Beranda Tokoh Biografi KH. Syamlawi Parung, Ulama Pejuang Nahdlatul Ulama Pasca Kemerdekaan

Biografi KH. Syamlawi Parung, Ulama Pejuang Nahdlatul Ulama Pasca Kemerdekaan

Harakah.idKH. Syamlawi adalah tokoh besar Nahdlatul Ulama di Parung, Bogor, Jawa Barat. Beliau lahir di Cisaat, Sukabumi, pada tahun 1929. Dengan demikian, beliau lahir jauh sebelum era kemerdekaan dan menjumpai sulitnya masa-masa itu.

Parung merupakan kawasan dengan yang memiliki tradisi keagamaan yang cukup kuat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan para tokoh agama yang menyebarkan dan menguatkan dakwah Islam dari generasi ke generasi. Terutama era setelah kemerdekaan Indonesia.

Salah satu tokoh penting dalam dakwah Islam, khususnya Ahlus Sunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah di Parung adalah KH. Syamlawi, Lebakwangi, Pamegarsari, Parung Bogor. 

KH. Syamlawi adalah tokoh besar Nahdlatul Ulama di Parung, Bogor, Jawa Barat. Beliau lahir di Cisaat, Sukabumi, pada tahun 1929. Dengan demikian, beliau lahir jauh sebelum era kemerdekaan dan menjumpai sulitnya masa-masa itu.

Ayah Kiai Syamlawi adalah orang yang dikenal punya linuwih karena memiliki kelebihan bisa mengobati penyakit. Suhadi, nama ayah beliau, berasal dari daerah Kuningan atau Cirebon. Ibunda Kiai Syamlawi adalah sosok yang terbilang dekat dengan keluarga besar Ponpes Al-Masturiyah. Karena kedekatan inilah kemudian Syamlawi muda dimasukkan ke Pesantren Al-Masturiyah.

Kiai Syamlawi menghabiskan masa kecilnya untuk belajar agama, khususnya di Pondok Pesantren Al-Masturiyyah. Sekalipun tidak terlalu lama, tetapi karena kehidupan yang dekat dengan lingkungan pesantren, tradisi dan budaya ulama sudah tertanam sedari kecil.

Dari Sukabumi Hijrah Menuju Parung

Pada tahun 1948, saat umurnya menginjak usia 19 tahun, Kiai Syamlawi merantau ke Parung, Bogor. Kepergian ke Parung ini karena diajak oleh sahabatnya, Kiai Mansur dari Sunanul Huda, Cisaat, Sukabumi.

Kiai Mansur sebenarnya telah terlebih dahulu merantau ke Parung, dan membuka majelis pengajian di dekat Pasar Parung saat ini. Pada saat perang kemerdekaan, tentara NICA masuk ke daerah Parung. Laskar-laskar Rakyat Indonesia melakukan serangan yang membuat NICA marah. Sebagai balasan atas serangan laskar, NICA menyerang Parung. Serangan itu menyebabkan majelis Kiai Mansur dibakar. Tempat pembakaran majelis itu saat ini dijadikan monumen prasasti batu huru-hara yang berada di depan Masjid Besar Riyadhus Shalihin, Parung.

Karena serangan itu pula, Kiai Mansur harus menyelamatkan diri dengan kembali ke kampung beliau di Cisaat, Sukabumi. Setelah kondisi mereda pada 1948, Kiai Mansur berencana kembali ke Parung. Untuk itu, beliau minta kepada Kiai Syamlawi yang saat itu masih lajang menemani beliau.

Atas pertimbangan dari Mama Ajengan Masturo, Kiai Syamlawi muda menerima ajakan Kiai Mansur. Akhirnya, Kiai Mansur tinggal di Kampung Kandang. Sedangkan Kiai Syamlawi memilih tinggal di Lebakwangi, Pamegarsari, Parung.

Di Lebakwangi, KH. Syamlawi aktif mengisi pengajian dari masjid ke masjid. Di antara masjid yang menjadi tempat beliau mengajar adalah Masjid Nurul Huda, di Kampung Sawah. Kiai Syamlawi juga mengajar Madrasah Ibtidaiyyah (MI) di samping masjid tersebut. Saat itu, ada dua Madrasah Ibtidaiyah di Parung. Madrasah Ibtidaiyyah Pamegarsari dan Madrasah Ibtidaiyyah Jabon.

