Beranda Keislaman Muamalah Bolehkah Membeli Rumah dan Kendaraan dengan Sistem Kredit?

Bolehkah Membeli Rumah dan Kendaraan dengan Sistem Kredit?

Harakah.id – Banyak orang memilih sistem kredit untuk bisa mendapatkan motor, mobil bahkan memiliki rumah impian. Namun bagaimana status skema transaksi tersebut di dalam fikih? Bolehkah?

Hari ini, mengambil cicilan rumah, kredit motor dan barang lainnya seakan-akan menjadi cara yang paling rasional untuk segera memiliki barang impian. Tanpa mencicil, sepertinya agak susah mengumpulkan uang dan membeli barang secara kontan dengan kenyataan bahwa kebutuhan dan harga selalu naik setiap saat. Lalu bagaimana hukumnya praktek kredit dan mencicil rumah atau kendaraan?

Prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan dalam seluruh transaksi kredit agar halal adalah; 1) harga barang harus jelas ditentukan di awal, 2) besaran nominal dan waktu kredit ditentukan di awal oleh kedua belah pihak beserta ketentuan porsi kepemilikan terhadap aset yang dikredit dan 3) harga pokok semakin kecil seiring dengan angsuran kredit yang dilakukan.

Jadi setiap barang yang hendak dicicil harus menentukan harga di awal. Dan jika pembayaran menggunakan DP (Down Payment) atau subsidi dari pemerintah, maka itu harus termasuk dalam angsuran kredit terhadap aset. Jadi kalau rumah kredit seharga 500 juta telah di DP atau mendapatkan subsidi 50 juta, maka sisa kredit yang harus dibayar adalah 450 juta.

Akad ini dinamakan musyarakah mutanaqishah bi nihaayatit tamlik. Namun jika kredit dilakukan dengan DP 0%, akadnya termasuk bai’ murabahah. Masa dan nominal kredit juga bisa diatur. Ada yang mengatur kredit berdasarkan waktu dan nominal. Seperti contoh rumah, dicicil 3 juta perbulan selama 10 tahun. Praktek semacam ini dinamakan bai’ taqshith, bai’ muajjalan atau bai’ bi al-tsamani al-ajil.

Imam Nawawi misalnya, mengatakan kalau model transaksi kredit, cicilan atau bit taqsith diperbolehkan. Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam Raudlatut Thalibin, Juz 3, hal 397;

أما لو قال بعتك بألف نقداً وبألفين نسيئة… فيصح العقد

“Andai ada seorang penjual berkata kepada seorang pembeli: “Aku jual padamu (suatu barang); bila kontan harganya 1.000 dirham, tapi jika kredit harganya 2.000 dirham. Akad jual beli seperti ini adalah sah.”

Masing-masing akad, hukumnya boleh dilakukan, karena masuk kategori akad tabarru’ dan ta’awun (sosial). Kesimpulannya, jual beli secara kredit diperbolehkan dalam syariat dengan syarat harga ditentukan di awal dan kewajiban kredit berangsur selesai selama masa angsuran.

Pembelian KPR dan kendaraan bermotor dengan sistem kredit, tidak mengandung unsur riba manakala mengikuti akad musyarakah muntahiyah bit tamlik atau bai’ murabahah. Bila praktek jual beli tersebut disertai adanya DP (Down Payment) sementara besaran angsurannya tetap (fixed) selama berlangsungnya masa cicilan kredit atau angsuran, maka hal ini termasuk riba karena akad musyarakah mutanaqishah mensyaratkan turunnya harga sewa seiring masa angsuran/penebusan kredit. Namun jika DP dan angsuran kredit memperkecil biaya pokok, maka hal itu diperbolehkan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...