Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal Dengan Qadha Puasa Ramadhan?

0
333
Sufi-Sufi Perempuan di Indonesia, Mengenal Para Perempuan yang Berhasil Wushul dan Tiba Pada Hakikat Ketuhanan

Harakah.idPada prinsipnya, para ulama mazhab Syafi’i membolehkan adanya dua niat dalam satu praktek puasa.

Di antara puasa yang disunnahkan dalam Islam adalah berpuasa enam hari pada bulan Syawal. Bulan Syawal merupakan bulan setelah bulan Ramadhan.

Bagaimana jika ada orang yang pernah tertinggal puasa Ramadhan karena berbagai sebab kemudian mengqadhanya pada bulan Syawal, apakah boleh jika diniatkan untuk dua puasa sekaligus? Jika diniatkan apakah fadhilah puasa syawal bisa didapat? Dan bagaimana praktek yang dianjurkan dalam masalah ini? Berikut ulasannya.

Pada prinsipnya, para ulama mazhab Syafi’i membolehkan adanya dua niat dalam satu praktek puasa. Apabila seseorang melakukan puasa fardhu seperti qadha puasa Ramadhan atau puasa kafarah bertepatan dengan momen kesunnahan puasa yang lain seperti puasa senin kamis atau puasa di bulan Syawal, maka ia dapat melakukan dua niat sekaligus.

Syaikh Abu Bakr Syatha dalam Hasyiyah I’anah Al-Thalibin (2/252) menjelaskan:

وفي الكردي ما نصه: في الأسنى – ونحوه الخطيب الشربيني والجمال الرملي – الصوم في الأيام المتأكد صومها منصرف إليها، بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ: زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا، نواه معه أو لا

Artinya: terdapat keterangan dalam Al-Kurdi dengan mengutip penjelasan dalam Asna Al-Mathalib –sesuai seperti penjelasan Al-Khatib Al-Syirbuni dan Ar-Ramli- bahwasanya puasa yang bertepatan dengan hari-hari dimana dianjurkan puasa di dalamnya maka puasa tersebut juga diarahkan pada anjuran tersebut.

Sebagaimana jika puasa tersebut juga diniatkan sebagai puasa yang lain maka niat tersebut juga tercapai. Dalam kitab Al-I’ab terdapat tambahan –sebagaimana difatwakan oleh Al-Barizi- bahwasanya jika pada hari disunnahkan puasa seseorang melakukan puasa qadha atau semacamnya, maka dua fadhilah tersebut baik puasa qadha maupun puasa sunat sama-sama tercapai. Hal ini berlaku apakah puasa sunat itu diniatkan atau tidak.

Berdasarkan penjelasan di atas, jika kita melakukan puasa fardhu seperti qadha puasa Ramadhan pada momen puasa sunat seperti bulan Syawal, maka kita akan memperoleh dua keutamaan sekaligus. Puasa qadha ramadhan dianggap sah sekaligus memperoleh keutamaan puasa syawal. Keutamaan ini diperoleh baik diniatkan atau tidak.

Al-Hafizh As-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair (halaman 22), dalam masalah penggabungan niat menjelaskan:

صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة، وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة؛ فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا، قَالَ: وَكَذَا إنْ أَطْلَقَ، فَأَلْحَقَهُ بِمَسْأَلَةِ التَّحِيَّةِ

Artinya: jika seseorang melakukan puasa hari arafah –misalnya- dengan biat puasa qadha, nazar atau kafarah. Kemudian berbarengan dengan niat salah satu puasa tersebut ia juga berniat puasa arafah, maka Al-Barizi berfatwa hukumnya sah. Dan kedua niat tersebut sama-sama tercapai. Sama hukumnya seandainya puasa arafah tidak diniatkan, fadhilah puasa arafah tetap diperoleh. Masalah ini dihukumi dengan dibandingkan pada masalah shalat tahiyat masjid.

Dalam masalah shalat tahiyat masjid, seandainya seseorang masuk ke dalam masjid kemudian melakukan shalat yang lain seperti shalat fardhu dan sebagainya, maka ia juga memperoleh fadhilah shalat tahiyat masjid sekaligus, sekalipun tidak diniatkan.

Melakukan puasa fardhu pada hari dimana mengandung momen puasa sunat seperti bulan syawal, maka fadhilah puasa sunat tersebut tetap diperoleh sebagaimana melakukan shalat lain pada saat masuk ke dalam masjid.

Prinsip umum yang perlu dipahami dalam masalah ini adalah boleh hukumnya menggantungkan niat puasa sunat dibawah puasa fardhu ketika momennya bertepatan, akan tetapi tidak boleh melakukan sebaliknya yaitu menggantungkan niat puasa fardhu dibawah puasa sunat.

Meski hukumnya diperbolehkan, praktek yang lebih baik dan sempurna adalah dengan melakukan qadha puasa ramadhan dahulu sampai selesai baru kemudian berpuasa sunat syawal secara terpisah.