Cerita Nabi Muhammad SAW Bisa Menulis, Ini Penjelasan Ulama

0
1103

Harakah.id Nabi Muhammad SAW dikenal tak bisa baca dan tulis. Ini merupakan informasi yang umum menyebar di kalangan umat Islam. Tetapi, ada cerita Nabi Muhammad SAW bisa menulis. Sekalipun tanpa belajar. Ini penjelasan ulama.

Sudah masyhur dikalangan umat muslim, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah termasuk Nabi yang tidak bisa baca-tulis. Oleh karenanya, salah satu nama beliau adalah al-Ummiy.

Namun, bukan berarti hal tersebut menjadikan ketidak sempurnaan terhadap beliau, justru dengan ke-ummiyannya dapat menguatkan bahwa al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah swt. bukan buatan Nabi Muhammad saw. hal ini sebagaimana firman Allah swt.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

“dan kamu tidak membaca sebelumnya sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)” (Q.S. al-Ankabuut: 48).

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنِى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ الْقَاضِى حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحُسَيْنِ حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا الأَسْوَدُ بْنُ قَيْسٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ … الحديث

Beliau bersabda bahwa “sesungguhnya kami ummat yang ummi (tidak bisa baca tulis) kami tidak menulis dan menghitung”

Namun, saya menemukan tulisan yang membuatnya terperangah membacanya. Tulisan tersebut mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah menulis dengan tangannya sendiri. Tulisan tersebut membuat saya mencari referensi di dalam kitab-kitab, utamanya kitab tafsir. Sebab, tulisan tersebut seolah-olah bertentangan dengan ayat al-Qur’an serta hadis yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis.

Setelah saya melacak di beberapa kitab tafsir, ternyata saya menemukan di dalam kitab tafsir al-Thabari ketika menafsirkan surah al-Ankabuut ayat 48. Di dalam tafsir tersebut dijelaskan bahwa ketika peristiwa perjanjian Hudaibiyyah, di situlah Nabi menulis kata Muhammad ibn Abdillah dengan tangannya sendiri. Kurang lebih ceritanya seperti ini:

Ketika terjadi ketegangan antara kalangan Muslim dengan kaum Quraisy Makkah, Mereka (kaum muslim) menghendaki memasuki Makkah untuk melakukan umrah serta bertawaf disana. Sementara kaum Quraisy menolak mereka untuk memasuki Makkah. Sebagai bukti bahwa mereka hanya mau melakukan tawaf di Kakbah, mereka menyarungkan pedangnya sebagai tanda bahwa meraka tidak mau memerangi kafir Quraisy Makkah. Namun, kafir quraisy tetap bersikukuh melarang umat muslim untuk memasuki Makkah. Bahkan, mereka mengatakan lebih baik mati dari pada kaum muslim memasuki kota Makkah.

Singkat cerita, kafir Quraisy Makkah mengutus Suhail Ibn Amr, yang sebelumnya sudah mengutus tiga orang yaitu: Budail Ibn Warqa’ al-Khuzai, Mikraz ibn Hafs al-Akhyaf dan Urwah ibn Mas’ud ats-Tsaqafi. Namun, ketiga utusan tersebut belum menemukan kata sepakat. Barulah setelah Nabi berunding dengan Suhail Ibn Amr, keduanya sepakat menuliskan sebuah perjanjian, yang kemudian perjanjian tersebut dikenal dengan nama perjanjian Hudaibiyyah (suluh al-hudaibiyyah).

Ali ibn Abi Thalib merupakan orang yang ditugaskan untuk menulis perjanjian tersebut. Nabi Muhammad mengatakan kepada Ali, “Tulislah perjanjian di antara kita dengan lafadz bismillahi al-rahman al-rahim haadza maa qaada alaihi Muhammad rasulullah (dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Perjanjian ini disepakati oleh Muhammad Rasulullah).” 

Namun, orang-orang musyrik menolaknya, seraya berkata: seandainya kami menyakini bahwa kamu adalah utusan Allah, niscaya kami akan mengikutimu. Akan tetapi, tulislah Muhammad Ibn Abdillah.

Kemudian Nabi Muhammad saw. menyuruh Sayyidina Ali untuk menghapus teks tersebut dan menggantikannya dengan lafaz yang diinginkan oleh kaum musyrik. Kemudian Ali mengatakan,“Demi Allah aku tidak akan menghapusnya.” Lalu Nabi bersabda, “Tunjukkan kepadaku dimana tempatnya (lafadz Rasulullah).” Kemudian Sayyidina Ali menunjukkannya. Lalu Nabi Muhammad saw. menghapusnya sendiri dan menulisnya dengan lafadz Muhammad Ibn Abdillah.

Hadis yang menceritakan hal tersebut juga bisa di lihat di dalam kitab Shohih Muslim pada hadis nomor 4731.

Nah, berdasarkan hadis tersebut, Imam Thabari mengatakan:

قال علماؤنا رضي الله عنهم: وظاهر هذا أنه عليه السلام محا تلك الكلمة التي هي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بيده، وكتب مكانها ابن عبد الله.

“Ulama kita berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw. menghapus kalimat Rasulullah dan menggantikannya dengan lafadz ibn abdillah menggunakan tangannya sendiri”. 

Pendapat ini sejalan dengan pendapatnya Al-Sam’ani, Abu Dzar dan Al-Baji. Bahkan, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari lebih jelas maknanya yang mengarahkan bahwa memang Rasulullah sendiri yang menulisnya. Hadis tersebut ialah:

… فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ فَكَتَبَ هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ … الحديث 

Lalu muncul pertanyaan kritis, kalau begitu Nabi Muhammad saw. tidak ummi? Lalu bagaimana dengan al-Qur’an dan hadis yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. ummi, sebagaimana sudah dituliskan diatas?

Untuk menjawab pertanyaan ini, lalu Imam al-Thabari melanjutkan penjelasannya di dalam kitab monumentalnya, Tafsir al-Thabari. Beliau menjelaskan bahwa kejadian tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ayat al-Qur’an maupun hadis. Bahkan, hal tersebut menambah kemukjizatan Nabi Muhammad saw. yang pada mulanya tidak bisa menulis, lalu karena ada kebutuhan mendesak, sehingga beliau bisa menulis tanpa belajar menulis. Menurutnya, Allahlah yang menggerakkan tangan dan pena Nabi saw. sehingga beliau bisa menuliskan tulisan tersebut.

Itulah sekelumit pendapat ulama yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah menulis. Walaupun ada sebagian ulama lain yang mengingkari pendapat tersebut. Bahkan, sampai ada yang sangat radikal, mereka langsung mengkafirkan ulama yang berpendapat demikian. Lalu pendapat yang mana yang benar? wallahu a’lam bi al-shawab.