Beranda Keislaman Tafsir Cara Agar Al-Qur’an Relevan untuk Zaman Sekarang Menurut Fazlur Rahman

Cara Agar Al-Qur’an Relevan untuk Zaman Sekarang Menurut Fazlur Rahman

Harakah.idBerangkat dari asumsi bahwa al-Qur’an berlaku universal dan bersifat shalihun likulli zaman wa makan, Fazlur Rahman berpendapat bahwa al-Qur’an harus selalu dijadikan sebagai landasan moral-teologis bagi umat manusia dalam rangka menjawab problem-problem sosial keagamaan sepanjang zaman ini. Bagaimana caranya?

Fazlur Rahman merupakan salah satu tokoh progresif muslim yang melakukan reformasi, dekonstruksi dan rekonstruksi kajian tafsir al-Qur’an di era kontemporer. Ia sukses berpikir kritis terhadap tradisi Islam maupun tradisi Barat, juga berhasil mengembangkan metode yang bisa memberikan solusi alternatif terhadap Muslim kontemporer.

Sebagai seorang intelektual Islam, Rahman memiliki kepedulian yang tinggi dan berkhidmat untuk menghidupkan khazanah keilmuan Islam dengan cara “menafsir” kembali Islam lewat pengkajian al-Qur’an secara kontekstual. Oleh karena itu, pemikiran Rahman memberikan banyak sumbangsih terhadap perkembangan kajian Islam, khususnya dalam kajian al-Qur’an. Tulisan ini hendak memaparkan pandangan Fazlur Rahman tentang Tafsir al-Qur’an.

Berangkat dari asumsi bahwa al-Qur’an berlaku universal dan bersifat shalihun likulli zaman wa makan, Fazlur Rahman berpendapat bahwa al-Qur’an harus selalu dijadikan sebagai landasan moral-teologis bagi umat manusia dalam rangka menjawab problem-problem sosial keagamaan sepanjang zaman ini. Dalam konteks ini, Rahman berpandangan bahwa memelihara al-Qur’an sebagai dasar keimanan, pemahaman dan tingkah laku moral adalah hal yang esensial. Akan tetapi al-Qur’an juga harus difungsikan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, dengan memahami ideal moral yang terkandung di dalamnya dan mengambil darinya ajaran-ajaran yang cocok untuk kemudian diterapkan dalam waktu dan tempat yang sesuai.

Pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an menurut Rahman tidak hanya dipahami secara literal saja, sebagaimana yang dipahami oleh para penafsir klasik. Menurutnya, memahami al-Qur’an dengan cara mengambil makna harfiahnya saja bukan hanya akan menjauhkan seseorang dari petunjuk yang diberikan al-Qur’an, melainkan hal itu juga merupakan upaya pemaksaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an itu sendiri.

Pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan al-Qur’an kepada umat manusia bukanlah makna yang ditunjukkan oleh ungkapan harfiah itu sendiri, melainkan ada ideal moral yang terdapat dibalik ungkapan literal tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat al-Qur’an harus dipahami dari sisi pesan moral dan maqashid asy-syari’ah-nya.

Menurut Fazlur Rahman, ayat-ayat al-Qur’an merupakan pesan moral, religius, dan sosial Tuhan untuk merespon apa yang terjadi dalam masyarakat. Di dalam ayat-ayat itulah terdapat apa yang oleh Rahman disebut ideal moral, yang pada giliran selanjutnya ideal moral inilah yang harus dijadikan acuan dalam memahami ayat-ayat al-Quran.

Berangkat dari hal itu, Fazlur Rahman kemudian mengusulkan tentang urgensi pada pengkajian situasi dan kondisi historis yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat al-Qur’an, baik berupa asbab an-nuzul maupun situasi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan juga peradaban masyarakat saat diturunkan, guna menemukan pesan moral yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Lebih lanjut, Rahman meyakini bahwa al-Qur’an pasti mampu menjawab problem kekinian jika dibaca dengan pendekatan kontekstual. Hal ini berangkat dari sebuah keyakinan bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi petunjuk Tuhan untuk membimbing umat manusia. Menurutnya, jika Al-Qur’an dipahami secara komprehensif, holistik, dan kontekstual, maka ia akan mampu menjadi solusi alternatif dalam menjawab problem modernitas.

Fazlur Rahman berpandangan bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang sudah final kebenarannya sehingga otentisitas Al-Qur’an tidak perlu dipertanyakan lagi. Berbeda halnya dengan tafsir, Rahman menilai hakikat tafsir sebagai proses yang tidak final, sehingga membawanya pada sikap kritis terhadap hasil penafsiran al-Qur’an yang ada selama ini.

Menurut Rahman tafsir merupakan sebuah produk yang dihasilkan dari pemikiran seorang mufassir yang sifatnya relatif dan tentatif sebagai respon terhadap kehadiran kitab suci al-Qur’an, sehingga sah untuk dipertanyakan ulang (dikritisi).

Dengan kata lain, tafsir merupakan produk dialektika antara teks, pembaca, dan realitas sehingga betapapun teks yang ditafsirkan dianggap suci atau “disucikan”, namun hasil interpretasi terhadap teks suci tersebut tidaklah suci dan absolut, sehingga tafsir tentu saja boleh dikritisi atau bahkan mungkin perlu “didekonstruksi” jika memang sudah tidak relevan lagi dengan situasi dan tuntunan zaman.