Setelah sekian lama berjuang menjadi pengajar di masjid dan madrasah, Kiai Syamlawi merintis pendirian Pendidikan Guru Agama (PGA) di Lebakwangi, Pamegarsari, Parung, Bogor. PGA adalah jenjang pendidikan tingkat lanjut di atas Madrasah Ibtidaiyyah setingkat Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Pada tahun 60-an, PGA ini berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah swasta, berlanjut menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri Parung, dan sekarang menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bogor. Perubahan menjadi negeri tidak dapat dilepaskan dari peran KH. Idham Chalid, Ketua Umum PBNU saat itu yang juga menjabat sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat (Kesra).

Perkenalan KH. Idham Chalid dengan KH. Syamlawi tidak dapat dilepaskan dari perkenalan beliau dengan KH. Makmun, Sawanga, Depok. Hubungan Kiai Idham dan Kiai Syamlawi semakin dekat karena semakin banyaknya acara-acara NU di Bogor. Ketika Kiai Idham memiliki kegiatan di Bogor dan sekitarnya, maka beliau akan mampir ke Parung. Madrasah yang dirintis Kiai Syamlawi telah melahirkan generasi bangsa yang terdidik dan tak terhitung jumlahnya. Salah satu tokoh Islam hari ini yang merupakan alumni madrasah ini adalah Prof. Dr. KH. Mukri Aji, M.A. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga ketua MUI Kabupaten Bogor.  

Berjuang Bersama NU

Pada tahun 1952, bersamaan dengan keluarnya Nahdlatul Ulama (NU) dari Masyumi. NU membentuk partai sendiri. Di Parung, selain NU ada partai-partai lain yang juga berusaha merebut pengaruh masyarakat seperti PNI, Masyumi dan PKI. KH. Syamlawi bergabung dengan Partai NU mengikuti keputusan para guru beliau di Pesantren al-Masturiyah, Sukabumi.

Keputusan ini membuatnya berbeda haluan dengan sahabat sekaligus mentornya, KH. Mansur, yang memilih bergabung dengan Persatuan Umat Islam (PUI) yang didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi, Gunungpuyuh, Sukabumi. Secara politik beliau lebih condong ke Masyumi.

Dengan kiprah KH. Syamlawi, pengajian-pengajian di Parung menjadi pengajian berafiliasi dengan NU. KH. Syamlawi menjadi tokoh utama dalam keberadaan NU di Parung. Didukung sejumlah kiai lainnya yang juga datang dari Sukabumi yang kebanyakan adalah juniornya, seperti Kiai Syamsuddin, Sirajul Falah, Haji Jamhur dari Pelabuhan, Kiai Tafsir, dan Kiai Idom. Kedatangan para junior dari Sukabumi ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan PGA Parung yang menjadi rujukan para alumni Pesantren Al-Masturiyah yang ingin meneruskan pendidikan secara formal.

Tercatat dalam ingatan Hj. Khodijah, istri KH. Syamlawi, bahwa di antara pengajian NU di Parung adalah Majelis Al-Irfan. Majelis ini rutin mengadakan pengajian dengan mendatangkan tokoh-tokoh struktural NU. Misalnya, Ibu Nyai Lilik yang merupakan ‘pejabat NU Kabupaten’ datang mengisi pengajian. Ibu Nyai Lilik sendiri adalah adik Mama Falak, Pagentongan, Kota Bogor. Majelis Al-Irfan adalah majelis pengajian yang berada di bawah Masjid Al-Irfan, Pamegarsari, Parung. Majelis ini sampai saat ini masih bertahan. Lokasi Masjid Al-Irfan berada di depan MTsN 1 Bogor. Masjid ini juga menjadi nama jalan utama di desa Pamegarsari.

Ketua PCNU saat itu, KH. Abdurrahim Sanusi, pendiri pesantren Al-Aulia Cibungbulang, Bogor, ketika dapat undangan dari PBNU untuk PCNU pasti datang ke Parung untuk mengambil undangan tersebut. Hal ini karena kedekatan KH. Syamlawi dengan pengurus PBNU saat itu. 

Berubahnya Situasi Politik

Pasca tragedi pemberontakan PKI 1965, tumbangnya pemerintahan Soekarno, naiknya pemerintahan Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto, situasi di Bogor juga turut berubah. Jika sebelumnya ada banyak partai politik, secara berangsur-angsur system semacam ini diubah dengan kebijakan fusi. Hanya ada tiga partai yang dapat menjadi saluran politik masyarakat; Golkar, PDI dan PPP. Partai-partai Islam, termasuk NU, difusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kekuatan sekuler non-pemerintah yang dulunya menjadi pendukung Soekarno difusi dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Selebihnya, masuk dalam apa yang disebut “Golongan Karya” yang meliputi pegawai pemerintah, personel TNI dan Polri.

