Beranda Khazanah Berdonasi Di Kala Pandemi, Ajaran Agama Untuk Memperkuat Rasa Kemanusiaan Kita

Berdonasi Di Kala Pandemi, Ajaran Agama Untuk Memperkuat Rasa Kemanusiaan Kita

Harakah.id Dampak Covid-19 terhadap ekonomi rakyat mendesak disentuh oleh filantropi. Sulit jika mengharapkan sepenuhnya dari negara. Bantuan material khususnya pangan menjadi sangat dibutuhkan warga terdampak Covid-19.

Imbas ekonomi akibat pandemi Covid-19 semakin berat. Kondisi ini menguji muslim agar tidak egois dan peduli sosial sekitarnya. Spirit muslim yang semakin peduli sesama mesti ditampung dan digerakkan secara berkelanjutan.

Gerakan filantropi perlu diteruskan dan diresonansikan agar lebih maksimal. Resonansi dalam ilmu fisika adalah peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran gelombang elektromagnetik luar. Harapannya ormas keagamanaan, seperti NU dan Muhammadiyah dapat menggetarkan dan mempengaruhi institusi lain guna terus peduli menggalang gerakan filantropi.

Teologi Filantropi
Islam tidak mensyari’atkan sesuatu selain pasti mengandung hikmah, baik yang diketahui maupun tidak diketahui. Hikmah adalah harta orang Islam yang hilang, barang siapa yang menemukannya maka ia untuknya, demikian Ali Bin Abi Thalib memberi nasihat agar setiap kita berupaya menggali hikmah dari setiap perbuatan demi mengoptimalkannya sebagai motivasi ibadah.

Hikmah besar dari puasa yang baru saja dijalani umat Islam adalah meningkatnya kepedualian sosial. Orang yang berpuasa akan merasakan ketika sesama manusia di tempat lain kelaparan. Harapannya jiwa peduli atau filantropinya akan terakselerasi di bulan suci ini.

Ditambah lagi kondisi sekarang yang sedang menghadapi pandemi Covid-19. Imbas pandemi ini sangat terasa secara ekonomi. Banyak yang kena PHK, dirumahkan, tidak lagi berpenghasilan atau turun tajam penghasilannya. Jiwa filantropi muslim mesti dikuatkan dan digerakkan. Nilai kemanusiaan menjadi titik tekan konstitusi Indonesia. Sila kedua Pancasila menempatkan pangakuan adanya “Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Kata Filantropi sendiri berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata philein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia. Maknanya adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain.

Definisi filantropi terus berkembang seiring dengan variasi praktiknya. Pendefinisian yang paling mutakhir melihat filantropi sebagai investasi sosial, di mana seseorang, sekelompok orang atau perusahaan bermitra dengan orang-orang yang dibantunya (Ibrahim, 2013). Artinya, filantropi tidak lagi hanya dilakukan individu, tetapi merambah ke institusi yang bisa memberikan bantuan.

Survei PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) menemukan fakta bahwa Tingkat bersedekah masyarakat Indonesia terbukti jauh lebih tinggi dari bangsa Amerika, apalagi Jerman dan Prancis. Meskipun dalam hal nominal masih di bawahnya. Motivasi utamanya adalah agama. Buktinya kegiatan kedermawan mencapai puncaknya di hari-hari keagamaan seperti Ramadhan dan Idul Fitri.

Landasan teologis menjadi pegangan fundamental masyarakat dalam berderma. Misalnya umat Islam yang mendasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 267,

”Hai orang-orang yang beriman, dermakanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian apa yang kamu keluarkan dari bumi untukmu. Dan, janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu dermakan kepadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji”.

Rahmatullah (2008) mengunggkap ada setidaknya tiga potensi yang menyuburkan filantropi di negeri ini. Pertama adalah diaspora filantropi. Kedermawanan ini diwujudkan dalam bentuk pemberian sumbangan berupa uang dan barang dan bentuk bantuan lainnya oleh warga yang merantau di kota-kota besar kepada kampung halamannya.

Kedua adalah konglomerasi atau kekayaan personil. Potensi ini belum dioptimalkan. Di negara maju, publikasi konglomerat dilakukan selain nilai kekayaannya juga besarnya derma setiap tahun. Ketiga adalah derma perusahaan. Bentuk filantropi ini sinergis dengan tuntutan CSR (corporate social responsibility).

Strategi Resonansi
Urgensi filantropi yang mampu menyentuh aspek mendasar manusia dan efek bola saljunya hingga ke ranah global, mendesak diupayakan secara optimal. Optimalisasi mesti komprehensif dan sistematis mulai dari sisi pengumpulan hingga penyaluran. Semua komponen mesti disasar secara merata.

Optimalisasi pengumpulan dapat dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dengan memperbesar potensi kemampuan dan konsistensi para filantropis. Layanan prima dapat dikembangkan. Penyumbang mesti dipermudah dengan media IT. Akuntabilitas penting ditunjukkan sebagai wujud profesionalisme. Hal ini dapat menggugah filantropis untuk terus menyumbang hingga puncak optimalnya.

Sedangkan ekstensifikasi dengan memperbesar jumlah filantropis. Sosialisasi dan motivasi spiritual penting dikembangkan. Berkembang dan tersebarnya lembaga filantropi akan turut membantu upaya ini. Pemetaan dan identifikasi calon filantropis penting dilakukan agar tepat sasaran dan tepat pendekatan.

Aspek penyaluran mesti dikembangkan tidak hanya instan atau konsumtif. Dalam kondisi darurat seperti tanggap bencana bentuk konsumsi habis pakai memang dibutuhkan. Namun pasca itu atau dalam kondisi normal mesti dioptimalkan pemberdayaan. Targetnya adalah agar obyek filantropi dapat sejahtera, mandiri, dan berubah menjadi filantropis.

Ruh sosial dalam filantropi mesti diperkuat. Filantropi mesti dikuatkan dengan bangunan keikhlasan di atas kapitalisasi popularitas, ekonomi, politik, dan lainnya. Ikatan antara filantropis, lembaga, dan obyeknya yang kuat dan berkesinambungan menjadi poin penting bagi penguatan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dampak Covid-19 terhadap ekonomi rakyat mendesak disentuh oleh filantropi. Sulit jika mengharapkan sepenuhnya dari negara. Bantuan material khususnya pangan menjadi sangat dibutuhkan warga terdampak Covid-19.

RIBUT LUPIYANTO Pegiat FKMJ (Forum Kolumnis Muda Jogja)

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...