Beranda Gerakan Catatan Manuver Politik Saudi: Salafisme Titik Temu Ikhwan dan Wahabi

Catatan Manuver Politik Saudi: Salafisme Titik Temu Ikhwan dan Wahabi [6]

Harakah.id – Siapa Hasan Al-Banna? Siapa saja yang mempengaruhinya? Jawaban dari pertanyaan ini akan menuntun kita untuk mengetahui sejauh mana Ikhwan nantinya bisa berjalan beriringan bersama Wahabisme atau malah berbenturan.

Siapa Hasan Al-Banna? Siapa saja yang mempengaruhinya? Jawaban dari pertanyaan ini akan menuntun kita untuk mengetahui sejauh mana Ikhwan nantinya bisa berjalan beriringan bersama Wahabisme atau malah berbenturan. Tidak mudah memang mendeskripsikan siapa Hasan Al-Banna. Namun, kita bisa meraba-raba kemana arah pemikirannya dengan melihat kepada dan dengan siapa ia pernah berguru dan berinteraksi serta kitab-kitab apa saja yang ia baca dan mempengaruhinya.

Syeikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna As-Sa’ati (ayah Al-Banna) adalah salah satu ulama yang paling berpengaruh terhadap Al-Banna, terutama dalam ilmu hadis. Beliau menyusun kitab ‘Al-Fath Ar-Rabbani Li At-Tartib Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal As-Syaibani dalam 22 jilid. Beliau menyusun Musnad Imam Ahmad berdasarkan urutan yang detail, dimulai dengan tauhid, fiqih, tafsir, targhib dan tarhib, tarikh, kiamat dan ahwal al-akhirah. Beliau mengklaim: “Saya tidak mengetahui ada orang lain yang pernah mendahului saya dalam penyusunan seperti ini”.

Hasan Al-Banna juga dekat dengan Al-Hafiz Al-Maghribi As-Sayyid Ahmad Al-Ghumari dan adiknya Sayyid Abdullah Al-Ghumari. Tahun 1937, Ikhwan berusaha mendirikan 2 cabangnya di kota Fes (melalui Syeikh Allal Al-Fassi) dan Tangier (melalui Al-Hafid Ahmad Al-Ghumari) Maroko. Namun rencana ini digagalkan oleh penjajah Perancis saat itu. Kedekatan ini diakui sendiri oleh Sayyid Abdullah, beliau berkata: “Adapun Syeikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna dan anaknya Hasan Al-Banna ketua Jamaah Ikhwanul Muslimin keduanya adalah sahabatku. Beliau telah melakukan khidmah besar terhadap kitab-kitab hadis. Beliau menyusun Musnad Imam Ahmad menurut bab-bab fiqih, Musnad Imam Syafi’i dan Musnad Abi Daud At-Thayalisy. Semuanya adalah jasa besar terhadap ahli hadis. Akan tetapi ‘beliau bukanlah seorang Muhaddis’ rahimahullah”.

Qultu, saya berharap pembaca yang budiman tidak ‘tertipu’ dengan perkataan Sayyid Abdullah bahwa Syeikh Ahmad Abdurrahman bukan Muhaddis. Jangankan Syeikh Ahmad Abdurrahman, Sayyid Abdullah dan kakaknya menganggap bahwa Muhaddis Syam Syeikh Badruddin Al-Hasani dan Wakil Masyaikhah Utsmaniyah Syeikh Muhammad Zahid Al-Kautsai juga tidak mengetahui hadis. Kedekatan Sayyid Abdullah Al-Ghumari dengan Hasan Al-Banna membuatnya dipenjara oleh diktator Mesir Gamal Abdul Nasir selama 11 tahun karena dituduh sebagai anggota Ikhwan.

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dan Muhammad Khidir Husein At-Tunisy (Greind Syeikh Al-Azhar) termasuk yang paling berpengaruh terhadap Hasan Al-Banna. Al-Banna berkata: “…kami sering mengunjungi Perpustakaan As-Salafiyah (Maktabah Salafiyah dan percetakannya didirikan oleh Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib) dimana kami bertemu dengan Al-Mujahid Al-‘Amil Al-‘Alim Al-Fadhil Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dan bertemu dengan para ulama terkenal seperti Al-Ustad Al-Kabir Sayyid Muhammad Khidir Husein dan lain-lain sebagaimana kami sering mengunjungi Darul Ulum dan menghadiri majelis Sayyid Muhammad Rasyid Ridha”.

