Cara Orang Desa Tumbuhkan Bibit Patriotisme, Dari Melawan Kolonial Sampai Mengaji Naskah-Naskah Kiri Soekarno

0
94
Cara Orang Desa Tumbuhkan Bibit Patriotisme, Dari Melawan Kolonial Sampai Mengaji Naskah-Naskah Kiri Soekarno

Harakah.idCara orang desa tumbuhkan bibit patriotisme memang unik. Meskipun selama ini dikesankan sebagai kelompok masyarakat tradisional, tapi nyatanya mereka punya visi yang sangat progresif, utamanya soal makna kepahlawanan.

Berbicara Indonesia selalu harus dimulai dengan berbicara dalam konteks spesifik bernama pedesaan. Tak terkecuali kala kita hendak berbicara soal makna dan hakikat patriotisme, pun harus berangkat dari kesadaran dan ekosistem pengetahuan orang-orang desa.

Orang-orang desa, dengan segala keluguan dan keawamannya, selalu punya cara unik dalam menyelesaikan banyak hal; dari hal-hal yang remeh sampai hal-hal yang serius dan makro seperti masalah-masalah kebangsaan sampai patriotisme. Pengetahuan dan modal kesadaran untuk menyelesaikan masalah semacam ini seringkali tidak mampu dijangkau oleh kaum akademisi yang mengantongi banyak teori dan jago betul soal metodologi.

Kita akan memulai dengan contoh begini; Bagaimana caranya menjaga lingkungan dan sumber daya alam? Negara, yang diisi oleh para teoritisi, akademisi dan pengambil kebijakan membuat aturan sedemikian rupa. Pasal-pasalnya lengkap dan sanksinya pun ada. Institusi militer dan repertoar “kekerasan” dikerahkan. Tapi tetap saja toh, lingkungan kita rusak dan sumber daya alam kita dialihkan menjadi komoditas-komoditas halu.

Leluhur kita di kampung-kampung punya cara yang lebih unik dan efektif; mitologisasi! Pohon-pohon besar yang mengikat cadangan air tanah dinarasikan angker dan menakutkan. Sumber-sumber daya alam lainnya seperti gunung dan sungai juga dinarasikan kalau itu adalah rumah jin. Anak-anak desa sedari kecil diberi pemahaman kalau tidak boleh kencing dan meludah sembarangan. Apalagi di pohon wringin dan sungai itu! “Nanti manukmu keplintir!”

Dengan strategi kebudayaan semacam ini, pohon-pohon besar dan pos-pos sumber daya alam secara tidak langsung memiliki perlindungan. Satu narasi penjagaan lingkungan yang tidak hanya bermain di level kesadaran, namun menusuk ke jatung ketidaksadaran. Ia memang tidak ditulis pasal per pasal layaknya undang-undang, tapi efektifitasnya sebagai acuan moralitas dan kearifan justru menimbulkan efek yang lebih jitu. Ini makna lain dari patriotisme toh?

Dalam konteks yang lebih makro dan serius, orang-orang desa juga seringkali berhasil melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Strategi perang gerilya yang jadi andalan kita dulu efektif untuk menggerus kekuatan kompeni sedikit demi sedikit. Strategi ini lahir dari intuisi dan dipicu oleh kesadaran untuk mempertanahkan tanah air serta pemahaman yang sempurna akan karakteristik geografis lokasi yang mereka tinggali sekaligus.

Proklamasi kemerdekaan 1945 yang disusul Pertempuran Surabaya adalah bukti kalau kekuatan intuisi dan kesadaran total mengenai keberadaan musuh sejak awal memang tidak bisa diremehkan. Lalu pertanyaannya, dari mana orang-orang desa membekali kesadaran mengenai keberadaan musuh? Dari buku-buku dan majalah!

Hal pertama yang harus mulai ditinggalkan adalah kesan kalau orang desa punya pengetahuan yang minim. Kita juga salah besar kalau menganggap orang-orang desa tidak punya daya intelektualitas yang selevel dengan orang kota. Di desa, diskusi-diskusi serius juga terjadi kok. Pembicaraan serius ini digelar bukan di hotel dan kampus, tapi di warung-warung kopi, pasar dan tempat public seperti tempat cukur rambut.

Kiai Saifuddin Zuhri pernah bercerita,

“Di depan rumahku di tempat tukang gunting cukur rambut Abdulbasir selalu berkumpul orang-orang berbagai macam aliran golongan. Di antaranya anggota Partindo, Gempar, Muhammadiyah, PSII, Penyadar, tetapi yang paling banyak adalah anggota NU dan Ansor NU. Dari percapakan mereka aku dapat merasakan apa yang sedang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.”

