Beranda Gerakan Catatan Manuver Politik Saudi: Sejarah Awal Hubungan Saudi Arabia-Ikhwanul Muslimin

Catatan Manuver Politik Saudi: Sejarah Awal Hubungan Saudi Arabia-Ikhwanul Muslimin [5]

Harakah.id – Bagaimana awal hubungan KSA-IM? Tulisan pendek ini akan menjelaskan bagamana hal itu bermula.

Sebagaimana diketahui, kerajaan Saudi modern lahir atas dasar koalisi antara Bani Sa’ud dan Alu As-Syaikh (keturunan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan wahabisme). Selain itu, pasukan Raja Abdul Aziz juga didukung oleh tentara kabilah-kabilah badui Nejd yang dikenal dengan Gerakan Ikhwan Badui (saya menambah kata Badui untuk membedakannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin Mesir.

Syeikh Hafiz Wahbah (diplomat dan penasehat Raja Abdul Aziz dari Mesir) menuturkan dalam kitabnya ‘Al-Jazirah Al-Arabiyah Fi Al-Qarn Al-‘isyrin’ (Cet Lajnah At-Ta’lif Wa at-Tarjamah Wa An-Nasyr, tahun 1935 hal: 33-34) bahwa tahun 1927, King Abdul Aziz berencana untuk menarik air zamzam dengan pompa air modern yang akan di impor dari Mesir. Pada waktu itu, air zamzam masih diangkat secara manual dengan timba-timba dari kulit oleh orang-orang Badui yang memanfaatkan jasa timba dan angkut air zamzam sebagai mata pencaharian mereka. Pipa-pipa mulai dipasang. Para Badui Nejd menyadari bahwa proyek pompa air modern ini akan menutup mata pencaharian mereka. Karenanya, mereka menghasut orang Nejd yang ada di Mekkah untuk menentang proyek tersebut. Alasannya adalah bahwa proyek tersebut akan mendatangkan bala terhadap umat Islam. King Abdul Aziz yang butuh pada pasukan Badui yang loyal pada waktu itu tidak punya pilihan lain kecuali menghentikan proyek tersebut.

Sikap jumud kaum Badui Nejd terhadap hal-hal baru menyadarkan King Abdul Aziz bahwa proyeknya untuk memodernisasi Kerajaan Arab Saudi yang baru seumur jagung menghadapi penentangan dari loyalisnya sendiri. Selain itu, para ulama Wahabi yang Ultra Konservatif juga memfatwakan haramnya telegram. Karena hal tersebut akan mendatangkan bala dan membuat Kerajaan dikuasai Inggris. Tak hanya itu, Lembaga Amar ma’ruf nahi mungkar yang didirikan tahun 1940 juga mengharamkan sepeda dan menjulukinya dengan ‘Hishon Iblis’ atau kuda Iblis. Menurut keyakinan wahabiah konservatif, sepeda berjalan karena adanya konspirasi iblis. Meraka juga mengharamkan anak-anak perempuan untuk sekolah. Fatwa haram terhadap hal-hal modern terjadi juga pada televisi (kemudian sedikit demi sedikit mulai melembek dan diralat, perempuan juga mulai dibolehkan menonton televisi dengan syarat mereka tetap menutup wajah mereka agar tak dilihat oleh penyiar berita laki-laki), photography haram secara mutlak (kecuali photo para raja. Dikemudian hari semakin melembek dan dibolehkan dalam kondisi darurat) dan radio diharamkan (karena termasuk meniru ciptaan Allah berupa suara) serta hal-hal lainnya yang berbau modern.

Karena hal inilah, King Abdul Aziz ‘mengimpor’ banyak ulama dan cendekiawan muslim dari Mesir (seperti Hafiz Wahbah dll), Suriah (seperti sejarawan Khairuddin Az-Zirikly dll), Irak (Rasyid Ali Al-Kailany dll), Lebanon (Fuad Hamzah dll), Palestina ( Rusydi Malhas dll) untuk berkontribusi dalam membangun Saudi baru. Yang dipanggil tentu saja mereka yang sedikit banyaknya dekat dengan ideologi wahabisme atau minimal tidak menentang frontal wahabisme. Para sejarawan menamakan mereka dengan Salafiyah Ishlahiyah (salafi reformis yang moderat) untuk membedakannya dengan Wahabi Saudi yang ultra Konservatif.

Selain mengundang mereka ke Saudi, King Abdul Aziz juga menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh Salafiyah Ishlahiyah di Mesir seperti Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dll. Meski bermanhaj salafi, mereka tidak menolak modernisasi. Hubungan mereka dengan Syeikh Muhammad Abduh yang cenderung rasional bisa menjelaskan arah pemikiran mereka. Merekalah yang awalnya berjasa mencetak manuskrip-manuskrip kitab para ulama Salafi seperti Ibnu Taimiyah cs.

Hasan Al-Banna sendiri menceritakan dalam kitabnya ‘Mudzakkirah Ad-Dakwah Wa Ad-Da’iyah’ (Cet Dar Ad-Dakwah 2011 hal: 70) bahwa pada tahun 1928 Syeikh Hafiz Wahbah (Penasehat Raja Abdul Aziz) meminta kepada Jam’iyah Syubbanul Muslimin (salah satu pendirinya adalah Syeikhul Azhar Syeikh Muhammad Khidir Husein At-Tunisy) agar mengirimkan tenaga pengajar ke Saudi. Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib (Paman Syeikh Ali At-Thantawi) kemudian merekomendasikan Hasan Al-Banna (yang waktu itu merupakan salah satu tokoh muda Jam’iyah) untuk ke Saudi. Namun, persyaratan yang disyaratkan Al-Banna ke Syeikh Hafiz Wahbah dan birokrasi Mesir dan Saudi yang rumit waktu itu membuat rencana itu batal. (Mesir saat itu belum mengakui kerajaan Saudi).

Dari penjelasan diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sejak awal berdirinya, KSA lah yang membutuhkan para ulama dan da’i reformis untuk diajak membangun Saudi mengingat bahwa Wahabiyah Konservatif sulit menerima hal-hal baru dan modern.

Kita cukupkan dulu guys.. !

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...