Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

0
241
Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu kita berdebat soal haram-halalnya.

Rabiul Awal atau biasa disebut dengan bulan Maulid adalah bulan di mana sang pemimpin Umat Islam Nabi Muhammad SAW lahir di muka bumi. Pemimpin Revolusioner dengan segala kesempurnaan membawa risalah Tuhan demi memperbaiki kejahiliyahan manusia. Dedikasi semasa hidupnya tentu memberikan kita teladan agar menjadi manusia seutuhnya. Ia hadir dengan misi khusus dalam rangka pembinaan umat, membimbing dan mengarahkan dengan menolak perilaku nista yang merajalela dalam problematika umat manusia. Pengaruhnya di seluruh penjuru dunia tentu tidak diragukan lagi. Maka tidak heran jika kelahirannya selalu di rayakan di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia.

Di Indonesia sendiri, perayaan maulid diadakan dengan berbagai tradisi lokal yang memang sudah lama menjadi ciri khas umat Muslim Nusantara. Ketika hari ini bicara maulid apakah boleh dirayakan atau tidak. Saya kira itu sudah basi untuk diperdebatkan. Sebab keyakinan yang kita peroleh tentu akan berbeda dengan keyakinan orang lain yang menolak perayaan maulid. Perbedaan penafsiran memang sering kali ditemui dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Namun, yang perlu dicatat adalah jika memang itu menyimpang tentu harus diluruskan bukan menghujat hingga menebar kebencian.

Sejatinnya perbedaan bukan terletak pada orangnya akan tetapi pada ideologi yang dia peroleh. Oleh sebab itu, cobalah sesekali melihat dari sisi kemanusiaannya. Ini yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Sudah barang tentu untuk saling menghargai, menasehati, mengarifi perbedaan dan menjunjung tinggi martabat manusia. Pesan inilah yang kemudian harus kita ambil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Risalah Rasulullah SAW telah memberikan kita pemahaman betapa pentinganya nilai-nilai kemanusiaan untuk dijadikan acuan dalam kehidupan. Ia datang mengakhiri masa jahiliyah bangsa Arab saat itu. Ia hadir membela kaum perempuan dan para budak serta membawa genderang persamaan harkat manusia. Saat itu bangsa Arab meski hidup dalam keberagaman, akan tetapi Rasulullah berhasil membangun masyarakat majemuk yang harmoni, damai, dan sentosa. Ini yang kemudian tecatat pada piagam madinah.

Jika melihat konteks di Indonesia yang banyak akan suku, ras, budaya, dan agama, tentu tidak cukup tanpa ada rasa persaudaraan dan kesadaran. Dua pesan inilah yang sekian abad lamanya telah disampaikan Rasulullah dan para ulama agar kita selalu mempererat ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah.

Oleh sebab itu, rasa persatuan atau komitmen kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan pesaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) di Indonesia perlu dikuatkan kembali. Sebagaimana Rasulullah telah membuktikan dalam mempersatukan masyarakat Madinah yang terdiri dari tiga kelompok yang berbeda yaitu Muhajirin dan Ansor sebagai mayoritas muslim, suku Aus dan Khazraj dari kalangan non-muslim serta kelompok Yahudi. Tulis Said Aqil Husain Al-Munawar dalam Islam Humanis 2010.

Selain itu, Rasulullah juga mengatur kemajemukan komunitas bangsa Arab dari berbagai sektor kehidupan. Mulai dari urusan politik, sosial, hukum, ekonomi, hak asasi manusia, kesetaraan, kebebasan beragama, pertahanan, dan perdamaian. Tulis Ali Maskyur Musa dalam Membumikan Islam Nusantara: Respons Islam terhadap Isu-Isu Aktual 2014. 

Inilah yang kemudian dikenal sebagai piagam madinah atau Dustur Madinah yang menjadi titik temu (kalimatun sawa’) bagi masyarakat madinah yang beragam. Saat itu tentu sangan sulit untuk menanamkan nilai-nilai persatuan dan kemanusian ditengah-tengah masyarakat plural dan tidak mungkin dapat dipersatukan. Namun, Rasulullah SAW secara arif nan bijaksana berhasil mempersatukan persaudaraan dalam membangun kehidupan yang harmonis, damai dan sejahtera.

Kembali dalam konteks Keindonesiaan, melihat apa yang sudah dilakukan Rasulullah tentu sudah sepatutnya kita sesama warga negara meneladani sikap dan perilaku yang diajarkan Rasulullah bahwa prinsip yang dilandasi manusia itu sejatinya bersaudara, dari ayah dan ibu yang sama yakni Adam dan Hawa. Hubungan ini adalah kunci dari semua persaudaraan. Meski berbeda suku, budaya, dan agama tapi kita tetap satu dalam naungan Bhineka Tunggal Ika.

Semoga dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, kita semua dapat meneruskan perjuangan serta semangat revolusionernya agar menjadi manusia yang tanpa lelah menebar kebaikan khususnya dilingkungan sekitar tanpa ada diskriminasi dari suku mana dan agamanya apa. Sebab hadirnya Nabi Muhammad SAW tidak hanya membawa aqidah dan syariah saja. Tetapi membawa peradaban, budaya, kemajuan dan puncaknya adalah kemanusiaan.

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad.