Bolehkah Membuat Quote atau Meme Tokoh Tanpa Sepengetahuannya? Ini Penjelasannya

0
71
Bolehkah Membuat Quote atau Meme Tokoh Tanpa Sepengetahuannya? Ini Penjelasannya

Harakah.idMeme tokoh atau quote tokoh mungkin sering sekali kita temui di media-media sosial. Bagaimana hukum membuat meme dengan menggunakan tokoh nyata dan tanpa sepengetahuannya?

Fenomena meme (gambar yang disertai tulisan humor, parodi, menyindir, kritik atau kecaman) semakin berkembang massif dan tidak terhentikan mengikuti peristiwa-peristiwa baru yang memang menarik untuk di-meme-kan. Mulai dari tokoh politik, tokoh agama, artis, dan lainnya. Tak jarang, sebagian tokoh nasional pun ikut menjadi korban dengan mencantumkan kata-kata yang sebenarnya tidak pernah diucapkan. Sekalipun dalam meme tidak disebutkan identitas asli, namun apakah tidak dianggap perlu mempertimbangkan perasaan tokoh yang dimemekan, andai dirinya tahu kalau ternyata dirinya dimemekan.

Hukum membuat meme tokoh dengan menggunakan tokoh nyata dan tanpa sepengetahuannya adalah tidak diperbolehkan kecuali memenuhi ketentuan berikut:

  1. Ada kerelaan dari tokoh yang disebarkan memenya.
  2. Kontennya tidak mengandung hal-hal yang diharamkan seperti menggunjing, adu domba, kebohongan, menghina orang lain, mengungkap keburukan orang lain dan lainnya.
  3. Tidak menimbulkan keresahan di masyarakat (fitnah).
  4. Tidak terdapat tujuan yang diharamkan seperti digunakan untuk pembenaran kepada kelompok yang batil.

Keempat ketentuan di atas didasarkan kepada salah satunya Qs. Al-Hujurat: 10-11. Allah swt berfirman,

.إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Qs. Al-Hujurat: 10-11)

Dalam ayat di atas disebutkan kata-kata “Jangan mencela dirimu sendiri”. Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin. Hal ini karena orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Sedangkan maksud “panggilan yang buruk” ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti “Hai fasik”, “Hai kafir” dan sebagainya.

Qs. Al-Hujurat 10-11 berbicara tentang umat Islam yang sedang saling bermusuhan. Allah memerintahkan agar diperbaiki hubungan mereka yang sedang bertengkar. Bukan berpihak kepada salah satu pihak. Selain memerintahkan agar dilakukan islah atau perbaikan hubungan, Allah juga melarang umat Islam melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan permusuhan seperti saling mengejek, menghina, dan merendahkan. Ejekan, hinaan, dan merendahkan orang lain dapat menyakiti perasaan pihak yang diejek. Orang yang menjadi bahan ejekan tentu tidak rela dirinya diejek dan dihina.

Ada banyak cara mengejek orang lain seperti menggunjingnya di belakang dengan menyebutkan keburukan-keburukannya, mengadu dombanya dengan orang lain, menggunakan informasi palsu untuk mengejek orang lain dan menggunakan panggilan-panggilan yang tidak disukai oleh saudara seagamanya. Ketika suatu hinaan ditujukan kepada kelompok masyarakat luas, maka hal itu dapat menciptakan keresahan di kalangan umat. Ini jauh lebih berbahaya dibanding yang sifatnya individu.

Pelajaran berharga Qs. Al-Hujurat adalah tentang pentingnya menjaga perasaan orang lain agar tidak menimbulkan rasa permusuhan di antara sesama umat. Karena, dalam memproduksi meme tokoh hendaknya senantiasanya mengedepankan konten positif seperti nilai-nilai kebajikan, kerukunan, inspirasi dan segala yang bersifat positif.