fbpx
Beranda Download Buku Buku Pintar Salafi-Wahabi, Sebuah Panduan bagi Umat Islam

Buku Pintar Salafi-Wahabi, Sebuah Panduan bagi Umat Islam

Harakah.idBuku pintar Salafi-Wahabi ini berisi informasi yang menjelaskan tentang bagaimana paham Salafi-Wahabi. Buku pintar Salafi-Wahabi ini dibuat ringkas agar mudah dipahami umat Islam yang awam.

- Advertisement -

Dalam masyarakat Muslim Indonesia terdapat banyak kelompok yang terkadang saling berseberangan satu sama lain. Baik dalam aspek pemikiran maupun gerakan. Hal ini merupakan sunnatullah. Selain bahwa Rasulullah SAW telah mengisyaratkan akan adanya keragaman itu.

Salah satu kelompok yang tumbuh dalam kurun tiga ratus tahun belakangan adalah kelompok Wahabi. Pengikut pemikiran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Najdi. Tokoh yang hidup pada abad 18 M di Jazirah Arab. Keinginannya ingin memberantas kebiasaan masyarakat Muslim yang dianggapnya sebagai bentuk kemusyrikan.

Dakwahnya ditolak. Ia lalu bekerjasama dengan Muhammad bin Saud. Penguasa kawasan Dir’iyah. Dengan menggunakan kekuasaan dan politik, pemikirannya lebih cepat bisa diterapkan. Membasmi kebiasaan masyarakat yang menurutnya adalah kesyirikan dan kemungkaran.

Gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud terhenti ketika kesultanan Turki Usmani menakhlukkan kembali kawasan yang sudah dikuasai keduanya.

Pada akhir abad dua puluh, bersamaan dengan revolusi Arab dan Perang Dunia I, keturunan Muhammad bin Saud yang bernama Abdul Aziz bin Saud berhasil mengalahkan kesultanan Hijaz yang dipimpin Syarif Husain. Pada saat bersamaan, Kesultanan Turki Usmani mengalami kekalahan telak dan akhirnya dibubarkan pada 1924. Dengan leluasa, atas bantuan Inggris, Abdul Aziz bin Saud menggempur Hijaz (Mekah, Madinah dan Taif) dan menyatukan seluruh kawasan Jazirah Arab.

Pada tahun 1980-an, bersamaan dengan menguatnya kekuatan ekonomi Arab Saudi Modern dan persaingan dengan gerakan Revolusi Islam Syiah Iran, Arab Saudi menyebarkan paham Wahabinya ke seluruh penjuru dunia Islam. Salah satunya ke Indonesia.

Berbagai program pendidikan, filantropi, pembangunan fasilitas ibadah, dan literatur, dibuat untuk mendukung penyebaran paham Wahabi. Mereka yang hidup hari ini sering tidak mau tahu bagaimana paham ini.

Buku kecil ini hadir untuk merespon perkembangan salafi-wahabi di Indonesia. Kebanyakan masyarakat merasa terganggu dan resah dengan adanya kelompok ini.

Keresahan itu disebabkan oleh kebiasaan salafi-wahabi yang suka menyalahkan, mengafirkan, dan menyesatkan tradisi dan amaliah yang dilakukan masyarakat. Padahal kebiasaan itu sudah dilakukan sejak dulu dan direstui ulama terdahulu. Memang benar dalam beragama tidak boleh ikut-ikutan atau sekedar mengikuti kebiasaan.

Beragama harus merujuk pada al-Qur’an dan hadis. Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Namun masalahnya, kelompok salafi-wahabi ini merasa benar sendiri dan menganggap amalan yang dilakukan orang lain tidak sesuai dengan al-Qur’an dan hadis.

Padahal, tidak mungkin ulama yang ada di Indonesia merestui kebiasaan masyarakat kalau tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadis, sebab mereka bukanlah orang-orang bodoh dan mengerti benar masalah agama. Parahnya lagi, salafi-wahabi seringkali menuding amaliyah masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh tradisi hindu-budha.

Tahlilan misalnya, tradisi ini dianggap warisan budaya hindu-budha, padahal kalau didalami, tahlilan tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di negara Timur-Tengah. Bahkan, ulama yang membolehkan tidak hanya dari Indonesia, tetapi sudah dibahas oleh para ulama sejak dulu dan mereka tidak satupun dipengaruhi budaya hindu-budha.

Buku kecil ini tidak membahas seluruh persoalan yang dipermasalahkan salafi-wahabi, karena butuh banyak halaman untuk mendiskusikannya satu per satu. Meskipun dengan keterbatasan halaman, buku ini berusaha untuk menjelaskan siapa itu salafi-wahabi, bagaimana cara berpikir mereka, apa saja argumentasi yang sering mereka kemukakan, dan bagaimana cara membantahnya. Semoga buku ini bermanfaat dan berkah. 

Download buku saku ini dengan klik di sini.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...