Beranda Keislaman Tafsir Cinta dalam Pandangan Al-Qur’an, Bekal Perjalanan Hamba Menuju Allah

Cinta dalam Pandangan Al-Qur’an, Bekal Perjalanan Hamba Menuju Allah

Harakah.id Sesungguhnya cinta kepada Allah itu bukan hanya pengakuan secara lisan bukan pula khayalan dalam angan-angan saja. Tetapi harus dibuktikan dengan sikap mengikut Rasulullah saw., melaksanakan perintahnya dan petunjuknya dalam mengarungi kehidupan.

Mengenai perihal kata cinta atau yang dalam bahasa Arab dikenal Mahabbah berasal dari kata Ahabba-Yuhibbu-Mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam.

Sebelum membahas Kata cinta dalam al-Qur’an, perlu diketahui bahwasannya cinta itu sebuah perasaan (emosional), yang tidak bisa didefiniskan secara jelas oleh manusia. Namun cinta hadir dengan sendirinya, tanpa bisa ditebak kapan, dimana dan dengan siapa seseorang bisa merasakannya. Cinta itu sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sebagai sebuah tabi’at dalam dirinya. 

Perlu diketahu bahwasannya cinta itu membawa kecerian atau kebahagian, tetapi sebaliknya ketika mengalami putus cinta merupakan pangkal kesedihan yang sangat -mendalam. Karena lezat dan idahnya cinta, maka bisa melahirkan bermacam-macam seni keindahan dalam segala rupa dan bentuknya untuk merangsang tumbuh dan berkembangnya cinta. 

Dalam kitab al-Mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba juga menegaskan, cinta adalah lawan dari kata benci. Cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu yang menyenangkan. Dalam definisi al-Muhasabi, Cinta diartikan sebagai “kecenderungan hati secara total pada sesuatu, perhatian terhadapnya itu melebihi perhatian kepada diri sendiri, jiwa, dan harta.

Sedangkan mengenai cinta dalam al-Qur’an, al -Qur’an mengarahkan kepada kita untuk mencintai segala sesuatu yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menghindari dari sesuatu yang memperudaknya. 

Di dalam al-Qur’an sudah dijelaskan perihal cinta sebagaimana firman Allah swt. Dalam al-Qur’am surat al-Imran ayat 31-32 : 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian,” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Sesungguhnya cinta kepada Allah itu bukan hanya pengakuan secara lisan bukan pula khayalan dalam angan-angan saja. Tetapi harus dibuktikan dengan sikap mengikut Rasulullah saw., melaksanakan perintahnya dan petunjuknya dalam mengarungi kehidupan. 

Menurut Qurasih shihab dalam kitabnya, Tafsir al-Misbah, menjelaskan adapun makna cinta, ini pun masih diperselisihkan. Hal ini boleh jadi karena cinta tidak dapat dideteksi kecuali melalui gejala-gejala psikologi, sifat-sifat perilaku dan pengaruhnya yang diakibatkan pada diri seseorang yang mengalaminya. Pada hakekatnya cinta adalah dasar dan prinsip perjalanan hamba menuju Allah. Semua keadaan dan peringkat yang dialami oleh pejalan adalah tingkat-tingakatan cinta kepada-Nya, dan semua tingkatan (maqam) dapa mengalami kehancuran kecuali tingkatan cinta kepada-Nya. 

Sedangkan Ibnu Katsir dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, mengatakan hal yang senada seperti Qurais Shihab, bahwasannya ayat ini menghukumi atas setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah, tetapi tidak mengikuti jalah hidup yang diajarkan Nabi Muhammad saw. 

Adapun tentang cinta Allah kepada hamba-Nya, adalah sebuah anugerah Allah yang tidak ada batasnya, karena itu limpahan karunia-Nya pun tidak ada batasnya juga. Limpahan anugerah dan karunia-Nya itu tergantung kadar cinta manusia kepada-Nya. Pada dasarnya Allah pasti mencintai setiap hambanyam dan tingkat kecintaan Allah kepada hamba-Nya tergantung cinta hamba itu sendiri. 

Perlu diketahui bahwa mencintai sesuatu  ataupun mencintai makhluk-Nya tanpa disandarkan kepada sang Khalik maka dikatakan bodoh. Alangkah meruginya seorang pecinta yang menjual dirinya dengan harga yang sangat murah kepada selain yang seharusnya ia cintai pertama kali, juga kepada syahwat sesaat, yang cepat hilang kenikmatannya dan tinggal resikonya, cepat lenyap manfaaatnya dan tetap mengendap madharatnya. 

Demikian penjelasan Cinta dalam pandangan al-Qur’an. Semoga ulasan tentang cinta dalam pandangan Al-Qur’an ini bermanfaat. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...