Bubur Suro, Kuliner Khas yang Hanya Ada di Bulan Muharram

0
489

Popularitas Hari Asyuro sebagai hari yang istimewa tidak hanya bisa kita lihat dari anjuran-anjuran ibadah yang terdapat di dalamnya. Seperti berpuasa, melakukan shalat sunnah, membaca Surah al Ikhlas 1000x, dan amalan lainnya. Di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia, Hari Asyuro juga memiliki tempat yang spesial. Banyak sekali adat, kebiasaan dan tradisi yang diselenggerakan untuk menyambut dan merayakan kehadiran hari penting tersebut.

Bahkan, dari saking populernya, nama Asyuro dalam banyak kasus merupakan nama yang mewakili Bulan Muharram. Masyarakat lebih mengenal Bulan Suro, Suroan atau Sorah (red: Madura), dibandingkan nama Muharram. Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara, Suro artinya ya bulan pertama dalam penanggalan tahun hijriyah. Ia mewakili keseluruhan hari dalam bulan Muharram.

Berbagai macam adat, tradisi dan kebiasaan yang dilakukan masyarakat ketika Bulan Suro bisa saja berupa kirab, mengeliling desa sambil membawa obor dan lain-lainnya. Namun ada juga tradisi kuliner yang sangat khas, bahkan menjadi simbol tersendiri bagi kehadiran Bulan Suro. Di bulan-bulan lainnya, agak mustahil menemukan kuliner yang satu ini. Yaitu Bubur Suro.

 

Baca Juga: 12 Amalan di Hari Asyuro

 

Bubur Suro memiliki banyak nama. Masyarakat Jawa menyebutnya Bubur Suran, Jenang Suro atau Jenang Suran. Masyarakat di daerah Tapal Kuda atau di Madura menyebutnya Tajin Sorah. Sejatinya seluruh penamaan tersebut memiliki arah makna yang sama; yaitu kuliner bubur yang hanya dibuat di Bulan Suro atau Muharram.

Kalau diperhatikan, tradisi Bubur Suro bisa hampir dipastikan ada di berbagai daerah di Indonesia. Di Banyuwangi, Bondowoso, Madura, Solo, Garut sampai Palembang. Selain kirab dan tradisi gunungan, membuat Bubur Suro adalah tradisi umum yang dilakukan masyarakat Nusantara dalam menyambut dan merayakan kedatangan Bulan Suro.

Bubur Suro sendiri, sekilas, sama dengan bubur-bubur pada biasanya. Dibuat dari beras yang biasanya dimasak dengan santan. Dalam penyajiannya, aneka lauk yang disertakan bisa beragam. Biasanya yang dijadikan lauk pelengkap adalah ayam goring, telur dadar gulung, orek tempe dan sambal. Kecuali di Garut. Berbeda dengan Bubur Suro di daerah lainnya, di daerah ini Bubur Suro berwarna Merah dan Putih.

Di daerah Tapal Kuda seperti Bondowoso, setiap keluarga membuat Tajin Sorah dengan jumlah porsi yang cukup banyak untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Begitu juga dengan yang lain. Ada tradisi saling mengantar dan menukar Bubur Suro, yang merupakan simbol saling peduli dan kerukunan dalam hidup bermasyarakat.