dalam sesuatu kecuali akan membuatnya jelek.

Al Israr biha wa ‘adamu Al Fadhihah (tidak terang terangan dan menjauhi menjelek jelekkan). Hendaknya kita memberi nasihat dalam ruangan tertutup, tidak di hadapan orang lain. Ada sebuah pepatah mengatakan,

النصيحة في الملأ فضيحة

Memberi nasihat di depan umum adalah penghinaan.

Ikhtiyar al Waqt wa Al Makan Al Munasibain (Memilih tempat dan waktu yang tepat). Pilihlah waktu, tempat dan bahasa yang sesuai dengan keadaan. Allah berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik (Qs. Al Nahl:  125)

Demikianlah beberapa adab dalam berbagi nasihat. Hendaknya kita bermurah hati berbagi nasihat. Tetapi tidak lupa memperhatikan adab dan syarat dalam berbagi nasihat. Hal ini penting karena diterima tidaknya sebuah nasihat sangat ditentukan hal hal di atas. Diterimanya sebuah nasihat tentu akan berdampak bagi kebaikan orang lain.