Cara Berdoa yang Paling Mustajab Adalah Tidak Meminta

0
23929

Harakah.idCara berdoa yang paling mustajab adalah tidak meminta. Inilah penjelasan ilustratif Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi.

Imam Ibnu Atha’illah dalam karya masterpiece-nya yang bertajuk Al-Hikam menyebutkan bahwa “tuntutan (permintaan) seorang hamba kepada Pencipta adalah bentuk tuduhan (takut tidak dikabulkan) terhadap-Nya”.

Ungkapan ini seakan-akan bertentangan dengan perintah Allah untuk senantiasa berdoa kepada-Nya, sebab Allah akan mengabulkannya (surat Al-Mu’min ayat 60).

Satu sisi, Imam Ibnu Atha’illah menganggap seorang hamba yang banyak meminta (menuntut) adalah hamba yang meragukan Sang Pencipta (jika yakin tidak akan menuntut), di sisi lain Allah menganjurkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya.

Untuk menjawab permasalahan ini, mari menyimak kisah yang dituturkan oleh Jalaluddin Rumi dalam karyanya yang berjudul Fihi Ma Fihi tentang cara meminta yang paling manjur kepada seorang Raja. Berikut kisah lengkapnya.

Di sebuah istana yang megah, terdapat seorang raja yang mempunyai pelayan yang sangat istimewa. Pelayan ini memiliki tugas menyampaikan keluh kesah dan permintaan para rakyat kepada raja.

Suatu hari ketika pelayan hendak menemui raja, beberapa orang menitipkan lembaran-lembaran yang bertulis catatan tentang segala kebutuhan mereka dengan harapan dikabulkan oleh raja.

Si pelayan memasukkan seluruh lembaran catatan rakyat ke dalam tas kecilnya yang selalu dibawa kemana-mana sebagai tempat menyimpan surat-surat penting untuk raja.

Ketika telah berada di hadapan sang raja, pelayan benar-benar tidak mampu menahan dirinya dari pancaran kharisma dan keindahan sang raja. Hal tersebut membuat pelayan jatuh pingsan di hadapan sang raja sebelum mengutarakan maksudnya. 

Sang raja lantas mengambil tas kecil yang dibawa oleh pelayan untuk memeriksa apakah ada surat penting untuknya pada hari itu. Sang raja berkata di dalam hati, “Apa yang dibawa pelayan yang terkesima dan takjub dengan keindahanku ini?”

Setelah memeriksa tas kecil milik pelayan tersebut, sang raja tersenyum karena melihat deretan permintaan rakyat yang hendak dihaturkan kepadanya.

Raja memutuskan mengabulkan semua permintaan yang ditulis dalam lembaran-lembaran kertas tersebut karena ketulusan si pelayan dalam menjalankan tugasnya dan menghormati rajanya.

Seluruh bukti perintah pengabulan permintaan ditulis di setiap bagian belakang kertas dan dikembalikan lagi seperti semula ke dalam tas kecil pelayan agar diberikan lagi kepada rakyatnya.

Raja tidak hanya mengabulkan semua permintaan rakyat, tetapi juga melipatgandakan semua permintaan rakyatnya yang tertulis di dalam lembaran kertas tersebut. Padahal para pelayan lainnya dengan tugas yang sama, jarang sekali dikabulkan oleh sang raja meskipun telah menyampaikan kebutuhan-kebutuhan rakyat secara langsung kepada raja. Dari seratus permintaan, satu permintaan saja belum tentu dikabulkan oleh sang raja.

Kisah di atas merupakan jawaban tersirat atas masalah berdoa (sebagai perintah Allah) atau tidak meminta (sebagai anjuran hikmah dari Imam Ibnu Atha’illah).

Tidak meminta bukan berarti tidak berdoa, sebab doa tidak lagi bermakna ‘meminta’ tetapi bermakna ‘mengakui kelemahan diri’. Seorang pelayan dengan sejuta permintaan langsung dikabulkan oleh raja tanpa perlu meminta karena pelayan mengakui kerendahan dirinya serta mengakui keaguangan rajanya.

Hal ini yang sering dilupakan oleh sebagian besar para peminta. Mereka sibuk menyampaikan keinginannya (kebutuhannya) hingga melupakan hakikat dari ‘meminta’ itu sendiri. ‘Meminta’ adalah representasi dari pengakuan diri bahwa yang dapat memenuhi segala kebutuhan adalah Sang Maha Pemberi, bukan malah sibuk membuat list keinginan-keinginan yang belum dikabulkan.

Jadi; ‘tidak meminta’ juga termasuk sebuah doa, sebab segala macam permintaan yang hendak disampaikan telah lenyap ketika mulai menyebut nama Sang Maha Pemberi. Bukankah bagi seorang pecinta sejati, mengingat Dzat yang dicintai lebih penting dari segala hal yang masih berhubungan dengan kepentingan pribadi?

Demikian cara berdoa yang paling mustajab sebagaimana penjelasan ilustratif Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi. Semoga cara berdoa yang paling mustajab ini dapat menambah wawasan.