Beranda Khazanah Bom Makassar, Bukti Ideologi Terorisme Tak Pernah Padam

Bom Makassar, Bukti Ideologi Terorisme Tak Pernah Padam

Harakah.idBom Makassar, bukti ideologi terorisme tak pernah padam.

Sebuah ledakan yang diduga bom bunuh diri mengguncang Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/03/2021). Titik ledakan berada di pintu gerbang sebuah Katedral. Pelaku, sekuriti dan beberapa jemaat tewas dalam serangan ini. Beberapa korban lainnya terluka dan dirawat di rumah sakit.

Serangan bom di Makassar kali ini adalah yang pertama pada tahun 2021 ini di Indonesia. Dari tahun ke tahun, memang terjadi penurunan serangan sejak kekalahan ISIS di Timur Tengah dan Filipina Selatan. Tetapi, bukan berarti kelompok dengan ideologi Negara Islam yang berhaluan keras mati. Mereka hanya tiarap untuk selanjutnya bangkit kembali dan menunggu momentum yang tepat. Bagi Indonesia, problem ini telah terjadi sejak Indonesia merdeka 70-an tahun lalu.

Dalam jangka waktu 70 tahun, ketika serangan-serangan itu terus bermunculan, ini menandakan bahwa ideologi terorisme tak pernah padam. Sekalipun pemimpinnya dieksekusi mati, terbunuh ataupun dipenjarakan. Ideologi hidup, menyebar dan menguat dalam individu maupun kelompok. Ideologi didokumentasikan dalam catatan, pesan, lisan, ditransmisikan ke individu dan kelompok lain. Bergerak di bawah tanah, terkadang menyembul ke permukaan, tampil di media sosial, dan tiarap lagi.

Berbicara ideologi, ini adalah soal ide cerita yang akan dijalani. Ide adalah gagasan. Gagasan adalah inspirasi. Ia ada dalam ruang imajinasi manusia. Bisa jadi, seorang individu memiliki gagasan tersebut. Individu tersebut dapat saja tewas. Tetapi, ide dan gagasannya, yang memiliki daya tarik tertentu, dapat dengan cepat berpindah kepada individu yang lain. Karena ide dan penyebarannya bekerja dari satu otak ke otak yang lain, satu pikiran ke pikiran yang lain, maka akan sangat sulit mengejar perjalanan ide-ide ini.

Karenanya, menangani masalah terorisme, yang seringkali diasumsikan didasarkan pada ide radikalisme dan ekstremisme, akan sangat sulit mengingat yang disasar adalah isi kepala. Sedangkan kita tak pernah tahu isi kepala setiap orang.

Yang lebih sulit lagi adalah mengidentifikasi ideologi seperti apa yang menjadi karakteristik ideologi terorisme. Pembuktian-pembuktiannya akan jauh lebih sulit karena akan cenderung subyektif. Kita mungkin hanya akan dapat mengidentifikasi kelompok-kelompok besarnya saja; misalnya DI/TII, Komando Jihad, NII, JI, MMI, JAT, JAD, Al-Qaeda, ISIS dan lainnya. Tetapi, akan lebih sulit jika kita bergerak ke ranah individu.

Karena kita hanya bisa mengidentifikasi kelompok-kelompok besar pengusung ideologi, maka untuk meminimalisir salah satu strateginya adalah mengekseklusinya. Menjelaskan bahwa ideologi kelompok-kelompok di atas berbeda dengan mayoritas umat Islam, cenderung berbahaya dan patut dijauhi. Dalam komunikasi publik, agaknya perlu dirumuskan strategi komunikasi yang dapat menjelaskan tanpa pengaburan masalah. Hal ini karena, dalam beberapa respon yang muncul, baik dari pemerintah maupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) justru gaya komunikasinya adalah cenderung mengaburkan masalah dengan mengatakan “terorisme tak punya agama”, “Tak terkait dengan agama”, dan narasi sejenisnya. Ini sama sekali tidak memberikan pendidikan dan kesadaran pada publik, hatta publik yang punya literasi kuat.

Bom Makassar, sekali lagi, adalah bukti bahwa ideologi terorisme tak pernah padam. Karena itu, harus selalu ada yang menaruh perhatian terhadap perkembangan terorisme, radikalisme dan ekstremisme, lalu memberikan narasi berbeda yang lebih komprehensif dan meyakinkan. Ungkapan-ungkapan ketidaksetujuan harus terus digaungkan. Baik oleh individu, masyarakat maupun pemerintah. Bom Makassar, bukti ideologi terorisme tak pernah padam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...