Beranda Gerakan Catatan Manuver Politik Saudi: Di Balik Narasi Islam Moderat Arab Saudi

Catatan Manuver Politik Saudi: Di Balik Narasi Islam Moderat Arab Saudi [15]

Harakah.idPutra Mahkota KSA Muhammad Bin Salman mengatakan akan membawa Arab Saudi kembali menuju Islam moderat dan akan segera menghancurkan pemikiran-pemikiran radikal

Pada 24 Oktober 2017, dalam sebuah wawancara bersama para investor dalam forum ‘Future Investment Initiative’ yang berlangsung di Riyadh, Putra Mahkota KSA Muhammad Bin Salman mengatakan akan membawa Arab Saudi kembali menuju Islam moderat dan akan segera menghancurkan pemikiran-pemikiran radikal.

Di forum tersebut, MbS menegaskan, “Sejatinya, Kami (Saudi) hanya kembali kepada kondisi semula sebelum tahun 1979, (kembali) ke Islam moderat dan terbuka terhadap dunia luar, terbuka dengan semua agama, adat istiadat dan bangsa-bangsa lain”. MbS menambahkan, bahwa Proyek Shahwah (Shahwah Islamiyyah yang disinyalir sebagai awal dari radikalisme di Saudi) baru tumbuh di Saudi paska tahun 1979.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 1979 terjadi beberapa peristiwa besar diantaranya adalah revolusi Islam Iran dan kemudian diikuti oleh (kudeta) ‘pendudukan Mesjidil Haram’ oleh kelompok Juhaiman Al-Utaibi. Setelahnya, Arab Saudi menjadi negara yang cenderung tertutup, koalisi antara Alu Su’ud dan Alu Syeikh (Keturunan Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab) kembali dipererat, dan gerakan Shahwah Islamiyyah atau Salafiyah Sururiyah (yang kini dianggap ekstrim dan dihubung-hubungkan dengan Al-Ikhwanul Muslimin Mesir) diberi panggung dan berkembang pesat di Saudi. MbS seperti ingin menarik kesimpulan bahwa gerakan Shahwah (dengan tokoh-tokohnya seperti Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali dll) adalah penyebab radikalisme di Saudi dimana sebelum tahun 1979 Saudi adalah negara terbuka dan moderat.

Benarkah semua yang dikatakan MbS? Benarkah Shahwah Islamiyyah sumber radikalisme di Saudi? Seperti apa sejatinya Saudi sebelum tahun 1979? Lalu darimana sebenarnya asal ideologi radikal Juhaiman cs yang menduduki mesjidil haram tahun 1979? kenapa gerakan Shahwah Islamiyyah yang berkembang di era 80an kini dicap radikal dan dihubung-hubungkan dengan organisasi Ikhwanul Muslimin? Apakah MbS ingin menuding bahwa Ikhwanul Muslimin sebagai sumber radikalisme dan gerakan Wahabisme adalah gerakan Islam moderat yang rahmatan lil’ngalamin?

**

Dalam tulisannya di The Washington Post 5 April 2018, Jamal Khassoghi membantah statemen MbS bahwa sebelum tahun 1979 Saudi adalah negara yang moderat jika standar moderat adalah dibolehkannya wanita menyetir mobil atau adanya bioskop-bioskop dll. Sebab saat itu tidak ada bioskop yang dibuka untuk umum. Menurut Khassoghi yang sudah remaja di era 70an (dan tentunya MbS waktu itu belum lahir) ia tidak pernah menemukan ada wanita Saudi yang menyetir ataupun bioskop-bioskop yang dibuka untuk umum.

Justeru, era 60an dan 70-an jikapun hendak dianggap sebagai era Islam moderat di Saudi, maka itu adalah era dimana Raja Faishal menggandeng tokoh-tokoh Ikhwan yang moderat seperti Syeikh Manna’ Al-Qatthan yang mereformasi kementrian kehakiman Saudi serta mengetuai Lajnah Ilmiyah untuk pendidikan perempuan dimana sebelumnya perempuan diharamkan bersekolah dan kuliah oleh para ulama Wahabiyah konservatif.

