Beranda Keislaman Hadis Bunga Bank dalam Perspektif Hadis, Ulama Modern dan Ormas Islam

Bunga Bank dalam Perspektif Hadis, Ulama Modern dan Ormas Islam

Harakah.idTerdapat perbedaan pendapat terjadi di kalangan tentang fenomena bunga bank. Apakah bunga bank termasuk riba atau bukan. Sebagian ulama mengkategorikan bunga bank sebagai riba sehingga hukumnya haram. Sebagian lain berpendapat tidak tergolong riba sehingga mubah.

Bunga Bank dalam Perspektif Hadis. Diskursus yang tidak pernah berhenti diperbincangkan hingga saat ini, salah satunya, adalah tentang masalah riba. Salah satu hadis yang melarang riba adalah sebagai berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir, yang berkata, “Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, memberi makan riba, pencatat riba, dan saksi-saksi riba.” Jabir berkata, “Mereka setara dalam dosa.”

Hadis yang dikemukakan di atas, intinya Rasulullah SAW telah melaknat empat golongan orang yang terlibat dalam transaksi riba yaitu: 1. pemakan riba, 2. yang memberi makan, 3. dua orang saksinya yang menyaksikan terjadinya transaski riba tersebut dan 4. juru tulisnya (pencatatnya). Hadis tersebut menjadi dalil yang menunjukan dosa orang-orang yang terlibat dalam transaksi riba dan siapa saja yang mendapatkan dosa sampai-sampai dilaknat oleh Rasulullah saw.

Sekalipun demikian, terdapat perbedaan pendapat terjadi di kalangan tentang fenomena bunga bank. Apakah bunga bank termasuk riba atau bukan. Sebagian ulama mengkategorikan bunga bank sebagai riba sehingga hukumnya haram. Sebagian lain berpendapat tidak tergolong riba sehingga mubah.

Pendapat Ulama Modern Timur Tengah

Menurut Yusuf Qardhawi, pemakan riba adalah yang memberikan pinjaman berupa uang kepada peminjam dengan perjanjian pengembalian haruslah lebih dari pokok. Orang semacam ini bukan hanya mendapatkan laknat dari Allah swt juga laknat dari semua manusia di bumi. Pemberi makan riba maksudnya adalah orang yang meminjam sejumlah uang tersebut dan sepakat untuk mengembalikan pinjamannya dengan ada kelebihannya dari pokok pinjaman. Golongan ini juga akan mendapatkan dosa dan laknat dari Allah swt dan Rasul-Nya. Tidak berhenti sampai disini saja, namun para pencatat transaksi riba yang haram tersebut dan dua orang saksinya juga mendapatkan dosa dan laknat dari Allah SWT dan Rasul-Nya (Yusuf Qardawi, Halal Dan Haram Dalam Islam, 1993, hlm. 258).

Tetapi Yusuf Qardhawi menggaris bawahi bahwa apabila ada suatu keadaan yang memaksa seseorang harus meminjam dan tidak dapat lagi dihindari orang tersebut harus terlibat dalam transaksi riba di mana dia harus memberikan bunga atau rente karena peminjamannya, maka saat itu dosanya hanya diberikan kepada pemakan ribanya (pemberi hutangan). Seperti contohnya untuk makan dan berobat yang apabila tidak dilakukannya akan menyebabkan kebinasan dan kematian (Yusuf Qardawi, Halal Dan Haram Dalam Islam, 1993, hlm. 258).

Dalam Tafsir al-Manar, Syekh Muhammad Abduh membolehkan menyimpan uang di bank dan juga boleh mengambil bunga simpanannya. Dengan kata lain ia mehalalkan bunga bank. Hal ini, menurutnya, didasarkan pada maslahah-mursalah (kesejahteraan). Larangan riba menurut Muhammad Abduh adalah untuk menghindari adanya unsur eksploitasi dan menghindari memakan harta orang lain secara batil (al-Baqarah: 188).

Sementara bunga bank, menurut Muhammad Abduh tidak menimbulkan adanya pemerasan dan tidak ada persamaannya dengan apa yang diharamkan al-Qur’an (al-Baqarah :188). Alasan lain yang menghalalkan menabung uang dan sekaligus mengambil bunga bank, menurut Abduh ada tiga alasan. Yaitu Pertama, karena dengan keberadaan perbankan yang ada sekarang tidak menciptakan penindasan, malahan sebaliknya mendorong kemajuan perekonomian.

Kedua, bahwa menyimpan uang dibank, pada intinya sama artinya dengan perkongsian dalam bentuk lain. Ketiga, mendorong orang untuk maju di segala bidang, termasuk ekonomi,adalah sikap yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sedangkan operasi dan jasa bank yang ada sekarang tampaknya memang mendorong kemajuan ekonomi (Khoirudin, 1996).

Pendapat Ormas Islam di Indonesia

Beberapa Lembaga juga berbeda pendapat tentang bunga bank ini. Menurut Lajnah Bahsul Masa’il Nahdlatul Ulama (LBM NU), terdapat tiga pendapat ulama sehubungan dengan masalah ini (Ka’bah, 1999). Pertama, pendapat yang mempersamakan antara bunga bank dengan riba secara mutlak, sehingga hukumnya haram. Sebab termasuk hutang yang dipungut rente.

Kedua, pendapat yang tidak mempersamakan bunga bank dengan riba, sehingga hukumya boleh. Sebab tidak ada syarat pada waktu aqad, sementara adat yang berlaku, tidak dapat begitu saja dijadikan syarat.

Ketiga, pendapat yang mengatakan hukumnya shubhat(diragukan tentang halal atau haramnya). Sebab para ahli hukum berselisih pendapat tentangnya.

Majlis Tarjih Muhammadiyyah menggunakan qiyas sebagai metode ijtihadnya. Bagi Muhammadiyah ‘illat diharamkannya riba adalah adanya pengisapan atau penganiayaan (az-Zulm) terhadap peminjam dana. Konsekuensinya, kalau ‘illat itu ada pada bunga bank, maka bunga bank sama dengan riba dan hukumnya riba. Sebaliknya kalau ‘illat itu tidak ada pada bunga bank, maka bunga bank bukan riba, karena itu tidak haram.

Bagi Muhammadiyah, ‘illat diharamkannya riba disinyalir juga ada pada bunga bank, sehingga bunga bank disamakan dengan riba dan hukumnya adalah haram. Namun keputusan tersebut hanya berlaku untuk bank milik swasta. Adapun bunga bank yang diberikan oleh bank milik negara (baca: BUMN) pada para nasabahnya atau sebaliknya, termasuk perkara musytabihat, tidak haram dan tidak pula halal secara mutlak (Djamil, 1995).

Kita sepakat bahwasannya riba adalah perkara yang haram menurut nash Al-Quran dan hadis. Hadis Nabi melaknat pemakan riba, yang memberi makan, dua orang saksi yang menyaksikan terjadinya transaksi riba tersebut dan juru tulisnya. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, para ulama berbeda pendapat atas hukum bunga bank ini karena kondisi yang dialami Nabi dengan zaman sekarang tentu berbeda. Dan dari Lembaga Islam tebesar di Indonesia pun berbeda pandangan akan hal ini, oleh karna itu sebaiknya kita mengambil ke arah yang lebih memungkinkan sesuai dengan kondisi dari daerah atau individu masing-masing apakah kita harus memakai bunga bank atau tidak.

Artikel berjudul “Bunga Bank dalam Perspektif Hadis, Ulama Modern dan Ormas Islam” ini adalah kiriman dari Renaldi Izza Al Hamam, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Syarif Hidayatullah

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...