“Bertuhan Pada Tanda”: Kiai Ali Mustafa Yaqub dan Empat Tahun Sejak Kepergiannya

0
162

Harakah.idEmpat tahun meringsut sejak kepergian beliau yang mulia; salah seorang ‘alim yang mengabdi pada sunnah Nabi dan tegas mengoreksi segala macam prilaku serta tindakan beragama yang mulai kehilangan isi.

Di tengah gesekan keras yang terjadi antara prilaku konsumtif masyarakat dengan pola keberagamaan yang semakin komoditif, doktrin-doktrin keagamaan tampaknya semakin tercerabut dari akar rumputnya dan misi untuk apa ia diturunkan. Kiai Ali Mustafa Yakub adalah manusia yang sadar dan mengabdikan hidupnya untuk menjaga keutuhan “hakikat” dalam beragama.

“Setan Berkalung Sorban” dan “Haji Pengabdi Setan” adalah dua buku berjudul konfrontatif yang mewakili keresahan Kiai Ali. Beberapa kasus “Ustadz” yang menarifkan diri muncul serempak beriringan dengan semakin nampaknya kelemahan kompetensi keagamaan yang mereka miliki. Ayat-ayat Tuhan dijadikan kail sejam dua jam untuk menarik ikan pendapatan yang lebih besar. Selain tidak ada perubahan siginifikan dalam lokus kehidupan umat, gelanggang dakwah pun lambat laun direbut oleh simbol-simbol dagang dan diperlakukan layaknya pasar.

Fenomena berhaji pun tidak jauh berbeda. Orang merasa, semakin sering melihat Kakbah, semakin Islam agama terpaku dalam dirinya. Maka fenomena berhaji ulang, lebih terlihat sebagai pemuas nafsu keberagamaan dibandingkan sebuah rantai ritual yang mengandaikan kehambaan, kerendahan dan ketertundukan. Simbolisasi pemakaian baju ihram sebagai sebuah ketelanjangan dan kehinaan manusia di hadapan Tuhannya, kini bergeser menjadi busana kebesaran yang layak dibangga-banggakan. Orang tak lagi berthawaf dan sa’i dengan khidmah. Ada segumpal kesenangan dalam hatinya karena merasa lebih Islam dibanding mereka yang tidak atau hanya sekali menyentuh Ka’bah.

Fenomena-fenomena di atas hanyalah pecahan kecil contoh dari pola keberagamaan di Indonesia yang semakin melepaskan aspek hakikat dan menanggalkan unsur ruh. Serat-serat kehidupan modern yang khas dengan aroma-aroma hedonisme dan kapitalisme turut menyumbangkan pengaruh pada runtuhnya jalan agama yang dibangun dari bahan-bahan kesederhanaan, kerendahan hati serta pemahaman akan yang inti. Pada detik yang sama, agama kita pun menjadi agama tanda; agama yang menuhankan tampilan dan kulit luar tanpa arti.

Antara Kulit dan Isi

Beragama, sebagai sebuah keniscayaan yang berporos pada trensendentalitas, satu sisi membutuhkan simbol-simbol sebagai penubuhan nilai yang diturunkan oleh Tuhan. Tanpa simbol, manusia sebagai mahluk yang mengandalkan indera tentu sulit menangkap anasir-anasir spiritualisme dari niai-nilai keagamaan yang dianutnya. Di sisi yang lain, ketika kehadiran simbol terlalu dominan dalam kosmologi seseorang, maka keberagamaan yang muncul akan mengarus pada model keberagamaan tekstual yang menuhankan huruf, kalimat dan penampakan luar doktrin semata.

Beberapa abad yang lalu, Suluk Malang Sumirang sudah melancarkan kritiknya pada praktek keberagamaan yang mengental pada simbol, teks dan tanda. “Akathah wong ngrempelu/ tata lapal kang den-rasani/ sembayang lan puasa/ kang tansah den-gunggung/ den-senggih anyelamena/ sumbalinga awuwuh andurbalani/ akeh dadi brahala” (Banyak orang omong kosong/ makna harfiah yang diperhatikan/ sembahyang dan puasa/ yang senantiasa dihitung/ dianggap dengan itu menjadikannya Islam/ padahal itu dapat membahayakan/ sebab bisa menjadi berhala). Animisme dalam beragama tak lagi bisa dipahami hanya sebatas ketundukan pada berhala atau benda mati lainnya. Lebih dari itu, ketergantungan yang berlebihan pada ritual dan simbol juga akan mengarahkan seseorang pada lembah kemandulan dan ketumpulan dalam bertuhan.

