fbpx
Beranda Keislaman Ibadah Boleh Menjamak Salat Meskipun Perjalanan Tak Sampai 2 Marhalah, Apa Saja Syaratnya?

Boleh Menjamak Salat Meskipun Perjalanan Tak Sampai 2 Marhalah, Apa Saja Syaratnya?

Harakah.idMenjamak salat adalah satu keringanan yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang tengah berada dalam sebuah perjalanan atau sedang berada dalam kesulitan. Tapi ia bisa dilakukan jika memenuhi beberapa persyaratan.

Apa yang akan terjadi saat kita sedang dalam perjalanan tentunya sulit diprediksi. Ada kalanya perjalanan kita diwarnai macet parah yang berkepanjangan, kendaraan mengalami mogok di tengah jalan atau tidak ditemukannya tempat yang memungkinkan kita untuk shalat disana.

Namun, apapun segenting apapun keadaannya, kewajiban seorang muslim untuk menjalankan salat tidak akan hilang kecuali bagi ia yang hilang akalnya, murtad serta wanita yang haid atau nifas sebagaimana yang dipaparkan oleh Syekh Zainuddin Ahmad bin Abdulaziz al-Malibari dalam Fathul Mu’in.

إنما تجب المكتوبة أي الصلوات الخمس على كل مسلم مكلف أي بالغ عاقل ذكر أو غيره طاهر فلا تجب على كافر أصلي وصبي ومجنون ومغمى عليه وسكران بلا تعد لعدم تكليفهم ولا على حائض ونفساء لعدم صحتها منهما ولا قضاء عليهما بل تجب على مرتد ومتعد بسكر.

“Bahwasanya salat fardu diwajibkan bagi semua kaum muslim yang mukallaf, dalam arti baligh dan berakal, baik lelaki maupun perempuan yang dalam keadaan suci. Maka salat tidak wajib dilakukan oleh orang kafir asli, anak-anak, orang gila, ayan, dan mabuk yang tak disengaja, karena hilangnya sifat taklif dari mereka, juga bagi orang yang haid, dan nifas karena mereka berdua tidak sah melaksanakan salat, dan mereka tidak wajib meng-qadla-nya, berbeda dengan orang murtad dan orang yang sengaja mabuk, mereka wajib qadla.”

Meski begitu, dalam rangka tetap menjalani kewajiban beragama, Allah pun memberikan kemudahan-kemudahan bagi hamba-Nya. Dalam hal salat saat melakukan perjalanan, Allah memberikan keringanan berupa salat qashar apabila perjalanan yang ditempuh lebih dari 2 marhalah atau 16 farsakh (48 mil) atau 4 barid atau perjalanan 2 hari.

nucare-qurban

Lalu, yang menjadi masalah adalah bagaimana jika perjalanan yang kita tempuh kurang dari jarak 2 marhalah sedangkan saat itu, kita berada dalam kondisi mendesak sementara azan telah berkumandang dan kurang memungkinkan bagi kita untuk melaksanakan kewajiban salat?

Apabila kita berada dalam kondisi demikian, dibolehkan bagi kita untuk menunda salat ataupun memajukan salat. Atau, bolehkah kita menjamak salat?

وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، وَأَبُو سَعِيدٍ الأَشَجُّ – وَاللَّفْظُ لأَبِي كُرَيْبٍ – قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، كِلاَهُمَا عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ ‏.‏ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَىْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ ‏.‏ وَفِي حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ قِيلَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ قَالَ أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ ‏.‏

Ibn ‘Abbas menyatakan bahwa Rasulullah (ﷺ) menjamak salat zhuhur dengan salat ashar dan shalat maghrib dengan salat isya di Madinah tanpa berada dalam keadaan bahaya atau hujan. Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Waki, ia berkata: “Aku berkata kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang mendorongnya untuk melakukan itu? Dia berkata: Agar umatnya (Nabi) tidak boleh mengalami kesulitan (yang tidak perlu).” Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah: “Dikatakan kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang dia maksudkan dengan demikian? Dia mengatakan dia ingin agar umatnya tidak harus mengalami kesulitan yang tidak perlu. “dengan demikian? Dia mengatakan dia ingin agar umatnya tidak harus mengalami kesulitan yang tidak perlu.” (HR. Muslim nomor 705)

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menyatakan,

ذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ إِلَى جَوَازِ الْجَمْعِ فِيْ الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لاَ يَتَّخِذُهُ عَادَةً وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سِيْرِيْنَ وَأَشْهَبَ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكِ وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنِ الْقَفَّالِ وَالشَّاشِي الْكَبِيْرِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ عَنْ أَبِي إِسْحاَقَ الْمَرْوَزِي عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ وَاخْتَارَهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ

Artinya, “Sejumlah imam berpendapat tentang kebolehan menjamak salat di rumah karena hajat bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Itu adalah pendapat Ibnu Sirin, Asyhab murid Imam Malik. Al-Khaththabi menghikayatkan pendapat ini dari Al-Qaffal, Al-Syasyi Al-Kabir murid As-Syafi’i, dari Abu Ishaq Al-Marwazi dari sekelompok ulama ahli hadis. Pendapat itu dipilih pula oleh Ibnul Mundzir,”

Jika menarik kesimpulan pada keterangan di atas, menjamak salat adalah suatu kebolehan meski tidak sedang melakukan perjalanan sejauh 16 farsakh karena udzur yang mendesak seperti terjebak dalam kereta, macet parah atau lain sebagainya. Hanya saja, tidak menjadikannya sebuah kebiasaan.

Adapaun syarat-syarat dibolehkannya salat jamak dalam perjalanan yang kurang dari jarak tempuh diperbolehkannya salat qashar adalah:

1. Dengan niat di waktu salat yang pertama jika itu jamak taqdim, jika ingin menjamak salat zhuhur dan ashar maka niatkan salat jamak taqdim pada salat zhuhur.

2. Perjalanan sudah keluar dari batas kecamatan.

3. Dihadapkan dengan konsisi atau sebab yang merepotkan, seperti macetnya perjalanan.

4. Tidak dalam perjalanan maksiat.

Jadi itulah penjelasan mengenai syarat-syarat yang membuat seseorang diperbolehkan menjamak salat.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...