Beranda Headline Bukan Soal Akidah, Moderasi Beragama Adalah Sikap Toleransi di Tataran Sosial-Kemasyarakatan

Bukan Soal Akidah, Moderasi Beragama Adalah Sikap Toleransi di Tataran Sosial-Kemasyarakatan

Harakah.idModerasi dan toleransi beragama adalah nilai yang mungkin harus terus dikampanyekan. Siapa di antara kita yang tidak ingin hidup damai dan saling toleran?

Indonesia merupakan Negara multikultural yang memiliki suku, ras, budaya, bahasa dan agama yang berbeda-beda. Hal ini yang menjadi keindahan dan juga kelebihan bagi Negara Indonesia. Namun, selain menjadi kelebihan ternyata keberagaman tersebut juga dapat menjadi kekurangan bagi bangsa Indonesia jika tidak menerapkan sikap saling menghargai antar keberagaman yang ada. Oleh sebab itu, penerapan makna toleransi beragama menjadi sangatlah penting agar terciptanya kerukunan dan kedamaian antar suku, ras, budaya, dan agama yang ada. 

Mengutip Toleransi menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berarti “sikap dan sifat dalam menanggapi berbagai perbedaan yang ada dengan cara menghargai, membiarkan, memperbolehkan, pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kebiasaan, dan kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”. Pengertian toleransi menurut KBBI selaras dengan pengertian kata serapan yang disampaikan wahidin dalam bukunya yang bersumber dari Oxford university tolerance yang berasal dari bahasa Inggris “The willingness to accept or tolerate, especially opinion or behavior that you may not agree with, or people who are not like you”. Berdasarkan dua definisi yang telah disebutkan dapat diartikan bahwa toleransi merupakan sikap saling menghargai antar keberagaman, baik dari segi ras, budaya, bahasa, ataupun agama. 

Toleransi yang saat ini cukup ramai dibicarakan ialah toleransi dalam aspek beragama. Sebab terjadinya beberapa konflik antar umat beragama dianggap menimbulkan kericuhan dan ketidaknyamanan dalam bermasyarakat. Hal ini pernah terjadi pula pada tanggal 19 januari 1999 yaitu konflik kerusuhan di Ambon antara dua agama Kristen dan islam. Meskipun motif pada mulanya ialah pertentangan antar suku namun beralih pada agama. Tidak hanya konflik yang telah disebutkan tersebut, tanpa kita sadari konflik-konflik tersebut juga terjadi dalam lingkungan kita walaupun terlihat lumrah terjadi.

Untuk menangani konflik-konflik tersebut beberapa tokoh islam dan para ulama menawarkan solusi agar perbedaan agama tetap terjaga kerukunannya. Salah satu caranya dilansir dari Jakarta, Gatra.com bahwa  Menteri agama RI periode 2019-2020 lalu yaitu Fachrul Razi meminta semua aparatur kementerian agama (Kemenag) untuk menjadi agen moderasi beragama. Moderasi beragama dianggap sebagai jalan tengah di tengah keberagaman  agama di Indonesia. Lantas apakah yang dimaksud dari moderasi beragama dan penerapannya dalam lingkup toleransi beragama dalam islam? Mari simaklah penjelasan berikut.

Moderasi beragama berasal dari dua kata yaitu moderat dan agama. Moderat dapat diartikan sebagai sikap tengah, tidak ekstrem kanan dan juga tidak ekstrem kiri. Sikap ini juga dapat dianggap sebagai sikap yang menganggap semua agama yang ada adalah benar jika dikaitkan degan keagamaan. Terdapat dua perspektif terkait pengertian moderat. Moderat dalam perspektif tokoh-tokoh barat ialah seseorang yang bisa menerima paham-paham humanism, demokrasi, feminism, pluralism, dan semacamnya. Dapat diartikan  secara global yang dimaksud barat tidak hanya membahas seputar agama saja namun terhadap persamaan gender dan juga hak kebebasan seseorang.

Sedangkan dalam perspektif Islam moderat tidak hanya sebuah kata, melainkan sesuatu yang melekat pada islam itu sendiri. Seperti yang dikatakan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud yang dikuatkan pendapat Prof. Badoi Abdelmajid yang merupakan seorang guru besar peradaban Arab Islam pada Higher Training School  pada makalahnya yang secara khusus mengkaji Islam dan moderasi itu ia menegaskan bahwa moderasi adalah esensi Islam itu sendiri.

Dalam perspektif islam sikap tengah memiliki kata tersendiri yang disebut dengan sikap washatiyah. Menurut buku Misykat karya Prof. Hamid Fahmi Zarkasy Islam memiliki terminology tersendiri tentang sikap wasathiyah atau yang disebut dengan sikap tawassut. Maknanya berbeda dengan moderat dalam perspektif barat.  Istilah ini terdapat dalam Q.S Al baqarah ayat 143 yaitu kata “wasatan” rujukannya adalah umat (ummatan wasatan) yaitu umat Islam pengikut agama yang mengambil jalan tengah atau penganut prinsip moderat.

