Beranda Keislaman Muamalah Cara Nabi Muhammad Menjaga Pluralisme dan Toleransi di Masyarakat

Cara Nabi Muhammad Menjaga Pluralisme dan Toleransi di Masyarakat

Harakah.id Terdapat juga hadis yang menjelaskan tentang toleransi nabi Muhammad saw kepada umat Yahudi dan Nasrani dalam bentuk penghormatan yang diberikan kepada jenazah yang lewat di hadapannya.

Pluralisme. Pada hakikatnya setiap agama yang ada pada dunia ini menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan mengatur norma-norma terhadap perlakuan anti diskriminasi, tetapi di saat bersamaan kekerasan atau diskriminasi atas nama agama, ras, warna kulit, bahasa selalu terjadi dengan mengorbankan banyak orang yang tidak sedikit jumlahnya.

Karena sering kali terjadi konflik yang mengatas namakan Agama pada sejarah yang pernah terjadi di masa sebelumnya, yang merupakan tragedi buruk bagi sejarah manusia yang terus menerus berlangsung dalam peradaban manusia. Yang seharusnya agama-agama yang mengajarkan perdamaian, kasih sayang, ketentraman dan berbagai norma-norma lainnya menjadi pedoman untuk realita kehidupan bukan sebaliknya. (M.Yusuf Wibisono, 2015, hal.1)

Kesadaran akan kenyataan kehidupan yang plural, memang dalam beberapa kondisi, tidak selalu dilakukan dengan pandangan yang bijak mengenai bagaimana bersikap terhadap pluralitas yang ada. Pluralitas yang seharusnya disikapi dan dilakukan dengan cara pandang terbuka dan toleransi, justru seringkali terdapat hal-hal yang menampilkan kondisi dimana kelompok mayoritas selalu menindas yang  minoritas, kelompok penguasa menindas rakyat atau aliran tertentu mendiskriminasi aliran lain. Manusia adalah makhluk sosial yang sudah seharusnya setiap individu bersikap sadar akan kelemahan dan keterbatasan yang di miliki orang lain sehingga tidak perlu memaksakan keinginan dengan cara mendiskriminasikan orang lain. (M.Yusuf Wibisono, 2015, hal.2)

Ibnu Katsir, masih di dalam karya tafsirnya, di dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, mengambil sekian riwayat yang berisikan tentang Rasulullah Saw mengkritik, terhadap perilaku merendahkan orang lain. Salah satunya adalah suatu kejadian yang di kisahkan oleh Ibnu ‘Abbas Ra, ketika sejumlah orang-orang berada di kota Mekkah sempat menyinggung sahabat Nabi yaitu Bilal bin Rabbah yang ketika itu diperintahkan untuk mengumandangkan azan,

قال ابن عباس : لما كان يوم فتح مكة أمر النبي صلى الله عليه وسلم بلالا حتى علا على ظهر الكعبة فأذن ، فقال عتاب بن أسيد بن أبي العيص : الحمد لله الذي قبض أبي حتى لا يرى هذا اليوم . قال الحارث بن هشام : ما وجد محمد غير هذا الغراب الأسود مؤذنا . وقال سهيل بن عمرو : إن يرد الله شيئا يغيره . وقال أبو سفيان : إني لا أقول شيئا أخاف أن يخبر به رب السماء ، فأتى جبريل النبي صلى الله عليه وسلم وأخبره بما قالوا ، فدعاهم وسألهم عما قالوا فأقروا ، فأنزل الله تعالى هذه الآية . زجرهم عن التفاخر بالأنساب ، والتكاثر بالأموال ، والازدراء بالفقراء ، فإن المدار على التقوى . أي : الجميع من آدم وحواء ، إنما الفضل بالتقوى

