Beranda Keislaman Hikmah Cinta Tanah Air Tak Boleh Luntur, Cerita Perjuangan Melawan Kolonial dari Tanah...

Cinta Tanah Air Tak Boleh Luntur, Cerita Perjuangan Melawan Kolonial dari Tanah Gowa

Harakah.id Ber-setting-kan Kerajaan Gowa masa kepemimpinan Sultan Hasanudin, novel lawas ini tak hanya menampilkan adegan perbucinan jalinan kasih antara Elis Pareira si darah ayu dari Portugis dan Caddi si karaeng dari Palangga. Novel lawas ini juga memberikan banyak pelajaran hidup, agama, sejarah, budaya, hingga mengajarkan semangat cinta tanah air.

“Hubbul wathan minnal iman”, artinya: cinta tanah air bagian dari iman. Kiranya kutipan itu pas untuk menggambarkan prinsip Karaeng Caddi, salah satu tokoh utama dalam novel “Gadis Portugis: Kisah Gadis yang Terseret Cinta di Medan Perang” karya Mappajarungi Manan. 

Ber-setting-kan Kerajaan Gowa masa kepemimpinan Sultan Hasanudin, novel lawas ini tak hanya menampilkan adegan perbucinan jalinan kasih antara Elis Pareira si darah ayu dari Portugis dan Caddi si karaeng dari Palangga. Novel lawas ini juga memberikan banyak pelajaran hidup, agama, sejarah, budaya, hingga mengajarkan semangat cinta tanah air.

Mappajarungi tak hanya membawa pembaca melihat bagaimana si gadis cantik berdarah Portugis terseret cinta sampai ke medan Perang Makassar. Namun, juga membawa pembaca menyelami bagaimana perasaan Karaeng Caddi dan para karaeng serta daeng tanah Gowa akan cinta mereka terhadap tanah air, yang sampai kapan pun dan di mana pun kaki mereka berpijak, tanah air tetap tertanam dalam cinta mereka.

Bagaimana dilemanya Karaeng Caddi yang harus memilih pergi belajar di Pesantren Puang Guru Abdul Fatah  di tanah Wajo, padahal waktu itu sedang ada perang melawan Belanda yang mendapat bantuan Arung Palaka beserta pengikutnya. 

Namun, Karaeng Caddi tetap harus pergi belajar, sebab sebagaimana kata Amir Hamzah, “Ilmu itu juga penting untuk kemajuan negara kita. Menuntut ilmu itu demi kemajuan kita dan masyarakat.”

Banyak hal yang dipelajari Karaeng Caddi pada Tuan Guru Abdul Fatah. Agama, sejarah, adat orang Sulawesi, ilmu pemerintahan, dan lainnya yang terlalu banyak, jadi saya tak bisa uraikan semuanya dalam resensi ini. 

Ada satu pelajaran yang dikatakan Puang Guru pada Karaeng Caddi saat mengingatkan akan kejatuhan Kerajaan Gowa, “Kita hanya berdoa semoga Allah melindungi kita semua dari angkara murka duniawi. Ada hal yang tidak ditegakkan dan dilaksanakan oleh Kerajaan Gowa. Rakyatnya masih suka mabuk-mabukan dan judi. Itulah yang menurunkan moral pihak rakyat Gowa….”

Tingginya moral masyarakat akan mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Dan moral itu dipengaruhi oleh sejauh mana pengamalan agama oleh masyarakat. Sebab agama adalah pandangan hidup masyarakat, sudah barang tentu akan sangat mempengaruhi baik tidaknya moral masyarakat.

Perang puncak yang menjadi setting dalam novel lawas ini adalah Perang Makassar yang adalah perang dahsyat yang pernah terjadi di tanah Sulawesi pada abad 17 M. Dalam novel ini kita bisa melihat bagaimana dendam dan ambisi kekuasaan membuat Arung Palaka beserta pengikutnya lebih memilih menjadi alat Belanda dan menyerang sesama pribumi. Ironis, saat melihat sesama pribumi saling berperang hanya karena diperalat penjajah.

Sementara, sebaliknya, orang-orang Portugis dan Cina yang sudah punya kesadaran cinta akan tanah air Kerajaan Gowa waktu itu, sebab mereka sadar kalau sudah banyak menjalani hidup di tanah itu, mendorong mereka ikut membantu membela Gowa melawan Belanda.

Seiring berjalannya perang, Sultan Hasanudin menjadi dilema, apa  mau meneruskan peperangan atau tidak? Gowa masih punya kekuatan militer yang kuat, namun sayang dampak dari perang itu adalah kesengsaraan para rakyat sipil. Perjanjian Bogayya pun dibuat sebagai upaya perdamaian. Namun, jelas banyak karaeng yang tak setuju. 

Termasuk Karaeng Caddi yang juga tetap melakukan perlawanan terhadap para penjajah. Baginya tanah airnya tak boleh sedikit pun diinjak-injak oleh penjajah, maka selagi nafas dikandung badan perjuangan tak boleh berhenti. Bukannya tak patuh pada Sultan, namun dirinya tetap akan terus berjuang. Sultan pun maklum dengan keputusan Karaeng Caddi dan karaeng lainnya yang sependapat dengan Caddi.

Namun, lambat laun, Caddi pun merasakan dilema layaknya Sultan Hasanudin. Jumlah pasukan sudah tak seimbang, pasokan makanan menipis, ah apa yang harus dilakukan? Daripada jadi budak Belanda dia pun memilih meninggalkan tanah Gowa. 

Bukan lari atau pengecut, kata Karaeng Caddi, “Inilah hukum perang. Kita kekurangan bahan makanan, senjata, dan telah banyak prajurit Gowa mengikuti karaengnya melakukan perlawanan di luar Gowa. Percayalah, prajurit-prajurit Gowa tak kenal menyerah. Bertahan mati konyol dengan kekurangan itu, Tuhan juga tidak meridhai. Kita harus hijrah untuk menyusun kekuatan baru.”

Dirinya meninggalkan Gowa bukan karena ingin lari atau takut berperang. Melainkan untuk mencari tempat baru menggalang kekuatan. Karaeng Caddi pun berkata, “Kita tinggalkan Gowa bukan berarti kita kalah, tetapi kita membangun kekuatan baru dan kita akan kembali merebut tanah tumpah darah ini dari kaum penjajah untuk kemerdekaan kita,”

Dari prinsip Karaeng Caddi itu, kita bisa belajar, kalau ke mana pun kaki melangkah, di mana pun kaki menapak, cintah tanah air tak boleh hilang dari dalam diri. 

Judul        : Gadis Portugis: Kisah Gadis yang Terseret Cinta di Medan Perang

Kategori    : Novel Sejarah

Penulis        : Mappajarungi Manan

Penerbit     : Najah

Cetakan    : Pertama, Juli 2011

Jumlah hlm.    : 440 hlm.

ISBN        : 978-602-978-800-6

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...