Beranda Khazanah Buya Arrazy Hasyim; Beragamalah Sesuai Dengan Kondisi Zaman!

Buya Arrazy Hasyim; Beragamalah Sesuai Dengan Kondisi Zaman!

Harakah.idBuya Arrazy Hasyim menegaskan harusnya umat Islam beragam sesuai dengan kondisi zamannya. Karena gerak perubahan zaman, adalah hal niscaya yang harus selalu disesuaikan dengan kegiatan beragama.

Beragama sesuai dengan kondisi zaman adalah satu hal yang seringkali disampaikan Buya Arrazy Hasyim.

Adalah kesepakatan bersama bahwa selain Allah SWT, segala sesuatu pasti mengalami perubahan. Satu-satunya hal yang tidak (dan tidak akan pernah) berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan itu juga terjadi (hanya) pada sekian banyak rincian/cabang-cabang ajaran agama Islam. Tidak pokok-pokok ajarannya. 

Hukum atas suatu permasalahan yang telah diputuskan generasi terdahulu boleh jadi tidak bisa diberlakukan saat ini. Pasalnya, lahirnya suatu hukum itu pasti menyesuaikan kondisi zaman (kontekstual). Oleh karenanya, pada satu masalah yang sama, hukum yang lahir bisa jadi berbeda antar satu daerah/waktu dengan daerah/waktu yang lain. 

Salah satunya contohnya adalah tentang hukum berziarah kubur. Awalnya, Nabi melarang karena khawatir umat Islam akan jatuh ke dalam kemusyrikan. Namun, ketika kekhawatiran tak lagi ada, maka Nabi memerintahkan untuk berziarah kubur.

Imam Syafi’i pun demikian. Ia memiliki dua pendapat (qaul), yakni ketika di Baghdad dan di Mesir. Hal ini menegaskan bahwa dalam memahami rincian ajaran agama, seseorang hendaknya melakukannya secara profesional dan proporsional. 

Artinya, dalam dalam menyikapi fatwa ulama masa lalu, kita yang hidup di masa kini harus memiliki kepandaian, kejelian, dan ilmu yang cukup serta bisa memandang bagaimana kondisi masa lalu dimana fatwa itu lahir. 

Jika itu dilakukan, maka kita tak akan gampang menyalahkan fatwa ulama atau praktik keagamaan yang dilakukan oleh generasi masa lampau. Kita akan bisa memandangnya dengan tepat. 

Penolakan atau penerimaan yang kita lakukan semata-mata berlandaskan pemahaman ilmiah atas masalah tersebut secara komprehensif, bukan atas dasar suka atau tidak suka. Apalagi fanatik buta. 

Biasanya, suatu masalah agama akan semakin kompleks manakala berkaitan dengan tradisi atau budaya. Diperlukan kepekaan dan kecerdasan yang cukup sehingga bisa membedakan mana yang ajaran agama dan mana yang tradisi budaya. Keduanya jelas berbeda. Meski demikian, harus diingat, Islam tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. 

Zaki Najib Mahmud, sebagaimana ditulis Prof. Quraish Shihab dalam buku Islam yang Saya Pahami, menyebut ada empat kelompok masyarakat Islam dalam hal berijtihad, yaitu: (a) menyikapi problem lama dengan pandangan lama; (b) menyikapi problem baru dengan pandangan lama; (c) menyikapi problem baru dengan pandangan baru, namun dengan tetap memperhatikan cara pandang generasi masa lalu; dan (d) menyikapi problem baru dengan pandangan baru, namun tidak dengan memperhatikan cara pandang generasi masa lalu.

Dari keempat pola di atas, tentu yang terbaik adalah yang ketiga—sebagaimana dijelaskan Prof. Quraish Shihab. Hal ini sangat masuk akal sekali karena ruang dan waktu antara masa lalu dan masa kini jelas berbeda. Sehingga produk hukum pun bisa jadi berbeda.  

Dalam sebuah kajian, Buya Arrazy Hasyim pernah ditanya oleh salah seorang jamaah tentang hukum mandi menggunakan kembang ketika memasuki bulan Ramadan, yang biasa dilakukan di beberapa daerah di negeri ini. 

“Jangan pahami kebiasaan lama dengan standar hari ini,” tegas Buya mengawali jawabannya. 

Ia menegaskan, mandi yang dilakukan generasi masa lalu itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada bulan Ramadan. Sehingga bulan Ramadan tidak disamakan dengan bulan-bulan selainnya (karena ia adalah bulan mulia). 

Dahulu, lanjut Buya Arrazy, sarana yang diperintahkan oleh Nabi untuk digunakan memandikan jenazah adalah kembang bidara, yang mana merupakan kembangnya orang Arab tempo dulu. Ini dilakukan karena belum ada sabun. 

Menanggapi hal itu, Buya Arrazy memberi solusi bahwa tradisi mandi itu hendaknya tetap dilakukan. Namun, tidak lagi dengan menggunakan kembang, melainkan sabun-sabun modern (ia lantas menyebut dua merek sabun sebagai contoh).

“Pakai (hal yang) harum, dan itu lebih canggih daripada pakai kembang,” tegas Buya Arrazy. 

Penjelasan di atas memberi gambaran kepada kita bahwa dalam memahami praktik (dan ajaran) agama hendaknya seseorang menggunakan pola pikir kekinian dengan tetap memperhatikan cara pikir dan nilai yang dipakai generasi masa lalu. 

Walhasil, segala hal, termasuk dalam beragama, hendaknya disikapi dengan pola pikir dan standar masa kini. Dengan catatan, tetap tidak meninggalkan cara pandang generasi masa lalu. Hal ini akan menegaskan bahwa kita memang generasi yang hidup di masa kini, bukan generasi yang telat lahir. Wallahu a’lam

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...