Bolehkah Berkurban dengan Sapi Betina? Ini Hukum dan Dasar Hadisnya

0
95

Harakah.idBerkurban dengan hewan jantan dan betina hukumnya sah berdasarkan kesepakatan ulama.

Berkurban dengan sapi betina. Beberapa hari lalu, saya mendapatkan pertanyaan seperti ini, “Ustadz, saya dan keluarga ini berkurban sapi. Saat kami sedang bermusyawarah, muncul pertanyaan, apakah boleh jika kami berkurban dengan sapi betina? Terima kasih atas jawabannya.”

Setelah saya menelusuri literatur kitab fikih, saya mendapatkan jawaban bahwa sejatinya tidak ada syarat hewan kurban harus berjenis kelamin tertentu. Tidak ada syarat hewan kurban harus jantan atau harus betina.

Syekh Mustafa al-Khin dan Syekh Mustafa Dib al-Bugha dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ala Madzhabi al-Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa ada dua syarat utama hewan kurban. Keduanya meliputi: sudah cukup umur dan tidak ada cacat. Kedua syarat ini berlaku baik untuk kurban berupa unta, sapi ataupun kambing. Dari syarat ini, dapat diketahui bahwa tidak ada syarat jenis kelamin tertentu.

Dalam keterangan lain, disebutkan bahwa Imam an-Nawawi pernah menegaskan keabsahan berkurban dengan hewan berjenis betina. Beliau menulis,

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى بِالْإِجْمَاعِ وَفِي الْأَفْضَلِ مِنْهُمَا خِلَافٌ (الصَّحِيحُ) الَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْبُوَيْطِيِّ وَبِهِ قَطَعَ كَثِيرُونَ أَنَّ الذَّكَرَ أَفْضَلُ مِنْ الْأُنْثَى وَلِلشَّافِعِيِّ نَصٌّ آخَرُ أَنَّ الْأُنْثَى أَفْضَلُ

Berkurban dengan hewan jantan dan betina hukumnya sah berdasarkan kesepakatan ulama. Dalam soal mana yang lebih utama, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang sahih, yang dijelaskan oleh Imam al-Syafi’i dalam kitab al-Buwaithi, dan banyak ulama memastikan kebenaran riwayat ini, bahwa hewan jantan lebih utama dibanding hewan betina. Imam al-Syafi’i memiliki tulisan lain yang menyebut bahwa betina lebih utama. (Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, jilid 8, hlm. 397).

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama hanya berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama; berkurban dengan hewan jantan atau hewan betina.

Imam al-Syirazi dalam al-Muhadzab menyebutkan dasar keabsahan berkurban dengan hewan jantan dan betina, yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Hibban.

 ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قال (على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا) وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب)

Dan boleh berkurban dengan hewan jantan dan betina. Karena, Ummu Kurzin telah meriwayatkan dari Nabi SAW yang bersabda, “Atas seorang anak laki-laki, aqiqahkan dengan dua ekor kambing. Atas seorang anak perempuan, aqiqahkan dengan seekor kambing. Tidak masalah apakah hewan aqiqah itu jantan atau betina.” Ketika dibolehkan aqiqah dengan jantan atau betina, dengan dasar hadis ini, maka ini menunjukkan bahwa boleh pula berkurban dengan keduanya, karena daging hewan jantan lebih enak. Daging hewan betina lebih lembut. (Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, jilid 8, hlm. 393).

Sekalipun boleh berkurban dengan sapi betina, namun jika pemerintah mengeluarkan larangan penyembelihan sapi betina produktif, maka ada ketentuan lain. Yaitu mengikuti ketentuan pemerintah sebagai bentuk ketaatan kepada ulil amri.

Demikian penjelasan singkat tentang hukum berkurban dengan sapi betina. Semoga penjelasan ini bermanfaat (M. Khoirul Huda).