Beranda Tokoh Cara Pandang Amin Abdullah Menghadapi Persoalan Kontemporer

Cara Pandang Amin Abdullah Menghadapi Persoalan Kontemporer

Harakah.idKonsep Integrasi-interkoneksi keilmuan merupakan gagasan pemikaran yang ditawarkan Amin Abdullah untuk menjadi paradigma pilihan.

Amin Abdullah adalah sosok pemikir modernis yang produktif dalam gelanggang cendikiawan muslim Indonesia. Beliau mampu melahirkan sebuah konsep cerdas dan akomodatif dengan keinginannya agar ajaran Islam tetap bereksistensi memberikan kontribusi secara nyata dalam memecahkan persoalan sosial sepanjang zaman.

Menurutnya, ijtihad yang menjadi kekuatan Islam harus senantiasa terbuka. Berangkat dari fakta bahwa dunia Islam dewasa ini cenderung membuat dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum, maka Amin Abdullah merasa perlu merekonstruksi fakta ini dan membuat sebuah restorasi paradigma keilmuan.

Baca: Integrasi Akal, Wahyu dan Moral Islam dalam Pemikiran Harun Nasution

Konsep Integrasi-interkoneksi keilmuan merupakan gagasan pemikaran yang ditawarkan Amin Abdullah untuk menjadi paradigma pilihan. Pendekatan ini adalah memadukan wahyu Tuhan dengan temuan pikiran manusia dengan tidak berakibat mengecilkan peran Tuhan (sekularisasi) atau mengucilkan manusia sehingga teralienasi dari dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungannya. Bahkan dengan adanya konsep ini sekaligus dapat menyelesaikan konflik antara sekularisme ekstrem dan fundamentalisme negative.

Dengan adanya disiplin seperti ini menunjukan bahwa keilmuan tidak hanya sampai pada sikap single entity (arogansi keilmuan: merasa satu-satunya yang paling benar), isolated entities (dari berbagai disiplin keilmuan terjadi “isolasi”, tiada saling tegur sapa), melainkan sampai pada interconnected entities (menyadari akan keterbatasan dari masing-masing disiplin keilmuan, sehingga terjadi saling kerjasama dan bersedia menggunakan metode-metode itu berasal dari rumpun ilmu yang lain)

Pandemi Covid-19

Saat Pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertujuan untuk mencegah kerumunan orang banyak karena kerumunan disebut sebagai salah satu sumber penyebaran virus korona yang eksponensial.  

Kebijakan pemerintah tentang PSBB diambil dari inti sari ilmu pengetahuan khususnya ilmu kesehatan, kedokteran dan farmasi maupun ilmu-ilmu social budaya, baik bersumber dari Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) maupun dari organisasi kesehatan dunia di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), World Health Organization (WHO).

Peraturan pemerintah yang dipandu oleh prinsip-prinsip keilmuan dan pengalaman dunia internasional tersebut tentunya menimbulkan dampak terhadap agama islam antara lain kepercayaan dan keimanan agama dan aturan peribadatan pada umumnya.

Dalam Islam contohnya, salat berjamaah di masjid ditutup, yang akhirnya umat muslim melaksanakan shalat berjamaah di rumah. Juga ketika ibadah puasa Ramadan, salat tarawih di masjid-masjid dan mushalla serta salat idul fitri yang biasanya dilaksanakan di masjid maupun di lapangan terbuka berubah menjadi shalat dirumah

Dari pemaparan diatas, bisa dilihat bahwasannya terdapat dua kompenen yang berkaitan, yaitu agama “religion” dan ilmu “science”. Jika dilihat dari kacamata pemikiran Amin Abdullah, seharusnya persoalan-persoalan semacam ini tidak usah menjadi perdebatan dan menjadi ketegangan diantara keduanya Akan tetapi, selayaknya dua komponen tersebut bisa menjalin hubungan yang ideal, yaitu, hubungan yang bersedia berdialog, berkompromi dan berintegrasi antara keyakinan dan keilmuan agama yang mereka miliki dengan perkembangan kemajuan sains melalui penelitian di laboratorium yang berkesinambungan, khususnya dalam masalah ini adalah ilmu kesehatan.

Sehingga hal ini akan mengahasilkan dampak positif dengan gambaran bahwasannya masyarakat bisa mematuhi himbauan pemerintah dengan melaksanakan PSBB untuk mencegah penyebaran covid-19. Bahkan, bagi umat islam yang terkena wabah virus korona, selain berdoa dan didoakan oleh yang lain, perlu juga berobat ke rumah sakit untuk diterapi secara medis, yang sepenuhnya menggunakan metode ilmu pengetahuan objektif melalui pemeriksaan laboratorium yang ketat.

Keterkaitan Fikih (‘Ulumu al-din) dengan pengalaman, keahlian dan praktik sains kesehatan, kedokteran dan farmasi serta social humanitas kegotongroyongan sosial untuk bersama-sama mencegah tersebarnya virus korona adalah bentuk konkret dari corak hubungan antara agama dan ilmu yang bersifat konflik dan atau independen, namun bisa di Integrasikan.

Oleh karenanya, untuk menghindari dan mencegah penyebaran wabah pandemi virus korona, bantuan sains kedokteran, farmasi, kesehatan dan keperawatan serta ilmu-ilmu sosial dan humaniora sangat diperlukan. Maka memprioritaskan corak berpikir dan beragama progressif dengan semangat solidaritas kemanusiaan dan gotong royong adalah sangat diperlukan dan menjadi prioritas.

Metode Penelitian Ilmiah

Dari dulu kita tahu bagaimana hal-hal yang terkait dengan bidang hukum, seperti tanda kematian, masa kehamilan, masa pubertas, secara tradisional diputuskan atas dasar “bertanya kepada masyarakat”. Konsep ini merupakan metode penelitian ilmiah dari pandangan dunia seseorang, sebutlah sebagai ‘urf baru.

Maka maka menurut Amin, bertanya kepada masyarakat tidak lagi dapat diklaim sebagai benar jika tanpa disertai bukti statistik. Itu artinya, kita sekarang mau tidak mau harus bersedia masuk ke wilayah sains (science), baik ilmu-ilmu kealaman maupun ilmu-ilmu sosial, dan harus berani melangkah masuk ke protokol bagaimana sesungguhnya mekanisme hubungan antara hukum Islam dan seluruh cabang ilmu pengetahuan.

Tes DNA

Keputusan pengadilan yang mempertimbangkan masukan dari ilmu pengetahuan, dalam hal ini adalah DNA, dalam kasus menuntut hak keperdataan anak hasil kawin sirri yang tidak tercatat, menginspirasi bagaimana temuan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk mengoreksi kesepakatan (ijma’) sosial-keagamaan era klasik (anak yang hanya dapat dinisbahkan kepada ibu yang melahirkannya, ummul walad) ketika belum dapat ditemukan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan yang dapat menentukan ayah biologis dari anak tersebut.

Isu-isu sosial dan pendekatan sosial yang biasa dikaji dalam ilmu-ilmu sosial dan isu-isu humanities kontemporer yang dikaji dalam filsafat kritis-transformatif serta pendekatan saintitik dalam ilmu-ilmu kesehatan, sosial dan masih banyak lagi yang lainnya, perlu menjadi ancangan dan acuan baru dalam merumuskan ulang kajian ilmu-ilmu keislaman.

Artikel kiriman dari Sopi Ismiyati, Mahasantri Putri IIHS Darus Sunnah Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...