Maka Kiai Ali Mustafa Yaqub hadir layaknya Gathocolo dan Malang Sumirang. Menganggu absolutisme keberagamaan yang menggumpal pada hal-hal yang berhenti pada masalah brand dan merek.  Di saat yang sama, inti ajaran Islam yang tersusun dari nilai-nilai etika, zuhud dan keikhlasan, seketika meleleh hilang dan tak lagi dipandang-terapkan. Kehilangan inti dalam beragama, berarti kehilangan ruh dalam dalam segala aspek kehidupan manusia. Jika dalam beragama saja seseorang sudah menganut asas duniawi yang simbolik, bagaimana ia akan menyikapi kehidupan duniawi yang serba kulit? Pada titik inilah, kesalahan dalam membidik inti beragama, memiliki konsekuensi yang sama besarnya dengan menggadaikan martabat agama itu sendiri.

Beberapa dampak pun tak dapat dielakkan. Suluk Malang Sumirang melakukan kritik terhadap orang yang shalat namun masih berlaku maksiat dan rakus harta dunia. Kalau orang sudah haji dan melihat Ka’bah, anggapannya Islam dalam hatinya sudah paripurna dan tak dapat digoncang oleh kondisi apapun. Kalaupun kita ingin membicarakan masalah “nilai-nilai Islam yang semakin tergerus dalam sebuah wilayah mayoritas Muslim”, maka kita akan memperbincangkan masalah kekentalan tanda dan perhatian manusia yang berlebihan pada “sarana”.

Di dalam sebuah pengajian Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim tahun 2015, Kiai Ali Mustafa Yaqub berteriak di hadapan santri-santrinya, “kalau ada santri saya yang mengajukan tarif ketika diundang warga, akan saya gergaji kepalanya menjadi dua!” Ketegangan yang memang menyulut di awal jalsah itu merupakan keprihatinan yang dirasakan oleh Kiai Ali setelah mendengar seorang penampil dakwah menolak hadir di sebuah pengajian karena tarif yang tak sesuai permintaan. Selama dua jam pengajian di pagi itu, Kiai Ali meratapi karakter para pendakwah yang semakin tebal sorbannya, tapi semakin tipis tekadnya untuk mengawal perubahan umat.

Islam “Tekstual” Lalu Islam Kapital

Maka kita pun bisa menghitung beberapa dampak yang akan lahir dari mode keberagamaan kulit yang kita terapkan. Salah satu yang paling jelas adalah fenomena menguatnya gugatan-gugatan untuk mengejawantahkan Islam formal dalam bentuknya yang otentik berdasar teks keagamaan yang ada. Fenomena ini bukan hanya bergerak untuk melakukan puritanisasi dalam tataran doktrinal yang terlalu lengket menempel dengan budaya masyarakat, namun sedikit demi sedikit juga menggerus di level nation state dan bentuk kebangsaan.

Ada harga tinggi yang harus dibayar. Dengan mencuatnya nilai tawar Islam Formal dan Tekstual tersebut, historisitas kita sebagai sebuah bangsa dipertaruhkan. Bukan hanya itu, pergulatan kebudayaan masyarakat yang terjadi selama ratusan atau bahkan ribuan tahun terkait format keimanan berbasis agrari dan bahari, harus dihempaskan. Lajur komunikasi yang dibangun umat beragama dengan teks yang dibacanya, sebagai bagian dari proses pemahaman dan penyerapan nilai-nilai spiritualitas bisa dipastikan juga akan terpangkas dan dihilangkan.

