Beranda Tokoh Biografi Abuya Uci Turtusi, Ulama yang Jadi Paku Tanah Banten

Biografi Abuya Uci Turtusi, Ulama yang Jadi Paku Tanah Banten

Harakah.idDi era sekarang, tokoh-tokoh seperti Abuya Ahmad Muhtadi Dimyathi, Abuya Tubagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Abuya Munfasir, hingga Abuya Uci Turtusi merupakan figur ulama yang kerap dijadikan rujukan oleh para santri di wilayah Banten hingga Jawa Barat. Di antara keempat Paku Banten tersebut, Abuya Uci Turtusi merupakan figur yang paling muda.

Biografi Abuya Uci Turtusi ini merupakan pengingat akan sosok ulama besar yang telah wafat dalam waktu dekat ini. Abuya Uci Turtusi adalah salah satu ulama Banten berpengaruh.

Sejak dulu hingga kini, tanah Banten tidak pernah kehilangan figur keagamaan yang keilmuannya diakui seantero negeri. Pada zaman prakemerdekaan, sebut saja Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani. Karya-karyanya masih eksis dikaji di tiap pesantren hingga kini.

Di era sekarang, tokoh-tokoh seperti Abuya Ahmad Muhtadi Dimyathi, Abuya Tubagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Abuya Munfasir, hingga Abuya Uci Turtusi merupakan figur ulama yang kerap dijadikan rujukan oleh para santri di wilayah Banten hingga Jawa Barat. Di antara keempat Paku Banten tersebut, Abuya Uci Turtusi merupakan figur yang paling muda.

Abuya Uci merupakan tokoh yang dikenal dekat dengan KH. Abdurrahman Wahid, presiden Indonesia ke-4, dan Habib Muhammad Luthfi Ali Yahya. Ia adalah ulama karismatik pimpinan Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah, yang merupakan salah satu pesantren paling berpengaruh di seantero Banten. Konten-konten ceramahnya banyak tersebar di media sosial. Gaya khas ceramahnya menggunakan bahasa Sunda Banten, dengan sesekali menyelipkan guyonan dalam kisah para aulia tanpa menghilangkan substansi keagamaan.

Selain sebagai pimpinan pesantren, berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat Nomor Kep-443/MUI/X/2006 tentang Susunan Pengurus MUI Provinsi Banten Masa Khidmah 2006-2011, Abuya Uci Turtusi juga menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat MUI Provinsi Banten, bersama ulama berpengaruh lain seperti Abuya Ahmad Muhtadi Dimyathi.

Menurut H. Murtadlo Hadi dalam “Jejak Spiritual Abuya Dimyati” (2009: 9), sebutan Abuya berasal dari bahasa Arab yang kemudian diserap dan diadaptasi oleh budaya lokal di Banten. Abuya dalam makna aslinya berarti orang yang dituakan karena menjadi guru atau pembimbing. Di Banten, gelar Abuya biasa disematkan kepada para ulama yang menjadi gurunya para kiai yang memiliki pengaruh besar terhadap tatanan keagamaan di masyarakat.

Latar Belakang Keluarga dan Biografi Abuya Uci Turtusi

Biografi Abuya Uci Turtusi dimulai dari tempat beliau berasal. Beliau lahir di Kampung Cilongok, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, sebagai anak ketiga dari dua belas bersaudara. Ayahnya merupakan Abuya Dimyathi Romly, wafat pada tanggal 1 Januari 2001, pendiri Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah. Sedangkan ibunya merupakan putri dari KH. Agrat, bernama Hj. Nihayah, wafat pada tanggal 9 Februari 2004.

Habib Umar bin Salim al-Haddad, dalam ceramahnya di Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah pada acara haul Hj. Nihayah tanggal 7 Agustus 2020 lalu, menyebutkan bahwa Abuya Uci merupakan keluarga besar Azmatkhan dari jalur Sultan Maulana Hasanuddin, raja Banten pertama. Secara patrilineal, Abuya Uci merupakan cicit dari ulama dan pejuang asal Tangerang bernama KH. Raden Khaerun bin Raden Cimang.