Di tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan bagaimana pangeran Khalid Bin Musa’id yang terpengaruh dengan pemahaman kaku ulama Wahabi menyerang pusat televisi Saudi yang kemudian mengakibatkan kematiannya karena melawan aparat keamanan yang berusaha menangkapnya ditahun 1965. Jadi, sekali lagi, jikapun era sebelum tahun 1979 dianggap sebagai era Saudi moderat maka itu tak bisa dilepaskan dari peran ulama Ikhwanul Muslimin baik yang mengajar di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Saudi, menguasai kementrian penerangan dan ikut mempengaruhi kebijakan raja Faishal melalui penasehatnya yang notabene adalah Ikhwani; Syeikh Muhamamad Mahmud Shawwaf dan Dr. Ma’ruf Ad-Dawalibi.

**

Pada 20 November 1979, Juhaiman bin Muhammad Bin Saif Al-Utaibi dan para pengikutnya menduduki mesjidil haram dan menyatakan salah seorang dari antara mereka, yaitu Mohammed Abdullah al-Qahtani sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Mereka menyerukan semua Muslim untuk mena’atinya. Mereka lalu menguasai Masjidil Haram dan menyandera para jamaah haji. Tentara keamanan Arab Saudi kemudian mengepung kompleks masjid dan setelah dua minggu, para militan berhasil dikalahkan. Lalu siapa Juhaiman dan kelompoknya?

Juhaiman adalah seorang tentara berpangkat Sersan di Kementerian Garda Nasional Arab Saudi. Pasukan Garda Nasional sendiri pada awalnya adalah pasukan dari kabilah-kabilah badui konservatif yang menjadi bagian penting pasukan Raja Abdul Aziz Alu Su’ud dalam upayanya menyatukan Jazirah Arab di awal-awal berdirinya kerajaan Saudi Modern.

Pada awalnya, kabilah-kabilah badui nomaden ini ‘dirumahkan’ oleh Raja Abdul Aziz Alu Su’ud ke Riyadh sejak tahun 1911. Disana mereka digembleng dengan ideologi Wahabisme radikal untuk berjihad melawan apa yang mereka anggap sebagai orang-orang musyrikin. Saya katakan radikal salah satu sebabnya karena sebagian para ulama Wahabi era ini mengkafirkan kekhalifahan Utsmani di Turki.

Pasukan Badui ini dikenal dengan AL-IKHWAN MAN ATHA’A ALLAH (saya menyebutnya Ikhwan Wahabiyah untuk membedakannya dengan IM Mesir). Mereka adalah bagian dari pasukan raja Abdul Aziz dan memainkan peran penting dalam penaklukkan Kerajaan Hijaz (Mekkah, Madinah dan Jeddah) tahun 1924-1925 dari keluarga Syarif Husein. Akan tetapi dikemudian hari mereka berselisih dengan Raja Abdul Aziz karena penentangan mereka terhadap modernisasi Saudi seperti pemasangan pompa air modern sumur zamzam, pemasangan telegraf dll sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya.

IKHWAN WAHABIYAH juga berpendapat bahwa jihad melawan Kaum Musyrikin di Irak dan Kuwait harus dilanjutkan, hal yang tidak disetujui oleh Raja Abdul Aziz karena ia terikat perjanjian dan punya kepentingan dengan Inggris yang menguasai Irak saat itu. Karenanya, Ikhwan Wahabiyah kemudian melakukan pemberontakan ditahun 1929-1930 terhadap Alu Su’ud yang dianggap telah menyeleweng dari pemahaman Wahabisme dan berakhir dengan kekalahan Ikhwan Wahabiyah. Akan tetapi, Raja Abdul Aziz kemudian memaafkan sebagian mereka dan sisa dari pasukan ini digabungkan kedalam Pasukan Garda Nasional dimana Juhaiman adalah salah satu dari keturunan dari wilayah pasukan badui Ikhwan Wahabiyah ini.

Juhaiman Al-Utaibi belajar di Universitas Islam Madinah era 60-an. Saat itu, Saudi menjadi negara makmur paska ditemukannya ladang minyak. Secara berangsur-angsur, kehidupan sebagian masyarakat Saudi yang konservatif berubah cenderung menjadi terbuka, modern bahkan hedonis, hal yang ditentang oleh sebagian gerakan keagamaan konservatif. Karenanya, tahun 1965 terjadi pengrusakan studio-studio photo yang ada di Madinah serta pengrusakan toko-toko yang ada gambar dan photo.