Dari sini, kita melihat ada dua arus yang tengah berhadapan. Antara arus yang menunggalkan teks dan Islam formal lalu mengajukannya sebagai role model keberagamaan yang ideal. Dan arus yang meletakkan doktrin dan teks keagamaan sebagai benih yang ditanam dalam kultur masyarakat penganutnya. Yang pertama menumbalkan heterogenitas jejak kehidupan masyarakat penganut agama yang terbentuk karena keniscayaan sejarah. Sedang yang kedua menghela dengan sejenak memberikan waktu kepada teks doktrinal untuk mengenal dan menyesuaikan diri dengan wadah sistem sosial di mana ia akan dituangkan.

Dalam perdebatan mengenai Islam Formal dan Islam Kultural semacam ini, isu utama yang mengemuka sebenarnya adalah persoalan mengenai garis relasional antara agama dan budaya. Sebuah isu klasik, namun seksis, yang hampir mewarnai seluruh gerak pemikiran Islam di setiap generasinya. Pemilahan mana yang “agama” dan mana yang “budaya” seakan-akan menjadi basis kategorial yang wajib digunakan dalam setiap agenda kontekstualisasi nilai keislaman. Dalam madzhab Islam Tekstual, pemilahan ini digunakan untuk mencari opsi yang pure, yang mewakili “agama” yang paling murni sekaligus menggaruk nilai-nilai budaya yang ada padanya. Dalam model Islam politik tirisan Khawarij seperti al-Qaeda dan kelompok keras lainnya, pemilahan di atas diperkental dan diradikalisasi menjadi mana yang “Islam” dan mana yang “Kafir”.

Doktrin bertuhan pada tanda, simbol dan sarana, yang mewujud satu model beragama teks, mendapatkan momentumnya dengan logika pasar yang memperjualkan citra. Sarung, jubah, peci dan sorban, yang awalnya menjadi bungkus bagi religiuitas dan spritualitas seseorang, kini justu menjadi kail komoditas  yang menjadikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai umpannya. Tampil mewah dihadapan para jamaah; sorban yang melilit kepala dan bahunya, baju dengan brand terkenal dan gaya penyampaian yang basah dengan ayat al-Qur’an serta hadis Nabi, menjadi perwajahan utuh Islam-Kapital.

Pada titik ini, kita bisa menyaksikan bagaimana kapitalisme disokong dari belakang oleh satu model keberagamaan yang tekstual dan simbolik. Dulu, di masa penjajahan, melalui tangan Snouck, model tersebut diadopsi dan dipakai untuk mendukung agenda kolonialisme. Ia ternyata efektif untuk menggerus pemberontakan yang muncul dari kelompok-kelompok tarekat. Kini ia kembali digunakan untuk mengoperasikan cara kerja kapital dengan memanfaatkan tagline “Islam Asli 100%” yang diusungnya.

Maka tidak heran ketika tumbuhnya kesadaran umat terhadap tata nilai keislaman,  secara kebetulan bersepakat dan beriringan dengan suburnya nafsu kapital dan praktik komodifikasi agama. Dalam kasus ibadah haji dan umroh, terjadi perang travel di permukaan. Promo pariwisata plus dampingan seorang penampil dakwah terkenal menjadi strategi untuk meraup pasar umat Muslim. Haji, yang awalnya dikenal sebagai ibadah yang sulit, penuh ujian dan pengorbanan menyakitkan, kini berubah menjadi ibadah travelling dan belanja.

Dalam titik kumpul arus inilah Kiai Ali Mustafa Yaqub berdiri. Dengan ilmu keteguhan ajaran Kiai Idris Kamali dan ilmu ketabahan ajaran Kiai Syamsuri, Kiai Ali berdiri tegak dan lantang menantang praktik-praktik komodifikasi agama. Berkali-kali beliau, di berbagai kesempatan yang dimilikinya, menyampaikan fakta bahwa Rasulullah hanya berhaji sekali. Berkali-kali juga beliau menyampaikan bahwa ibadah sosial juga menawarkan pahala dan derajat yang tidak kalah besarnya dengan ibadah ritual. Membangun jembatan, mengumpulkan dan merawat anak yatim dan ibadah sosial lainnya adalah beberapa contoh yang sering Kiai Ali tampilkan sebagai jalan ketiga di tengah ambisi keagamaan kita yang membeku di dua titik saja.