Holisotul Kamilah, dalam skripsinya berjudul “Peran KH. Ahmad Khaerun Pada Masa Revolusi di Tangerang Tahun 1945-1946” (2019: 41), menyebutkan bahwa Ki Khaerun merupakan pimpinan Pesantren Doyong, Kecamatan Jatiwulung, Kota Tangerang. Pesantren tersebut didirikan pada abad 19 oleh mertuanya, Ki Rasihun.

Berbeda dengan penuturan Habib Umar, Lutfi Abdul Gani, dalam “Ki Luluhur Rekam Jejak Sejarah Raden Aria Wangsakara” (2000: 96), menyebutkan bahwa Ki Khaerun merupakan keturunan dari Raden Aria Wangsakara. Aria Wangsakara sendiri merupakan seorang pangeran dari Kerajaan Sumedang Larang, keturunan Sayyid Abdul Malik, leluhur Azmatkhan (2000: 7).

Pendidikan Keagamaan Abuya Uci

Dalam biografi Abuya Uci Turtusi, dikatakan bahwa mendapatkan pendidikan keagamaan dasar langsung dari ayahnya, Abuya Dimyathi Romly, di Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah. Abuya Dimyathi merupakan putra KH. Romly, seorang tokoh agama yang beasal dari Pesantren Doyong yang kemudian menetap di Kampung Cilongok.

Sebagaimana ditulis Rohmia dalam skripsinya berjudul “Strategi Komunikasi Persuasif Pesantren Al-Istiqlaliyyah Dalam Mempertahankan Ngahol Syekh Abdul Qadir Al-Jailani” (2016: 35), Pesantren Al-Istiqlaliyah didirikan sekitar tahun 1957. Pada awal berdiri, pesantren tersebut dikenal dengan nama Pesantren Cilongok, merujuk pada lokasi tempat pesantren didirikan. Kemudian pada tahun 1970, nama Al-Istiqlaliyah mulai disematkan kepada pesantren ini.

Abuya Uci merupakan seorang santri yang haus akan ilmu. Beliau belajar ilmu agama di banyak pesantren kepada 32 orang guru selama 32 tahun. Berdasarkan penuturan adik beliau, KH. Iim Imadudin saat mengisi sambutan di acara “Tahlil Malam Kedua Abuya KH. Uci Turtusi” pada Rabu malam tanggal 7 April 2021, Abuya Uci memulai perjalanan keilmuan setelah dari ayahnya kepada KH. Tobri di Pesantren Keresek, Garut, pada usia 14 tahun. Saat itu, Abuya Uci telah hafal beberapa kitab ilmu nahu-saraf, seperti al-Ajurumiyah, Imrithi, Nazm al-Maqsud, dan Alfiyah Ibnu Malik, kitab ilmu balagah seperti Jauhar al-Maknun, dan kitab ilmu mantik seperti Sullamul Munawaraq.

Aktivitas Abuya Uci Memimpin Pesantren Al-Istiqlaliyah

Abuya Uci memimpin sekitar 600 santri di Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok, menggantikan ayahnya, Abuya Dimyathi Romly, yang wafat pada awal tahun 2001 lalu. Abuya Uci mewarisi kepiawaian ayahnya dalam keilmuan. Beliau menggantikan ayahnya memimpin pengajian mingguan di Majelis Taklim Al-Istiqlaliyah, salah satunya kajian Tafsir al-Jalalain pada Minggu pagi. Jemaah yang hadir pada pengajian Minggu pagi tersebut tidak kurang dari tiga ribu, mereka berasal dari berbagai latar belakang dari sejumlah daerah, seperti Banten, Jakarta, higga Jawa Barat.

Sedangkan pengajaran bersama santri, selain olehnya, Abuya Uci juga dibantu oleh 6 orang pengajar yang masih berkerabat. Mereka adalah saudara atau ipar Abuya Uci. Adik-adik beliau yang juga menggantikan ayahnya mengajar di Pesantren Cilongok adalah KH. Totoh Tohawi, KH. Muhasinudin, dan KH. M. Husni Maqqi.