Rahman beranggapan bahwa al-Qur’an semestinya diposisikan sebagai kitab hidayah dan sumber motivasi bagi tindakan manusia. Oleh karena itu, Rahman dengan tegas menyatakan bahwa penafsiran al-Qur’an harus diorientasikan untuk: pertama, mengungkapkan tujuan-tujuan moral universal al-Qur’an yang kemudian diaktualisasikan ke dalam konteks kekinian guna menyelesaikan problem sosial keagamaan yang muncul. Kedua, menghindari bias-bias ideologi, yakni penafsiran yang sekedar dimaksudkan untuk membela kepentingan madzhab tertentu yang pada akhirnya seringkali memaksakan gagasan non-Qur’ani ke dalam penafsiran al-Qur’an.

Orientasi penafsiran al-Qur’an di atas menurut Rahman, hanya bisa dilakukan dengan cara memahami al-Qur’an secara holistik-komprehensif dan menghindari model-model penafsiran yang atomistik. Bagi Rahman, sebuah pemikiran yang cenderung memaksakan gagasan non-Qur’ani itu bukanlah tafsir dalam arti yang sesungguhnya, melainkan sekadar pemikiran yang diberi legitimasi dengan ayat-ayat al-Qur’an.

Fazlur Rahman dalam metode tafsir yang digagas dan pandangannya terhadap al-Qur’an yang berkaitan dengan pendekatan sejarah dan hermeneutika yang populer di Barat sangat jelas terlihat kritikannya terhadap metode tafsir klasik dan modern.

Rahman mengkritisi bahwa metode penafsiran klasik cenderung menggunakan pendekatan dalam menginterpretasikan al-Qur’an secara terpisah-pisah dan sepotong, sehingga mengakibatkan persoalan yang dihadapi bukannya selesai, tetapi justru menimbulkan persoalan baru. Meskipun mufassir telah menerapkan penafsiran ayat per ayat sesuai kronologinya dalam mushaf dan terkadang merujuk kepada ayat lain, namun sayangnya tidak dilakukan secara sistematis.

Rahman juga menilai bahwa selama berabad-abad berbagai upaya telah dilakukan, namun para sarjana dan ulama belum menghasilkan suatu teori penafsiran al-Qur’an yang memuaskan. Menurutnya perlu ada metode-metode baru yang menemukan prinsip-prinsip kontemporer dari al-Qur’an. yaitu metode yang memiliki jangkauan yang lebih dari sekedar menggunakan analogi (qiyas) tradisional. Rahman berpandangan, bahwa tanpa sikap dan orientasi baru maka pemahaman kontemporer bagi kitab yang abadi tampaknya tidak bisa dikembangkan.

Di sisi lain, Rahman juga mengkritisi kaum modernis yang tidak mampu menawarkan metodologi penafsiran yang handal dalam mengatasi problem umat Islam era kontemporer. Dimana metode yang ditawarkan cenderung bersifat mempertahankan Islam dengan mengadopsi tradisi modern, dan metode yang tidak jauh berbeda juga diterapkan dengan cara merujuk kepada beberapa otoritas tradisional demi memperkuat suatu penafsiran yang diperoleh berdasarkan pemikiran modern.

Fazlur Rahman tidak hanya melontarkan kritikan-kritikan, namun juga menawarkan solusinya. Bahwasannya, ide untuk menggagas sebuah metode tafsir al-Qur’an yang jitu, sistematis dan komperehensif dalam memenuhi kebutuhan umat Islam dewasa ini berawal dari ketidak-mampuan metode-metode yang ada dalam mengatasi tantangan modernis.

Rahman mengamati bahwa gerakan aktivis muslim kontemporer umunya tidak berusaha mengatasi persoalan tersebut yang berimbas pada ketidak-mampuan mengatasinya. Oleh karena itu, Menurut Mustaqim, dengan memakai pendekatan hermeneutika model Emilio Betti, Rahman menawarkan hermeneutika double movement, yakni model penafsiran al-Quran yang ditempuh melalui gerak ganda: bergerak dari situasi sekarang menuju ke masa di mana al-Quran diturunkan untuk kemudian ditarik kembali ke masa kini.

Dari pemaparan di atas dapat dilihat, bahwa al-Qur’an yang dipahami oleh Rahman sebagai sebuah kitab merupakan pedoman pertama umat Islam yang berisi prinsip-prinsip keagamaan dan moral bukan sebagai suatu dokumen hukum.

Oleh karena itu, al-Qur’an harus selalu dijadikan landasan moral-teologis bagi umat manusia dalam rangka menjawab problem-problem sosial keagamaan sepanjang zaman ini. Ini berarti, al-Qur’an harus dipahami sesuai perkembangan dan disesuaikan dengan masalah-masalah baru yang terjadi di masyarakat.

Dengan kata lain, penafsiran terhadap al-Qur’an tidak boleh berhenti, tetapi harus selalu berproses seiring dan sejalan dengan tuntunan zaman. Dalam memahami al-Qur’an, Rahman menawarkan hermeneutika double movement, untuk menginterpretasikan kandungan dan makna Qur’an sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. (Annisa, Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir, UIN SUKA Yogyakarta)

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...