Beranda Keislaman Akhlak Boleh Gak Sih Ngobrolin Hubungan Seksual dengan Tetangga

Boleh Gak Sih Ngobrolin Hubungan Seksual dengan Tetangga

Harakah.idKata seks sudah lumrah dimaknai dengan hubungan seksual atau hubungan senggama yang dilakukan oleh manusia. Lalu, bagaimana, boleh gak, ngobrolin hubungan seksual dengan tetangga?

Kata seks sudah lumrah dimaknai dengan hubungan seksual atau hubungan senggama yang dilakukan oleh manusia. Padahal ia memiliki makna sendiri yaitu hasil dari reproduksi seksual, menghasilkan penggabungan dan pencampuran sifat-sifat genetik yang akan diturunkan dari kedua orang tua melalui gamet. Berbeda juga dengan ekspresi ketertarikan erotik seseorang pada orang lainnya, yang disebut seksualitas.

Dalam konteks ajaran Islam, kebutuhan senggama hanya bisa dipenuhi melalui pernikahan. Oleh sebab itu, definisi minimal dari akad pernikahan dalam hukum Islam klasik adalah “Akad yang menghalalkan hubungan senggama.”

Hal ini merupakan tujuan minimal yang hanya diperoleh melalui akad nikah. Karena itu, fikih klasik menyebutkan secara eksplisit. Terlepas dari sudut pandang Islam, ada beragam cara pandang mengenai hubungan seks atau senggama yang dipahami sebagian orang:

Ada yang mengatakan bahwa hubungan seks bukanlah persoalan moral melainkan hanya masalah biologis. Sehingga penggunaan kata-kata dosa dan kebajikan, baik dan buruk untuk menyorotinya dianggap keliru. Sebagai tamsil yang tepat adalah penduduk kota kecil dahulu, Greeley, Colorado di Amerika yang mempertontonkan tubuh-tubuh: otot-otot bagi lelaki, dan perempuan memamerkan aset-aset mereka.

Dan apabila seks hanya dipandang sebagai moral, bukan kebutuhan biologis maka seks di dunia Arab sebagaimana ditamsilkan oleh ginekolog Mesir adalah kebalikan dari olah raga, di mana semua orang berbicara tentang sepak bola, tetapi hampir tidak ada yang memainkannya. Berbeda dengan seks, semua orang melakukannya namun tak seorang pun mau membicarakannya.

Kedua cara pandang tersebut tidaklah sesuai dengan Syariat Islam. Karena Rasululah SAW mengajarkan cara pandang yang berada di antara keduanya yakni dilarang menceritakan keintiman seksual dengan pasangannya kepada orang lain secara publik sebagaimana yang terjadi pada Asma’ binti Yazid Ra, bahwa ada beberapa orang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk (terpisah dengan kelompok masing-masing). Kemudian Nabi SAW bersabda,

لعل رجلا يقول ما يفعل بأهله ولعل امرأة تخبر بما فعلت مع زوجها؟

“Barangkali ada di antara lelaki itu yang menceritakan adegan ranjangnya dengan istrinya, mungkin juga di antara wanita itu ada yang menceritakan rahasia hubungannya dengan suaminya?”

Mereka yang duduk-duduk di situ langsung diam. Lalu aku sampaikan kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, sungguh para wanita dan para lelaki itu melakukan apa yang Anda khawatirkan. Nabi SAW kemudian bersabda”,

فلا تفعلوا فإنما ذلك مثل الشيطان لقي شيطانة في طريق فغشيها والناس ينظرون

“Janganlah kalian lakukan. Karena perbuatan semacam ini seperti setan lelaki yang bertemu setan perempuan di jalan, kemudian dia langsung melakukan hubungan intim, sementara setan lain melihatnya.” (HR. Ibn Abi Syaibah 17560 dan Ahmad 27624).

Ini adalah cara pandang moral. Namun, di sisi lain berdasarkan sudut pandang biologis, pasutri berkeharusan melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang seperti dokter mengenai hubungan seksualnya, demi menjaga keharmonisan rumah tangganya agar tetap langgeng (an-nikah lid dawam).

Artinya, insting seks yang ada pada binatang tentunya berbeda dengan keinginan sensual kita sebagai manusia. Meskipun juga ada sisi kesamaan dalam kebolehan sesekali menuruti nafsu kebinatangannya, melakukan senggama di mana pun ia berhasrat, di dapur atau di punggung unta misalnya (di dalam kitab Musnad Ahmad, hadis no. 16545 dan 24440).

Jadi, sudah sewajarnya, bagi pasangan suami istri berkomunikasi tentang apa yang diinginkan dalam hal seksualitas ataupun senggama secara privasi antara pasutri. Dan jika perlu, kosultasikan dengan ahlinya agar tidak salah memilih otoritas.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...