Cerita Kiai Hasyim Zaini dan Santri yang Ketahuan Nonton Film di Bioskop

0
322
Cerita Kiai Hasyim Zaini dan Santri yang Ketahuan Nonton Film di Bioskop

Harakah.id Kiai Hasyim Zaini adalah salah satu pengasuh Ponpes Nurul Jadid. Sosok yang dikenal sebagai pribadi yang ramah dan tak pernah marah ini wafat pada tanggal 11 Ramadan.

Kiai Hasyim Zaini lahir dari pasangan KH. Zaini Abdul Mun’im dan Nyai Nafi’ah. Di masa kecilnya, beliau menghabiskan masa-masa belajarnya dengan mengaji langsung kepada ayahanda dan ibundanya. Setelah beranjak cukup dewasa, Kiai Hasyim muda pun melanjutkan pendidikannya di Peterongan Jombang, di bawah asuhan KH. Musta’in Romli.

Pasca hatam mengaji kepada Kiai Musta’in, Kiai Hasyim pun kembali ke Paiton untuk membantu ayahandanya, Kiai Zaini Mun’im, mengurusi pondok pesantren. Sembari menemani ayahandanya mengurus santri, Kiai Hasyim melanjutkan pendidikannya ke Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU).

Kiai Hasyim adalah pengasuh kedua Ponpes Nurul Jadid Pasca Kiai Zaini Mun’im wafat. Sebagai putera tertua dari tujuh bersaudara, Kiai Hasyim pun melanjutkan tongkat kepengasuhan pesantren. Bersama dengan Kiai Hasan Abdul Wafi dan adik-adiknya, Kiai Hasyim terus berupaya memperbaiki kualitas pendidikan di Nurul Jadid. Salah satu yang jadi fokus beliau kala itu adalah penguatan keilmuan turats bagi seluruh santri.

Kiai Hasyim dikenal dan dikenang sebagai sosok yang ramah, santun, tenang dan tak pernah marah. Kisah-kisah tentang beliau selalu adalah kisah-kisah tentang kesantunan, kebaikan hati dan mulianya ahlak. Salah satu kisah yang masyhur tentang beliau adalah sewaktu beliau mendapati salah satu santrinya menonton film di bioskop.

Ini seperti yang dialami oleh salah satu santrinya, Hasyim Syamhudi. Ceritanya, ketika itu di bulan Ramadhan, kegiatan libur dan santri banyak yang pulang. Syamhudi yang kala itu menjadi pengurus pesantren, bersama beberapa sahabatnya pergi ke kota Kraksaan untuk menonton bioskop yang memutar cerita perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman.

Seusai nonton bioskop, Syamhudi dipanggil Kiai Hasyim. Mendapat panggilan tersebut, Syamhudi terkejut. Karena dia yakin bahwa Kiai Hasyim tidak mengetahui kepergiannya menonton bioskop. Tapi akhirnya dia harus menghadap kepada Kiai Hasyim. Di kediamannya, Kiai Hasyim bertanya; “Lebur (bagus) film yang ananda tonton?” “Iya,” jawab Syamhudi sambil menunduk rapat-rapat. “Bagaimana baiknya?” “Cerita tentang perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman”

“Begini, apa pun yang benar tapi jika menimbulkan fitnah, itu juga termasuk dosa. Misalkan, ada seorang ustadz membeli kacang. Kacang tersebut halal. Cara membelinya juga dengan jalan yang halal, dari uang hasil jerih-payahnya sendiri. Tapi kemudian, ustadz tersebut memakan kacang itu sambil berjalan. Tidak duduk. Nah, begitu juga dengan menonton bioskop. Film itu tidak haram. Gedung bioskop juga tidak haram. Tapi yang perlu dipertimbangkan adalah opini masyarakat, bahwa film dan bioskop itu nuansanya jelek.

Sementara anda adalah pimpinan, baik di sini, di Tanjung dan di Kraksaan,” ujar Kiai Hasyim. Mendengar teguran tersebut, Syamhudi kemudian mohon maaf dan siap menerima hukuman dari Kiai Hasyim. Akhirnya, Kiai Hasyim menyuruh Syamhudi untuk berdiri di depan kediaman beliau sambil membaca istighfar sebanyak 1000 kali.

Dengan segala kemuliaan akhlaknya, Kiai Zaini Mun’im tak pelak diberi banyak karomah oleh Allah SWT. Banyak sekali kisah-kisah tentang karomah beliau.

Kiai Hasyim Zaini wafat pada tanggal 11 Ramadan 1404 H dan dimakamkan di kompleks pemakaman pengasuh Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo.