Beranda Keislaman Hikmah Bolehkah Beribadah Diniatkan Untuk Mendapatkan Manfaat Atau Hikmahnya?

Bolehkah Beribadah Diniatkan Untuk Mendapatkan Manfaat Atau Hikmahnya?

Harakah.id Beberapa manfaat ibadah memang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran atau hadis-hadis Nabi SAW. Di sini muncul pertanyaan, bolehkah dalam beribadah kita niatkan untuk mendapatkan manfaat suatu ibadah?

Mengetahui manfaat suatu ibadah akan membuat pelakunya lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah tersebut. Hal ini karena, selain melaksanakan perintah Allah untuk beribadah, seseorang dapat memperoleh manfaat dan hikmah lain yang terdapat dalam sebuah peribadatan.

Semisal berpuasa agar sehat, berwudu untuk menjaga kebersihan, shalat malam untuk melancarkan peredaran darah, berzikir atau membaca Al-Quran agar hati tenang. Atau rajin beribadah agar dapat bertemu bidadari di surga, shalat dhuha agar dilancarkan rejekinya, dan lain sebagainya.

Beberapa manfaat ibadah memang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran atau hadis-hadis Nabi SAW. Di sini muncul pertanyaan, bolehkah dalam beribadah kita niatkan untuk mendapatkan manfaat suatu ibadah?

Terkadang manfaat yang terkandung dalam suatu ibadah bersifat duniawi, bolehkah diniatkan demikian? Apakah ibadah yang seperti itu akan mendapatkan pahala? Dan sahkah ibadah yang demikian? Berikut jawaban singkatnya.

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya sebuah amal. Sebagaimana disampaikan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin.

Beliau mengatakan: jika sebuah ibadah yang seharusnya diniati semata-mata karena Allah, terkotori oleh keinginan nafsu atau dorongan untuk riya, maka hukumnya mempertimbangkan faktor mana yang lebih dominan.

Bila motif duniawi lebih dominan dibandingkan niat ukhrawi, maka tidak ada pahala yang didapat. Sebaliknya, jika motif ukhrawi lebih mendominasi, maka ibadah yang dijalankan akan diganjar sesuai kadar niat ukhrawinya. Lain halnya jika antara motif dunia dan akhirat sama kadarnya, maka kedua tujuan itu akan saling menggugurkan. Amal ibadahnya tidak membawa manfaat maupun bahaya bagi pelakunya.

Penjelasan Al-Ghazali memang membuka celah kebolehan melakukan dua niat secara langsung (tasyrik al-niyyati) dalam kasus dimana tujuan dunia masih kalah kadarnya dengan tujuan ibadah murni.

Pendapat yang dikemukakan Al-Ghazali tersebut berbeda dengan pendapat Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam. Sebagaimaan dikutip oleh Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Ibnu Abdis Salam menyatakan pahala suatu ibadah tidak diperoleh jika ada niat duniawi di dalamnya. Baik motif ukhrawi lebih kuat maupun sebaliknya.

Perbedaan pendapat kedua tokoh ini berkisar pada diperoleh tidaknya pahala ibadah yang dikerjakan. Keduanya belum membahas apakah ibadah itu sah atau tidak. Menjawab hal ini, para ulama bersepakat bahwa ibadah yang dilakukan tetap sah.

Dalam kitab Mughni Al-Muhtaj, Imam Al-Syirbini menegaskan; “Seseorang yang niat ibadah dicampur dengan motif lain yang dapat terwujud tanpa membutuhkan niat, semisal niat berwudu sekaligus bertujuan menyegarkan tubuh, pergi haji sekaligus berniat berwisata ke tempat yang jauh atau berdagang, maka hukum ibadahnya adalah sah. Keabsahan ini menurut pendapat yang shahih. Menurut pendapat yang kedua, ibadah yang demikian rawan tidak sah.”

Bila seseorang melupakan atau lalai meniatkan niat asalnya (niyat mu’tabarah), maka ibadah yang dilakukan secara pasti dihukumi tidak sah. Dengan demikian, terjadi kesepakatan di antara dua pendapat ini bahwa manakala niat yang dianggap (muktabarah) dari ibadah itu tidak diketemukan, maka ibadah itu dianggap tidak sah. Semisal seseorang berwudu dengan niat menyegarkan tubuh saja tanpa menyebut niat wudu. Praktek wudu semacam ini jelas dihukumi tidak sah. Find out which celebrities love to bet and play at casinos: https://www.besoccer.com/new/find-out-which-celebrities-love-to-bet-and-play-at-casinos-1171118

Pada dasarnya, penggabungan dua atau lebih motif ibadah memiliki batasan, terutama dalam ibadah mahdhah yang bersifat wajib. Tidak semua ibadah dapat diniatkan dengan dua niat atau lebih. Imam Al-Zarkasyi hanya membatasi lima jenis ibadah yang boleh diniatkan dengan dua niat atau lebih.

Mengutip pernyataan Imam Al-Mar’asyi, Al-Zarkasyi menjelaskan bahwa melakukan dobel niat dalam ibadah fardhu hukum asalnya tidak boleh. Kecuali dalam lima jenis ibadah berikut. Yaitu; ibadah haji wajib bersamaan dengan umrah sunah, berwudu sekaligus menyegarkan diri, niat mandi janabat sekaligus mandi sunah menjelang Jum’at dan niat imam salam kepada makmum sedangkan makmum salam kepada imam.

Artikel ini diambil dari buku Kearifan Syariat karya Forum Kalimasada 2009, Lirboyo.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...