Beranda Keislaman Hadis Cerita Keampuhan Doa 'Pawang Hujan' Rasulullah SAW, Hujan Langsung Minggir

Cerita Keampuhan Doa ‘Pawang Hujan’ Rasulullah SAW, Hujan Langsung Minggir

Harakah.idRasulullah SAW memberi isyarat dengan tangannya ke satu arah. Terlihat, gumpalan awan segera bercerai-berai. Hujan berhenti. Hujan hanya mengguyur sekitar Madinah. Tapi tidak di kota Madinah.

Pawang hujan. Sirkuit Mandalika menyuguhkan atraksi fenomenal Mbak Rara. Pawang hujan yang dibayar ratusan juta untuk mengendalikan hujan selama perhelatan. Pemberitaan media dan antusiasme netizen merespon local wisdom tersebut menjadi penanda bahwa ia sangat iconic.

Menurut pemberitaan, upaya Mbak Rara selama perhelatan cukup berhasil. Hujan petir menjadi reda setelah dia melakukan ritualnya mengelilingi sirkuit dan diabadikan kamera wartawan. Akun twitter MotoGP menyatakan WORKED!! Merespon kesuksesan ritual tersebut.

Masyarakat pada umumnya mengharapkan ada orang yang dapat meminta kepada Allah dan permintaannya dikabulkan. Lalu, mereka akan merasa terjawab persoalannya. Terselesaikannya masalah terkadang membuat mereka mengagumi orang yang telah membantu. Tidak jarang, orang yang membantu menyelesaikan menjadi idola atau semacam pahlawan di kemudian hari. Dalam konteks ini, ‘keajaiban’ yang dibawa Mbak Rara membuatnya menjadi idol atau pahlawan, khususnya bagi penyelenggara MotoGP.

Cerita serupa pernah dialami oleh Rasulullah SAW. Pada suatu waktu, kota Madinah yang beliau pimpin mengalami kemarau parah. Tanaman dan perkebunan kering karena kurang air. Hewan-hewan mati karena kehausan. Banyak harta kekayaan masyarakat yang hancur. Banyak orang kelaparan. Perjalanan ke luar kota untuk berdagang juga tidak mungkin dilakukan karena sangat panas dan tak ada bekal air. Situasi sangat kritis saat itu.

Pada suatu hari Jum’at, Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Lalu berdiri seorang lelaki. Dia berkata, “Wahai Rasulullah. Harta benda sudah hancur. Keluarga kelaparan. Berdoalah kepada Allah untuk kami.” Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya.

Anas bin Malik –sahabat Nabi SAW, menyaksikan bahwa langit kemudian menjadi gelap. Anas  berkata, “Demi Tuhan penguasa jiwaku, Rasulullah belum menurunkan tangannya tapi mendung sudah berdatangan seperti gunung-gunung. Beliau belum turun dari mimbarnya sampai saya melihat bahwa air hujan telah turun membasahi janggutnya. Pada hari itu, kami diberi hujan yang melimpah.”

Anehnya, hujan itu tidak berhenti hingga keesokan harinya. Demikian pula esok lusanya. Hujan terus turun sampai seminggu penuh. Jum’at berikutnya, seorang lelaki berdiri saat Rasulullah SAW berkhutbah. Ia meminta agar hujan dihentikan.

Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, rumah-rumah dan bangunan telah hancur karena hujan, harta benda telah tenggelam karena banjir. Berdoalah kepada Allah.” Rasulullah SAW kembali mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa: “Allahumma hawalaina wa la ‘alaina” (Ya Allah, turunkan hujan di sekitar kami –penduduk kota Madinah. Jangan turunkan kepada kami –penduduk Madinah).

Rasulullah SAW memberi isyarat dengan tangannya ke satu arah. Terlihat, gumpalan awan segera bercerai-berai. Hujan berhenti. Hujan hanya mengguyur sekitar Madinah. Tapi tidak di kota Madinah.

Menurut penuturan sahabat Anas bin Malik, masyarakat akhirnya kembali sejahtera. Mereka melaporkan bahwa hujan telah mendapatkan keberhkahan yang melimpah.

Demikian kisah dan cerita keampuhan doa pawang hujan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan, memiliki keistimewaan. Doanya mustajab. Dikabulkan oleh Allah.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...