Melalui mekanisme ini, Pemerintah Orde Baru dapat memenangkan Pemilihan Umum selama hampir tiga puluh tahun. Tekanan dihadapi individu, organisasi dan lembaga yang enggan mendukung Golkar. Namun, bagi mereka yang mendukung tentu mendapatkan keluasaan. Pesantren Al-Masturiyah yang tidak sedikit dari alumninya yang menjadi pegawai negeri menyiasati suasana baru ini dengan memberi dukungan kepada Partai Golkar. Perubahan ini menyisakan dilemma bagi kelompok santri yang sudah nyaman dengan tradisi NU. Termasuk ibunda Kiai Syamlawi yang merasa keberatan harus mencopot simbol-simbol NU. 

Selanjutnya, suasana menjadi lebih sulit bagi para aktivis dan organisasi NU. Kiai Syamlawi yang seorang tokoh NU pun harus merelakan simbol-simbol NU dilepaskan dari berbagai kegiatannya. Tetapi, sekalipun demikian, peran Kiai Syamlawi di NU tidak terhenti. Karena, ternyata organisasi NU di Parung masih terus eksis. Salah satu menantunya, KH. Ali Nurdin yang merupakan pengasuh Pesantren Darussalam, Pamegarsari, menjadi Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Parung. KH. Ali Nurdin menikah dengan puteri KH. Syamlawi yang bernama Hj. Tsamrotul Bashirah Syamlawi.

Kalam Hikmah KH. Syamlawi

Sebagai aktivis, Kiai Syamlawi atau yang di masyarakat akrab dipanggil Mama Sama merupakan tokoh agama yang gesit. Pintar membaca situasi dan senantiasa mengikuti arahan dari gurunya. Ketika sang guru di Al-Masturiyah Sukabumi memintanya untuk berangkat ke Parung, ia dengan senang hati menuruti permintaan gurunya. Ketika almamaternya bergabung dengan Golkar, maka dengan segala dilema yang dihadapi, beliau mengikut bergabung. Inilah jiwa santri KH. Syamlawi yang tak akan lekang oleh waktu.

Sebagai santri tatar Sunda, Kiai Syamlawi memiliki sejumlah perkataan yang bernilai hikmah; falsafah dan kebijaksanaan yang diperoleh melalui perjalanan hidup yang panjang. Harus kebolakan, kebalekan. Harus bisa kerja dan bisa ngaji. Kebolakan itu main bola, lapangan. Kebale itu tempat duduk, ke bale-bale, tempat ngaji. Artinya, dunia akhirat harus seimbang.

Beliau sempat bilang ke murid-muridnya, “Jadikan jabatan itu untuk menolong orang.” Kiai Syamlawi walau dekat dengan pemerintah, dia bisa menegerikan sekolahnya, Kiai Abdullah Syafii pernah menyarankan agar tidak dilakukan, tapi melihat kondisi masyarakat yang ekonomi lemah, jadi KH. Syamlawi tetap dinegerikan. Jadi, jabatan itu dimanfaatkan untuk sesama. Ke pejabat dekat dan memanfaatkan kedekatan itu untuk orang lain. Ada yang bilang, ulama yang dekat dengan penguasa itu jelek. Tapi sejatinya tergantung ulamannya. Masjid Al-Irfan ini dapat memperoleh sumbangan-sumbangan dari pemerintah karena kedekatan Kiai Syamlawi.  

Amalan Utama

Sebagai seorang ulama, KH. Syamlawi memiliki sejumlah wirid. Di antara wirid yang beliau amalkan secara istiqamah adalah Shalawat Nariyah, Surat Yasin, dan Ratib Al-Haddad. Shalawat Nariyah beliau amalkan untuk pribadi dan keluarga. Sedangkan membaca surat Yasin beliau amalkan bersama dengan para jamaah dari masyarakat sekitar

Dari pernikahannya dengan Bu Nyai Hj. Siti Khodijah, KH. Syamlawi mendapatkan 13 orang putera dan puteri. Sebagian besar masih hidup hingga saat ini. Salah satunya adalah Kiai Bahrul Fuad, Ketua Ranting NU Pamegarsari.

KH. Syamlawi wafat pada tahun 2000 saat usia 72 tahun. Meninggalkan keluarga besar, dan murid-murid yang turut serta memajukan dakwah Islam dan Nahdlatul Ulama di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di Parung.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...