Kelompok Juhaiman kemudian mengunjungi Syeikh Bin Baz untuk mendirikan Jama’ah Salafiyah yang akan melakukan amar makruf nahi mungkar mengingat banyaknya kemungkaran (menurut mereka) di Saudi saat itu. Oleh Syeikh Bin Baz nama jamaah diganti menjadi Jamaah Salafiyah Muhtasibah yang didirikan tahun 1966 dan Syeikh Bin Baz menjadi penasehatnya hingga kemudian beliau dipindahkan ke Riyadh.

Ringkasnya, fakta sejarah menunjukkan bahwa gerakan Juhaiman ini erat kaitannya dengan ideologi Wahabisme sendiri sebagai reaksi dari modernisasi (baca; penyelewengan) yang dilakukan para raja Alu Su’ud, sebagaimana sebelumnya Alu Su’ud juga bentrok dengan Ikhwan Wahabiyah. Jadi, sumber radikalisme yang coba dituduhkan oleh MbS terhadap IM sejatinya bersumber dari ideologi jumud Wahabisme sendiri.

**

Perlu juga dicatat bahwa pada saat Juhaiman menduduki mesjidil haram tahun 1979, Syeikh Bin Baz sempat mengusulkan agar masalah pendudukan ini diselesaikan dengan cara dialog sebagaimana Ibnu Abbas dulu berdialog dengan kaum Khawarij. Namun, Alu Su’ud kemudian lebih memilih untuk menggunakan kekuatan senjata dimana pada dasarnya hal itu dilarang pada bulan haram dan ditanah haram.

Menurut reportase Al-Jazeera dalam program ‘Ma Khafia A’zham’, peristiwa penaklukan terhadap kelompok Juhaiman ini melibatkan pasukan khusus/sniper Perancis yang berhasil diwawancarai oleh Al-Jazeera, dimana seharusnya orang kafir tidak memasuki tanah haram. Penggunaan kekerasan dan pertumpahan darah di mesjidil haram mengundang dikritik dari Osama Bin Laden dan kekecewaannya terhadap Alu Su’ud paska diizinkannya Jazirah Arabiyah ditempati oleh tentara kafir (AS) saat perang teluk II juga berperan penting dalam melahirkan Al-Qaeda dan ekstrimis-ekstrimis lainnya yang justru mengkafirkan Alu Su’ud.

**

Paska Peristiwa Juhaiman, Alu Su’ud mulai mengevaluasi kembali proyek ‘modernisasi’ yang sebelumnya mereka lakukan serta lebih mendekat dan mendengar kembali seruan para ulama Wahabisme. Tahun 1980, Raja Khalid Bin Abdul Aziz mengeluarkan Marsum Malaki atau titah kerajaan berupa arahan kepada menteri penerangan untuk;

1. Melarang setiap tayangan tarian perempuan ataupun penyanyi perempuan di televisi Saudi.
2. Larangan tampilnya pembawa berita perempuan di televisi Saudi.
3. Larangan tampilnya setiap perempuan Saudi di televisi.
4. Larangan memajang photo perempuan di koran dan majalah Saudi.
Selain itu, Hai’ah Al-Amru Bil Ma’ruf diberikan kewenangan lebih besar untuk menjalankan aktifitasnya.

Jadi? sekali lagi, ‘radikalisme Saudi’ yang diklaim MbS sebagai ‘ideologi impor’ sejatinya adalah produk asli Nejd dan telah ada sejak adanya kerajaan Saudi pertama yang berkoalisi dengan ideologi Wahabisme. Kembali radikalnya Saudi paska 1979 sebenarnya erat kaitannya juga dengan bertambah eratnya kembali hubungan Alu Su’ud dengan Masyaikh Wahabiah konservatif berbarengan dengan melebarnya jarak antara IM dan Alu Su’ud setelah Raja Faishal meninggal serta revolusi Iran yang juga didukung oleh Ikhwanul Muslimin.

**

Bagaimana dengan gerakan Shahwah? Gerakan Shahwah sering diidentikkan dengan Salafiyah Sururiyah dan dianggap sebagai bagian dari Ikhwanul Muslimin. Mengingat tokoh-tokoh Shahwah seperti Salman Al-Audah dan Safar Hawali punya hubungan dekat dengan Syeikh Muhamamad Surur bin Nayif Zainul Abidin dan Muhammad Qutb.

