Beranda Khazanah Catatan dan Kesaksian Ibn Bathuthah Tentang Istanbul dan Hagia Sophia

Catatan dan Kesaksian Ibn Bathuthah Tentang Istanbul dan Hagia Sophia

Harakah.idDalam catatan perjalanannya, Ibn Bathuthah, salah seorang petualang legendaris, pernah menulis soal Hagia Sophia. Bagaimana isi catatannya?

Ibn Bathuthah adalah seorang sejarawan, goegrafer dan petualang legendaris Islam. Beliau memiliki nama asli Muhammad Ibn Abdullah, lahir di Tangier, sebuah kota di utara negara Maroko pada tahun 1304. Beliau meninggal pada tahun 1377, dengan demikian usia beliau adalah 73 tahun.

Dalam hidup beliau, Ibn bathuthah telah menjejakkan kaki di berbagai negeri di dunia. Beliau berangkat keluar dari kotanya pada tahun 1326 dalam usia 22 tahun. Beliau berjalan dari Maroko, hingga ke Mesir, Ethiopia, Syam, Hijaz, Najd, Iraq, Persia, Yaman, Oman, Bahrain, Asia tengah, India, cina, Afrika tengah, beliau juga pernah berkunjung ke negeri-negeri nusantara yang ada di pulau sumatera dan Jawa kala itu. Catatan-catatan tentang perjalanan beliau terekam dalam buku beliau berjudul Rihlah Ibn Bathuthah atau “perjalanan Ibn Bathuthah”.

Ternyata perjalanan Ibn Bathutah pernah sampai ke kota Konstantinpel, tempat dimana bangunan Hagia Sophia berada, catatan tentang perjalanan beliau ke kota tersebut ditulis dalam buku Rihlah Ibn Bathuthah (350-362). Lantas bagaimana keadaan bangunan Hagia Sophia pada saat kedatangan Ibn Bathutah kesana? Apakah ia masih berfungsi sebagai gereja dan dikuasai oleh Romawi atau sudah jatuh dalam kekuasaan Turki Usmany dan dialih-fungsikan menjadi masjid? Berikut ulasannya.

Baca Juga: Status Hagia Sophia dan Pertaruhan Reputasi Turki di Kancah Internasional

Jika melihat pada kronologi jalan panjang sejarah kota Konstantinopel atau Istanbul, ia telah mengalami berbagai dinamika sejarah yang cukup rumit, dikuasai oleh ragam identitas politik, agama dan kebudayaan, dan ini terus terjadi hingga masa sekarang.

Penaklukkan kota Kontantinopel –atau dari sudut pandang orang Eropa disebut dengan kejatuhan Konstantinopel- oleh Turki Usmany terjadi pada tahun 1453, lebih dari 50 tahun setelah Ibn Bathuthah meninggal dunia. Dengan demikian, Ibn Bathuthah pastinya mengunjung kota Konstantinopel dan bangunan Hagia Sophia saat masih berfungsi sebagai gereja. Bahkan, Ibn Bathutah sendiri tidak pernah menyaksikan atau mengetahui peristiwa penaklukkan kota tersebut oleh Turki Usmani.

Ketika menuliskan catatan tentang kota Konstantinopel dalam buku rihlah beliau, Ibn Bathuthah membuat sub-bab khusus tentang bangunan hagia Sophia berjudul “penjelasan tentang sebuah gereja yang besar dan megah”. Ibn Bathutah hanya membuat laporan tentang kenampakan dari luar bangunan tersebut, karena beliau tidak sampai memerhatikan betul sampai keadaan di dalamnya. Menariknya, Ibn Bathutah menjelaskan tidak ada larangan untuk masuk ke sana, beliau juga memasuki bangunan ini dengan ditemani salah seorang putra kerajaan.

Bangunan hagia Sophia menurut catatan Ibn Bathutah dibangun oleh Asif bin Barkhiya’ yang merupakan sepupu dari nabi Sulaiman. Saat itu, hagia Sophia merupakan satu diantara gereja terbesar  yang ada di dunia, memiliki 13 pintu yang besar-besar.

Baca Juga: Ringkasan Sejarah Hagia Sophia, Dari Basilika Kristen Ortodoks, Masjid Agung Hingga Situs Kebudayaan Kuno

Berdasarkan pengamatan Ibn Bathutah, orang-orang nasrani yang masuk kesana, terlebih dahulu sujud kepada sebuah kayu salib besar, yang diyakini merupakan kayu tempat Isa Al-masih disalib dahulu menurut mereka. Gereja itu ditinggali oleh lebih dari seribu orang Rahib dan diyakini kebanyakan mereka adalah keturunan langsung dari murid-murid nabi Isa.

Adapun kekuasaan Turki Usmani sendiri pada masa kedatangan Ibn bathutah, baru menguasai sebagian besar wilayah Anatoli, tepatnya sampai ke provinsi Bursa, 150 Km dari Konstantinopel. Usmani saat itu dipimpin oleh Orhan Bey, anak dari Osman I, pendiri kesultanan Usmaniyah. Sultan Al-Fatih atau Mehmed II yang nantinya menkalukkan Konstantinopel adalah keturunan kelima dari Orhan Bey.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...