Beranda Gerakan Citra Kiai Atletis dan Gugatan Kiai Saifuddin Zuhri Terhadap Historiografi Kolonial dalam...

Citra Kiai Atletis dan Gugatan Kiai Saifuddin Zuhri Terhadap Historiografi Kolonial dalam Penggambaran Kaum Sarungan

Harakah.idAlih-alih menyuguhkan gambaran penuh stigma dan ejekan, historiografi Kiai Saifuddin Zuhri justru menggambarkan sosok Kiai yang atletis. Bagaimana kisahnya?

Ada banyak sekali literatur yang bisa dirujuk dalam konteks poskolonialisme di Indonesia. Salah satunya adalah buku-buku Kiai Saifuddin Zuhri. Dua otobiografi beliau, Berangkat Dari Pesantren dan Guruku Orang-Orang Dari Pesantren, tidak hanya merekam kisah personal dari Kiai Saifuddin Zuhri, tapi juga merekam situasi dan kondisi sebuah bangsa yang tengah dijajah berikut sekelumit problematika kesadaran sebuah bangsa dunia ketiga yang nyaris teralienasi dari identitasnya sendiri. Keduanya adalah historiografi Kiai Saifuddin Zuhri yang merupa gugatan sekaligus konstruksi baru mengenap cara penggambaran sosok kiai pesantren.

Sebagai orang pesantren dan kaum sarungan, mayoritas kisah-kisah suguhan Kiai Saifuddin Zuhri memang kisah tentang kehidupan pesantren, tradisi kaum sarungan, dan pergulatan serta kontribusi mereka dalam pergerakan nasional. Dan memang, kaum pesantren terbukti menjadi satu bagian dari subalternitas dalam sejarah yang banyak dimutilasi citranya oleh historiografi kolonial. Entah dengan dihilangkan perannya, dijustifikasi sikapnya, digeneralisasi, distigma maupun dikategorisasi berdasarkan logika kategorial ala kolonial. Dehidrasi memori kebangsaan semakin mencapai titik nadirnya kala itu semua lalu diresmikan sebagai “sejarah nasional”.

Saya merasa tidak perlu lagi mengulang dan mengungkit betapa banyak narasi kolonial-orientalistik yang secara tidak langsung telah melencengkan citra kaum pesantren dalam sejarah. Tak tanggung-tanggung, stigma dan stereotipe yang kita warisi dari historiografi kolonial menyasar pada persoalan fisik dan karakter. Dalam literatur-literatur yang lahir dari keangkuhan imperial semacam itu, kita bisa menemukan seluruh kosakata negatif tentang gambaran fisik, sifat maupun karakter yang tersemat guna mendeskripsikan dan menggambarkan entitas kaum pesantren.

Buku-buku Kiai Saifuddin Zuhri adalah dokumen pembanding. Terlepas dari absah tidaknya ia sebagai sebuah dokumen sejarah, buku Kiai Saifuddin Zuhri harus diakui adalah rekaman paling original dan jujur mengenai siapa kita. Di dalamnya kita akan menemukan cermin, yang memantulkan gambaran diri kita apa adanya. Berbeda dari historiografi kolonial yang selalu melahirkan pesimisme dan citra buruk, historiografi Kiai Saifuddin Zuhri justru menawarkan optimisme, menginjeksi kepercayaan diri dan mengembalikan citra-citra baik mengenai identitas kita sebagai orang pesantren.

Salah satu kisah yang saya anggap monumental dalam pengetahuan poskolonial kita adalah suguhan kisah Kiai Saifuddin Zuhri tentang Kiai Mursyid.

“Sejak lama, secara diam-diam aku jatuh simpati kepada Ustadz Mursyid. Hati ini sudah jadi satu dengan beliau, walaupun aku belum menjadi muridnya. Kenal pun padaku beliau sama sekali tidak. Au mencintainya bahkan mengaguminya. Belum pernah rasanya aku melihat seorang lelaki segagah beliau. Beliau mempunyai kegemaran sport jalan kaki. Langkah kakinya pasti, kuat, dan tegap menambah kejelasan tubuhnya yang atletis. Kulitnya kuning langsat menambah pancaran wajahnya yang cerah dan segar. Suatu kombinasi yang harmonis dari profil seorang pria yang ganteng dan gagah. Sekali beliau lewat di muka rumahku dengan mengayuh sepeda balap Hima, sambil menganggukkan kepala membalas orang-orang yang menabik kepada beliau. Alangkah laki-lakinya orang ini!”

Kita perhatikan beberapa kata yang dipakai Kiai Saifuddin Zuhri untuk menggambarkan sosok Kiai Mursyid gurunya; “gagah”, “kuat”, “tegap”, “atletis”, “cerah”, “segar” dan “ganteng”. Kata-kata yang sulit kita temukan dalam penggambaran sosok kiai oleh historiografi kolonial. Rimbunan penyifatan yang membalik citra kaum pesantren yang biasa digambarkan kolot, jorok, klasik, terbelakang, kusut, kurus, penyakit gatal-gatal dan citra lainnya.

Ada nuansa maskulinitas yang ditampilkan Kiai Saifuddin Zuhri dari sosok Kiai Mursyid. Seorang kiai yang gagah dan atletis. Sebuah gambaran yang tampaknya “aneh”, bahkan hanya untuk membayangkannya saja. Ada kiai atletis, berdada bidang dan berperut kotak-kotak seperti Deddy Corbuzier. Kapan kita pernah punya konsepsi seperti itu? Heuheu… Ditambah lagi dengan cara jalannya yang tegap, pasti dan kuat. Menjadi perpaduan paripurna dari sosok laki-laki yang paling sempurna, yang pernah Kiai Saifuddin temui.  