Yang dimaksud ialah dengan menjadi umat beragama namun tidak meninggalkan urusan dunia dan tetap berhubungan sosial dengan manusia lain tapi tidak meninggalkan agama sebagai ikatannya. At-Thabari juga berpendapat bahwa umat Islam yang wasathiyah adalah “Umat Islam adalah umat moderat, karena mereka berada pada posisi tengah dalam semua agama. Mereka bukanlah kelompok yang ekstrem dan berlebihan seperti sikap ekstremnya nashrani dengan ajaran kerahibannya yang menolak dunia dan kodratnya sebagai manusia”. 

Toleransi dalam islam merupakan sikap menghargai keberagaman agama tanpa mencampur adukkan antara sikap menghargai dengan kaidah atau teologi yang dimiliki oleh seorang muslim. Pertama, Islam meyakini bahwa kebenaran mutlak berasal dari tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui rasul yang menerima wahyu (Nabi Muhammad). Kedua, sebagai pedoman hidup, Islam tidak hanya mengatur hubungan pribadi dengan tuhan (Allah) saja, tapi juga antar umat manusia bahkan dikatakan sebagian besar ajarannya berhubungan dengan sosial. Konsep toleransi dalam islam yang telah disebutkan sebelumnya dikenal dengan sebutan tasamuh.

Tasamuh atau samahah dalam bahasa arab memiliki banyak makna, dalam kamus Oxford Study Dictionary tasamuh berarti ramah atau murah hati. Maksud dari ramah atau murah hati ialah bersikap ramah dengan cara memudahkan, memberi kemurahan, dan keluasan. Walaupun kata tasamuh juga dapat diartikan secara bebas dalam mengartikan kebenaran pada suatu agama, tapi dalam islam kebebasan tersebut tetap tidak boleh bertentangan dengan kepercayaan kita yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. 

Beberapa permasalahan yang masih sering terjadi terkait toleransi beragama ialah terhadap aqidah (keyakinan), ibadah (ritual agama), hubungan sosial, dan jihad (perang). Pertama, keyakinan dalam islam adalah hal yang pokok dalam agama Islam. Dalam perspektif islam keyakinan merupakan sesuatu yang harus dipertahankan individu bukan sosial. Wujud tasamuh dalam hal aqidah adalah islam meyakini pluralitas tapi tidak dengan pluralism yang berarti islam meyakini keberadaan agama-agama lainnya namun tidak secara teologisnya.

Ini berarti bahwa aqidah tidak bisa dicampur adukkan sebab akan menimbulkan percampuran antara aqidah dengan syirik. Kedua, Ibadah atau ritual agama pada setiap agama tentu berbeda-beda baik dari segi tata cara, tempat ataupun waktunya. Oleh sebab itu sebagai umat beragama kita harus memahami keberagaman tersebut. Bentuk penghormatan atau tasamuh dalam beribadah adalah dengan tidak terlibat didalamnya, karena menghargai bukan berarti kita harus menjadi bagian dalam ibadah atau ritual tersebut. Tidak diperbolehkannya mengikuti ibadah agama lain bagi seorang muslim adalah bentuk batasan untuk menguatkan aqidah yang ada pada dirinya. 

Kemudian, tasamuh terhadap hubungan sosial. Kehidupan sosial tidak bisa dipisahkan dengan agama dalam islam. Islam memberikan penekanan pada umatnya untuk berbuat baik,menyebarkan kasih sayang, saling membantu, dan berbuat adil. Tidak hanya sesama muslim tetapi juga non-muslim. Batasan tolong-menolong dalam islam dipertegas oleh Qur’an surah Al-Maidah ayat 2 yang berarti “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”. Hal ini menjelaskan bahwa tasamuh dalam kehidupan sosial adalah dalam kebaikan bukan dalam hal keburukan. 

Terakhir ialah tasamuh dalam jihad yang sering kali orang salah artikan bahwa jihad hanya sebatas perang atau bahkan yang paling parah jihad dalam islam disebut sebagai gerakan terorisme. Padahal dalam islam yang dimaksud jihad ialah berjuang dan bukan hanya berarti perang. Jihad juga bisa menuntut ilmu, dan ibadah haji (termasuk perempuan). Penyebutan jihad juga tidak sendiri tetapi ada kata fisabilillah dibelakangnya yang berarti di jalan Allah. Jihad dalam perang pun tidak hanya sebatas perang tapi harus berdasarkan alasan yang jelas. Dengan demikian pengkaitan antara kata terorisme dengan Islam merupakan pilihan yang tidak tepat. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan empat permasalahan terkait toleransi yang kerap terjadi bisa diselesaikan dalam perspektif islam melalui tasamuh.

Kesimpulan yang dapat diambil terkait toleransi beragama dalam perspektif islam ini ialah sebagai seorang muslim kita harus menghargai keberagaman agama yang ada namun tidak dalam artian akidahnya. Moderasi beragama yang dimaksud dari sisi toleransi beragama ialah dalam aspek sosiologisnya saja bukan dari sisi teologis. Oleh sebab itu, islam hadir dengan membawa konsep tasamuh terkait toleransi beragama dalam penerapan moderasi beragama. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...