“Ibnu Abbas ra, berkata : ketika penaklukan kota Mekah terjadi, Rasulullah Saw, memerintahkan Bilal bin Rabbah naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan Adzan. Lalu ‘Utab bin Usaid bin Abi Al-Aish berkata : “Alhamdulillah, bapakku sudah mati jadi tidak bisa menyaksikan ini. Al-Harist bin Hisyam berkata : Muhammad tidak punya Mu’adzin lain selain Gagak hitam yang satu ini, Suhail bin Amr mengatakan : Jika Allah berkehendak, dia akan mengubah ini, Abu Sufyan mengatakan : saya tidak mengatakan apapun yang saya takuti Tuhan di langit akan mengujinya untuk kita. Lalu Jibril menemui Rasulullah Saw, dan memberi tahu apa yang mereka katakan, lalu Nabi Saw memanggil mereka semua seraya menanyakan kepada mereka apa betul kalian mengatakan hal itu, lalu mengiyakannya, lalu Allah menurunkan ayat ini, untuk melarang mereka saling berbangga karena keturunan, berlomba memperbanyak harta, menghina yang fakir. Sesungguhnya maknanya adalah ketakwaannya.

Dari kisah yang di riwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas bahwa Nabi Salallahu Alaihi Wasallam mengkritik orang-orang yang merendahkan orang lain, berbangga karena keturunan, menghina fakir miskin, karena intinya setiap manusia itu sama yang membedakan adalah ketakwaannya kepada tuhan yang maha esa. (Novia Nengsih, 2021, hal. 4)

Terdapat juga hadis yang menjelaskan tentang toleransi nabi Muhammad saw kepada umat Yahudi dan Nasrani dalam bentuk penghormatan yang diberikan kepada jenazah yang lewat di hadapannya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: مَرَّ بِنَا جَنَازَةٌ، فَقَامَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْنَا بِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا جِنَازَةُ يَهُودِيٍّ، قَالَ: إِذَا رَأَيْتُمُ الجِنَازَةَ، فَقُومُوا

Dari Jabir bin Abdillah Radiallahu anhuma, dia berkata : suatu hari lewatlah jenazah di hadapan kami maka Nabi Saw berdiri dan menghormatinya, dan kamipun ikut berdiri dan berkata : wahai Rasulullah, jenazah itu adalah seorang Yahudi, maka beliau berkata : jika kalian melihat jenazah maka berdirilah.”( Al Bukhari, 2000: Juz 2, hal. 85)

Jadi yang perlu di pahami dalam konsep pluralisme adalah apabila pluralisme agama hendak di aplikasikan dan di gaungkan di Indonesia maka ada syarat yang harus dipegang teguh yaitu komitmen yang kuat terhadap agama masing-masing. Seorang pluralis, masih kata Alwi Sihab, dalam berinteraksi dengan banyaknya agama, tidak saja dituntut utuk membuka diri tapi juga harus menghormati mitra dialognya serta commited terhadap agama yang dianutnya. Hanya dengan seperti demikian pluralisme dapat dibangun dengan semangat Ke-Bhinekaan yang memang menjadi landasan bagi setiap warga negara Indonesia. 

Serta konsep pluralisme yang bersyarat ini yang termaktub di  dalam al-Qur’an Surah Saba’ ayat 24-26.

Surat as-Saba’ ayat 26 Allah berfirman:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ قُلِ اللّٰهُ وَ اِنَّاۤ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Katakan-lah (Muhammad), Siapakah yang memberikanmu rezeki dari langit maupun dari bumi?, Katakan-lah, Allah, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang Musyrik), pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Saba : 24 )

قُلْ لَّاتُسْــأَلُوْنَ عَمَّاۤ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـأَلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Katakan-lah, kalian tidak akan di mintai tanggung jawab atas dosa yang kami lakukan dan kami juga tidak akan di mintai tanggung jawab atas apa yang kalian kerjakan.” (QS. Saba : 25)

Surat as-Saba’ ayat 26, Allah berfirman:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَـنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَـنَا بِالْحَـقِّ وَهُوَ الْـفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ

“Katakanlah, Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan dia yang maha pemberi keputusan, maha mengetahui.” (QS. Saba : 26)

Demikian ulasan mengenai “Cara Nabi Muhammad Menjaga Pluralisme dan Toleransi di Masyarakat”. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi kita semua.

Artikel berjudul “Cara Nabi Muhammad Menjaga Pluralisme dan Toleransi di Masyarakat” ini adalah  kiriman dari Fikri Fahrial, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...