Bukan Sekedar Cokelat dan Bunga, Valentine Harusnya Jadi Momentum Menghargai Eksistensi Perempuan

0
20
Bukan Sekedar Cokelat dan Bunga, Valentine Harusnya Jadi Momentum Menghargai Eksistensi Perempuan

Harakah.idEksistensi perempuan hari ini, secara sosial, memang sudah tidak separah seperti di zaman Jahiliyah. Tapi ada pekerjaan besar yang masih harus dilakukan. Salah satunya adalah soal menghargai kembali peran dan eksistensi perempuan, yang notabene menjadi kunci masalah dalam setiap tindak kekerasan.

Valentine di tanggal 14 Februari menjadi momentum untuk merayakan kasih sayang bagi sebagian besar orang. Beragam benda yang lazim sekali dijual dan ditemui di pusat perbelanjaan seperti buket, cokelat, tangkaian mawar, hingga balon berbentuk jantung. Tentu untuk mereka yang memiliki pasangan, saling bertukar kado menjadi suatu hal yang penting di hari tersebut.

Saya tidak ingin membahas sejarah bagaimana awal mula Hari Valentine itu sendiri. Bagi saya, Valentine sama halnya dengan perayaan ulang tahun atau peringatan lainnya yang berulang sebab adanya tradisi.

Melihat euforia manusia dalam menyambut dan merayakan hari kasih sayang membuat saya kemudian bertanya-tanya. Sudahkah kita benar-benar mengasihi satu sama lain? Adakah kebencian dan kekerasan itu telah tanggal dari diri? Apakah kita sudah benar-benar menghargai kedudukan setiap orang, termasuk eksistensi perempuan?

Berdasarkan sumber dari Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun 2016, menyatakan bahwa 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan dan selain pasangan selama hidupnya. Dikemukakan pula bahwa 1 dari 10 perempuan mengalami kekerasan tersebut dalam 12 bulan terakhir.

Langgengnya budaya kekerasan sampai hari ini ─ terutama terhadap perempuan ─ merupakan bukti degradasi kualitas moral. Betapa tidak sulit menemukan berbagai kasus kekerasan, baik yang diwartakan oleh media maupun kabar dari mulut ke mulut. Kemampuan untuk mengasihi sesama seolah bukan lagi hal yang utama dan karenanya mudah saja diabaikan. Dunia semakin maju, namun laju kekerasan tak kunjung menurun bahkan kian meningkat.

Bukan hanya orang dewasa atau perempuan yang mengalami kekerasan. Menurut laporan Global Report 2017: Ending Violence in Childhood, ada 73,7% anak-anak di Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan (violent discipline) di rumah. Akibat yang timbul dari perlakuan ini sesuai laporan yang disusun oleh The United Nations Children’s Fund (UNICEF) adalah risiko kesehatan fisik, kesehatan mental, keluaran kekerasan, serta dampak terhadap pendidikan dan ketenagakerjaan. 

Data di atas menunjukkan bahwa anak yang semasa kecilnya memiliki pengalaman terkena paparan kekerasan, sangat berisiko akan kesehatan mental dan berpeluang sebagai pelaku kekerasan. Kebiasaan buruk yang dilakukan oleh orang tua sangat memengaruhi kondisi psikis sang anak yang sedang bertumbuh. Oleh karena itu, kekerasan menjadi semacam warisan yang diturunkan orang tua kepada generasi penerusnya.

Begitu marak kekerasan di sekitar kita. Padahal kasih sayang sebagai lawan dari kekerasan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia yang mesti dipenuhi. Abraham Maslow yang memperkenalkan hierarki kebutuhan dalam makalahnya, “A Theory of Human Motivation”, menempatkan kasih sayang berada pada tingkat ketiga setelah rasa aman. Terdapat lima tingkat kebutuhan dasar, yakni: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan yang paling tinggi, kebutuhan akan aktualisasi diri.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” Hadis ini adalah anjuran untuk menumbuhkan kesadaran pada prinsip kasih sayang. Tepatnya, penegasan mengenai sifat timbal-balik menyangkut kasih sayang. Teks hadis ini menegaskan bahwa Islam mengandung kasih sayang sebagai ajaran pokok mengenai relasi sosial dan kemanusiaan.

Ketika hadis tersebut dibawa dalam konteks relasi keseharian, baik itu laki-laki maupun perempuan, berhak mendapatkan kasih sayang. Pada saat yang sama, keduanya memiliki kewajiban untuk menciptakannya. Maka sungguh keliru apabila selama ini hanya perempuan yang dianggap wajib mendatangkan kasih sayang untuk laki-laki. Sementara sebaliknya, laki-laki tidak berkewajiban untuk mengasihi perempuan.

Di kehidupan sosial di luar rumah tangga yang lebih luas, manfaat yang diusung oleh hadis berkasih sayang di atas juga berlaku. Setiap orang dari semua kalangan; tua, muda, non-difabel, penyandang disabilitas, muslim, pemeluk agama selain Islam, dan sebagainya, masing-masing wajib dan berhak atas kasih sayang. Keberagaman akan terasa indah jika potensi kasih sayang dapat kita bagi untuk sesama.

Terlepas dari semua pro dan kontra, Hari Valentine seterusnya akan diperingati sebagai hari raya kasih sayang. Melibatkan diri untuk memeriahkannya adalah pilihan. Memberi rasa aman, berkasih sayang dan menghargai sesama manusia merupakan kewajiban.