Kedekatan Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dengan Syeikh Khidir Husein dikemudian hari (ketika Syeikh Khidir Husein diangkat menjadi Greind Syeikh Al-Azhar) membawa Sayyid Muhibbuddin mengetuai redaksi majalah Al-Azhar sebagai tokoh salafiyah Islahiyah (Wahabiyah menurut ungkapan Syeikh Ali Jum’at) pertama yang memimpin majalah tersebut (ada alm Dr. Muhammad Imarah setelahnya).

Kedekatan pemikiran Al-Banna dan Rasyid Ridha juga terlihat ketika keluarga Rasyid Ridha meminta Hasan Al-Banna untuk menerbitkan kembali majalah Al-Manar setelah beberapa beberapa tahun karena meninggalnya Sayyid Rasyid Ridha. Hasan Al-Banna kemudian menerbitkan kembali majalah Al-Manar selama lima edisi sebelum berhenti dikarenakan (salah satu sebabnya) oleh kritik dari pembaca Al-Manar terhadap sikap Hasan Al-Banna yang terlalu lunak dalam masalah Asma Wa As-Shifat.

Sebagaimana diketahui, Sayyid Rasyid Ridha cenderung keras dalam berpegang kepada manhaj salaf dan menegasikan Khalaf, hal yang kurang disetujui Hasan Al-Banna dimana Al-Banna menolak untuk menyesatkan pemahaman Khalaf dalam masalah Asma wa As-Shifat meskipun ia sendiri lebih memilih manhaj salaf. Karenanya, tidak mengherankan jika sebagian tokoh Ikhwan setelah Al-Banna mentakwilkan ayat-ayat shifat seperti yang dilakukan Sayyid Qutub dalam tafsirnya. Dan tidak mengherankan juga jika Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta mengunakan kitab ‘Risalah Al-Aqaid’ Hasan Al-Banna dalam kurikulumnya.

Penting juga disebutkan bahwa Hasan Al-Banna juga terpengaruh dengan gurunya Syeikh Abdul Wahab Hashafy (Syeikh Tarikat Hashafiyah) di Damanhur. Sebagaimana beliau sering mengutip dan mensyarah kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali dalam pengajian mingguan ‘Hadis As-Tsulasa’nya.

Interaksi Al-Banna dengan berbagai kalangan melahirkan sebuah harmoni dalam kepribadiannya. Ada rasionalitas Al-Afghani dan Abduh dalam dirinya, ada salafiyah Rasyid Ridha dan Al-Khatib dan kejernihan tasawwuf dari Syeikh Al-Hashafy. Ditambah perbendaharaan hadis dari sang ayah, Rasyid Ridha dan Al-Ghumari bersaudara.

Pribadi Al-Banna yang menarik membuat ia menjadi magnet bagi para intelektual di Mesir waktu itu, dakwahnya disambut oleh berbagai kalangan, oleh para ahli fiqih seperti Sayyid Sabiq dan Syeikh Al-Baquri (Menteri urusan waqaf), oleh mereka yang cenderung ke hadis seperti Syeikh Abu Ghuddah, atau bahkan yang cenderung ke tasawwuf seperti Syeikh Muhammad Al-Hamid Al-Hamawi. Adapun Dr. Musthafa As-Siba’i, maka ia adalah sisi mata uang yang lain dari pribadi Al-Banna.

Manhaj Ikhwan yang lentur memudahkan mereka untuk beradaptasi dengan salafiyah konservatif di Saudi dan bahkan memberikan corak warna baru terhadap Ikhwan yang kemudian sedikit lebih condong ke Salafiyah setelah era 60-an dan keluarnya sebagian ulama-ulama lulusan Al-Azhar dari jama’ah. Kedekatan tokoh-tokoh Ikhwan dengan madrasah Asya’irah-Maturidiyah juga mengakibatkan sebagian mereka ‘dipersekusi’ di Saudi. Sebagaimana yang dialami Sayyid Qutub ketika ‘dihujat’ oleh Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali, atau seperti Abu Ghuddah yang ‘diteror’ oleh Syeikh Albani hingga beliau menulis bantahannya: ‘Kalimat Fi Kasyfi Abathil Wa Iftiraat’. Kedekatan Syeikh Abu Ghuddah dengan Syeikh Zahid Al-Kautsari yang anti Wahabi juga membuatnya ‘dipersekusi’ oleh Syeikh Bakr Zaid dan Syeikh Bin Baz untuk berlepas diri dari Syeikh Al-Kautsari, hal yang tak mungkin dilakukan Syeikh Abu Ghuddah rahimahumullah

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...