Syeikh Muhammad bin Surur sendiri adalah seorang da’i Ikhwan asal Suriah yang kemudian berbeda pendapat dengan Ikhwan Suriah (Tandzim Halab dan Hama yang lebih moderat dan diakui secara internasional dibawah kepemimpinan Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah) dan akhirnya keluar dari Ikhwan dan banyak mengkritik sikap Ikhwan.

Syeikh Muhammad Surur dikenal dengan sikap kerasnya terhadap Syi’ah. Beliau menganggap sebagian para ulama yang berusaha mendekatkan antara Sunni-Syiah sebagai ‘kaum munafik’. Sikap kerasnya terhadap Syi’ah bisa dilacak dikitab-kitab beliau seperti ‘Ightiyal Al-Hariri’, Ahwal Ahlussunah Fi Iran dan Wa Ja_a Daurul Majusi (kitab in dibeli ratusan eksemplar oleh Syeikh Bin Baz dan dibagikan gratis kepada orang-orang Saudi).

Sikap Gerakan Shahwah yang sangat anti Syi’ah tentu sejalan dengan KSA yang saat itu mulai ketakutan dengan efek revolusi Iran. Adalah hal lumrah jika Saudi ikut mensupport berkembangnya Gerakan Shahwah. Terlebih, Saudi saat itu butuh gerakan Shahwah dan Ikhwan untuk memobilisasi jihad di Afghanistan. Maka, sejatinya jika Saudi menganggap IM dan Shahwah sebagai sumber radikalisme, mereka harusnya juga bertanggung jawab karena ikut mensupportnya selama puluhan tahun.

Setelah perang Afghanistan selesai dan perang teluk II berlangsung, para da’i Shahwah menentang permintaan bantuan KSA pada Amerika untuk menyerang Irak, KSA mulai menjaga jarak bahkan cenderung memusuhi gerakan Shahwah dan Ikhwan. Paska perang teluk, Salafiyah Jamiyah/Madakhilah atau yang dikenal dengan ‘kokohiyun’ di Indonesia diberikan panggung untuk bermanuver. Sempat meredup, mereka kembali aktif berkoar-koar membela Waliyul Amri sejak Arab Spring meletus tahun 2011.

Jadi, apa sebenarnya hakikat dari Islam moderat? Apakah Saudi sebelum tahun 1979 adalah cerminan Islam moderat sebagaimana pernyataan MbS? Apakah Islam moderat adalah model beragama seperti yang diinginkan MbS dengan mengundang para musisi dan penari untuk dipertontonkan kepada rakyat negara tauhid? apakah modernisasi yang saat ini dilakukan oleh MbS adalah agar Saudi menjadi Islam moderat atau justru malah kebablasan dalam jurang liberal dan hedonis?

Kurang lebih dua puluh tahun terakhir ini umat Islam sibuk memperebutkan stempel Islam moderat, tentu menurut definisinya masing-masing. Ikhwanul Muslimin juga menganggap dakwahnya adalah dakwah Islam moderat yang enggan bersikap ekstrim dalam khilaf antara Mazhab salaf dan Khalaf dalam memahami asma wa shifat.

Ikhwan juga bersikap moderat antara mereka yang mengharamkan taklid terhadap sebuah Mazhab fiqih dan antara mereka yang menutup rapat pintu ijtihad. Sebagaimana manhaj Syeikh Al-Qaradhawi yang menjadi guru spiritual IM adalah manhaj yang moderat. Sebagian umat islam lain juga rajin mendaku moderat, disamping untuk menegasikan dan menstigma radikal pihak lain, terkadang juga dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari Barat.

Anyway..! paska ‘modernisasi’ ala MbS, kita layak menunggu bagaimana sikap para ulama Saudi khususnya Salafiyah Jamiyah/Madakhilah yang Ultra Konservatif menyikapi modernisasi tersebut. Mereka tentu bisa memilih untuk tetap diam dan ta’at kepada Waliyul Amri serta berfatwa sesuai yang diinginkan Waliyul Amri dimana keamanan mereka terjamin atau memilih mengkritisi KSA dan berakhir dalam jeruji besi serta bernasib sama seperti para ulama Shahwah dan Ikhwan atau bahkan dimutilasi seperti nasib Jamal Kashoggi?

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...