Kiai Saifuddin juga bercerita tentang rumah bibinya yang biasa dijadikan tempat diskusi. Di sana terdapat buku-buku dan majalah yang juga biasa dijadikan modal diskusi dan rujukan untuk memahami perkembangan sosial,

“Di sanalah aku senantiasa membenamkan diri membaca buku-buku, majalah-majalah dan surat kabar, baik yang masih baru maupun yang sudah lama. Di antaranya Berita NU, Suara Ansor NU, keduanya diterbitkan di Surabaya, Panji Islam di Medan, Pikiran Rakyat (asuhan Ir. Sukarno dari Bandung)”, Indonesia Berjuang, Harian Pemandangan pimpinan M, Tabrani di Jakarta, mingguan politik Pesat asuhan M.I. Sayuti dan S.K. Trimurti di Semarang dan lain-lain”

Nah dua teks di atas cukup untuk menggambarkan kalau orang-orang desa sebenarnya progresif dan modern dengan caranya sendiri. Tidak hanya persoalan hama padi dan harga cabai, orang-orang kampung juga berbicara soal kebangsaan, kemerdekaan dan mendiskusikan proyeksi kepahlawanan.

Selain buku-buku tersebut, Kiai Saifuddin Zuhri juga bercerita kalau orang-orang di kampungnya juga rajin membaca dan mengaji naskah-naskah Soekarno. Menariknya, naskah-naskah ini diperlakukan layaknya kitab kuning. Ia diurai dan dilucuti satu-satu. Ia dipahami secara struktural; dari level pemaknaan kata sampai pemaknaan kalimat dan artikel utuhnya. Dan dalam satu momen pengajian, Kiai Saifuddin Zuhri sempat diplot sebagai qari’nya (yang bertugas membaca teks naskah)

Aku berhenti membaca karena Kiai Haji Halimi dan Ustadz Abdul Fattah dan yang lain-lain terlibat dalam percakapan sendiri-sendiri, membenarkan keterangan Ir. Soekarno dalam buku yang baru aku baca. Setelah percakapan terhenti sendiri, agaknya mereka ingin mendengar kelanjutannya, aku mulai membaca lagi; terang Kiai Saifuddin Zuhri.

Jadi buku Soekarno yang berjudul “Mentjapai Indonesia Merdeka” tidak hanya dibaca, tapi juga didiskusikan, didialogkan, disyarahi, digugat, dikritisi lalu dihidupkan dalam kesadaran. Ya sebagaimana layaknya Kitab Kuning yang biasa dibaca di pesantren-pesantren, naskah Soekarno ini diperlakukan sedemikian rupa juga…

“Negeri Indonesia itu kemudian hilang kemerdekaannya, kemudian menjadi koloni, kemudian menjadi bezitting (entah benar atau salah membacaku istilah Belanda ini), kemudian menjadi negeri jajahan…..” Cara pengambilan berubah, sistem berubah, wataknya berubah – tetapi banyakkah perubahan bagi rakyat Indonesia? Banjir harta yang keluar dari Indonesia bukan semakin surut, tetapi malahan makin besar. Drainage Indonesia malahan makin makan….!”

Tepat pada kalimat akhir di atas, pembacaan Kiai Saifuddin langsung disela oleh Ustadz Abdul Fattah sembari menjelaskan “drainage dibaca drainase, artinya pengurasan atau pengeringan. Arti kalimat itu, bahwa kekayaan Indonesia dikuras habis hingga kering…” Ustadz Abdul Fattah menyontohkan cara pengucapan, menjelaskan kata sekaligus maksud kalimat yang Soekarno gunakan. Setelah dirasa cukup jelas, Ustadz Abdul Fattah menginstruksikan pada Kiai Saifuddin Zuhri untuk melanjutkan pembacaan.

“Tak pernah untung bersih itu mengalirnya begitu deras sebagai justru dibawah pimpinannya exploitan baru.”

Lagi lagi Ustadz Abdul Fattah menyela dan langsung menjelaskan, “exploitan itu artinya pemeras tenaga kerja manusia secara kejam tak berprikemanusiaan”. Proses membaca dan menjelaskan semacam ini bisa dipastikan akan sering terulang, mengingat kelihaian Soekarno memintal kata kerap terpampang melalui caranya mengolah sebuah argumentasi dan berbahasa.

Orang seperti Ustadz Abdul Fattah memiliki peran yang sangat vital, karena beliau mampu menjelaskan plus memberikan kata pilihan Soekarno dua warna atau nuansa sekaligus; warna semangat anti-kolonial dan warna lokalitas pedesaan di mana para pembacanya tinggal. Ia semacam “cultural broker” yang menjadi wasilah antara Soekarno dan komunitas pembacanya.

Jadi begitulah cara orang-orang desa memupuk kesadaran patriotisme. Ia dibibit, dibenihkan dan ditanam-tumbuhkan dalam ekosistem pedesaan yang penuh dengan nuansa keguyuban dan keikhlasan. Dari orang-orang yang kita anggap awam inilah sebenarnya awal mula makna patriotisme dan pahlawan mendapatkan momentum hakikinya.