Aktivitas santri di pesantren ini sudah dimulai dari sebelum Subuh hingga menjelang tengah malam. Sedangkan untuk proses belajar mengajar dilakukan di rumah guru masing-masing yang berada di sekitar pesantren.

Sudarto, dalam tesisnya berjudul “Studi Faktor Kharismatik Abah Uci” (2019: 70), menuliskan bahwa Pesantren Al-Istiqlaliyah mengajarkan kitab-kitab dari berbagai cabang ilmu. Abuya Uci, sebagai pimpinan pesantren, mengajarkan kitab-kitab seperti Alfiyah Ibnu Malik, cabang ilmu nahu-saraf; Tafsir an-Nawawi, cabang ilmu tafsir; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, cabang ilmu hadis; Irsyadul ‘Ibad, Mau’idhatul Mu’minin, Bughyatul Mustarsyidin, dan Risalatul Qusyairiyah, cabang ilmu fikih dan tasawuf; serta Sullamul Munawaraq, cabang ilmu mantik atau logika.

Selain kegiatan belajar mengajar bagi para santri dan kegiatan pengajian mingguan untuk masyarakat umum, Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah juga kerap melaksanakan acara-acara keagamaan, seperti yang paling fenomenal adalah acara Haul Tuan Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang diadakan setiap tahun pada minggu kedua di bulan Rabiulakhir.

Berdasarkan Rohima (2016: 48), tradisi haul di Al-Istiqlaliyah ini sudah dimulai sejak tahun 1953 oleh Abuya Dimyathi Romly. Pelaksanaan haul tersebut merupakan sebuah mandat yang diberikan secara estafet oleh guru kepada murid, yang secara silsilah sanad bersambung kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani sendiri. Beliau mendapat mandat untuk melaksanakan haul dari gurunya, KH. Arsyad Cilongok, saat usia 25 tahun.

Pada awal diadakan, acara ini hanya dilaksanakan di lingkungan keluarga besar Abuya Dimyathi. Baru pada kisaran tahun 1987 atau 1988, acara mulai ramai dihadiri oleh jemaah luar daerah. Saat itu, acara haul dilaksanakan di Masjid Al-Istiqlaliyah yang baru dibangun, dan disekaliguskan bersama acara peresmian masjid.

Setelah wafatnya Abuya Dimyathi, estafet mandat pelaksanaan haul dilanjutkan oleh murid sekaligus putranya, yaitu Abuya Uci Turtusi. Pemilihan Abuya Uci oleh ayahnya bukan tanpa alasan, hal tersebut dikarenakan Abuya Uci lah murid yang dianggap mampu dan mumpuni untuk melanjutkan tradisi tersebut.

Pada masa Abuya Uci, acara haul semakin ramai dan dihadiri oleh puluhan ribu jemaah. Acara tersebut kerap dihadiri oleh ulama-ulama Arab dari Yaman, Irak, Maroko, Libanon, dan lain sebagainya.

Wafatnya Abuya Uci

Selasa pagi bakda Subuh, masyarakat Cilongok dikagetkan dengan pengumuman di Masjid Al-Istiqlaliyah yang menyebutkan bahwa guru besar mereka telah dipanggil sang Mahakuasa.

Abuya Uci Turtusi wafat di kediamannya, di Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah, pada tanggal 6 April 2021. Beliau meninggalkan seorang istri asal Garut, 8 orang putra-putri, ratusan santri, serta ribuan pengikut yang mencintainya.

Acara zikir dan tahlilan dilaksanakan bakda Isya di lingkungan Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok. Acara tersebut kerap dihadiri ribuan jemaah dari daerah Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat, dan diisi oleh ulama-ulama karismatik Banten lainnya.

Demikian biografi Abuya Uci Turtusi, seorang ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah dari Banten, yang menjadi rujukan kaum santri.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...