Penggambaran fisik Kiai Mursyid dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren adalah contoh strategi naratif orang-orang Nusantara yang tengah menggambarkan identitas dan entitasnya sendiri. Cara bercerita semacam ini pastinya berangkat dari kegembiraan, optimisme, penghargaan kepada apa yang kita punya dan kepercayaan diri. Dalam konteks kebudayaan dan tradisi Nusantara, Kiai Mursyid bukan lagi Kiai Mursyid. Kiai Mursyid adalah kita dan kebudayaan nusantara berikut bangsa-bangsa dunia ketiga itu sendiri.

Atletisisme Kiai Mursyid mula-mula tampak dalam perannya sebagai gelandang tengah. Ya, meskipun seorang Kiai, Kiai Mursyid juga pemain sepak bola yang handal;

“Mula pertama orang di kampungku cuma mengenal namanya Mas Mursyid, pemuda tampan dari Solo yang diambil menantu seorang hartawan (sodagar batik) di kampungku. Orang Cuma mengenalnya sebagai pemain sepak bola yang hebat. Dalam tiap pertandingan, klub mana saja Mas Mursyid berada, hampir bisa dipastikan menang. Permainannya sportif, tenang dan tangguh. Tempatnya hampir selamanya dipasang sebagai gelandang tengah, menjaga benteng di belakang dan membagi bola kepada penyerang. Jika gawang bisa diselamatkan dari serangan musuh adalah berkat ketangguhan Mas Mursyid, si palang pintu. Sebaliknya, kalau saja bisa mencetak gol ini disebabkan karena operan yang diberikan Mas ini. Alhasil orang Solo satu ini merupakan favorit, kesayangan orang Sukaraja, kampungku.”

Posisi gelandang tengah yang dimaksudkan Kiai Saifuddin Zuhri, mungkin lebih nampak sebagai peran seorang gelandang multiperan. Di satu sisi ia bisa menjadi gelandang bertahan yang mampu menjaga garis pertahanan sebelum bola mengalir ke garis permainan bek. Di sisi yang lain, Kiai Mursyid juga aktif menciptakan formasi serangan karena posisinya yang memungkinkan untuk mengalirkan bola, baik ke kedua belah sayap, maupun terobosan langsung ke depan. Dalam posisi semacam ini, seorang gelandang tidak hanya dituntut untuk memiliki visi permainan yang jelas dan kreatif, namun juga ketangguhan dalam menjaga penguasaan bola dan mengatur ritme permainan dari tengah lapangan.

Peran fungsional Kiai Mursyid dalam sebuah tim sepak bola tidak berbeda jauh dengan posisinya di tengah-tengah masyarakat. Ada kalanya, seorang Kiai menjadi sosok yang defensif dalam menjaga segala anasir negatif masuk dan mempengaruhi rakyat. Ada kalanya juga, seorang kiai harus ofensif dalam menggerakkan masyarakatnya guna melawan anasir-anasir yang dianggap berbahaya dan harus dilawan. Kiai, sebagaimana layaknya gelandang, adalah sosok yang tahu kapan harus bertahan, menunda, menaikkan tensi, menurunkan ritem dan kapan harus menyerang.

Atletisisme Kiai Mursyid dengan demikian, bukan hanya altetisisme dalam konteks fisik, tapi juga mentalitas dan kekuatan kognitif. Selain kuat, tangguh dan punya fisik yang bagus, seorang Kiai, dalam historiografi Kiai Saifuddin Zuhri, juga sosok yang punya visi, taktis, mental baja dan mampu menggerakkan aksi massa.

Aspek altetisisme lainnya yang digambarkan oleh Kiai Saifuddin Zuhri, dalam menggambarkan sosok Kiai Mursyid, adalah atletisisme dalam konteks batiniyah.

“Adapun pekerjaannya sehari-hari mendampingi istrinya berjualan batik di pasar, melayani pembeli. Tukang jual batik di pasar terkenal orang-orang yang paling pandai memikat pembeli… Aneh dan mengherankan, Mas Mursyid sebagai pedagang batik tidak banyak tingkahnya. Dia orang lugu, melayani calon pembeli secara wajar. Dia tak pandai ngobral omong. Apa adanya. Batik cap dikatakan cap dan batik tulis dikatakan tulis. Bahkan kalau terdapat cacat, misalnya di sebelah pinggir tidak rata gambar dan motifnya disebabkan karena kemungkinan terlipat lilinnya hingga pecah, dia katakan terus terang pada calon pembelinya.”

“Karena Mas Mursyid tak pandai memikat calon pembeli dengan mengobral omongan, tidak heran kalau kiosnya selalu sepi. Waktu yang lengang ini dipergunakan Mas Mursyid untuk membaca kitab. Bukan kitab sembarang kitab, apalagi buku roman, tetapi kitab Agama Islam. Istilahnya muthala’ah kitab! Bayangkan, alangkah ganjilnya orang Solo ini. Pemain sepak bola yang jempolan, tetapi kok muthala’ah kitab…! Betul-betul orang ajaib, misterius! Muthala’ah kitab kok di tengah pasar. Begitu ujar banyak orang.”

Dua paragraf cerita Kiai Saifuddin Zuhri di atas adalah puncak transendentalitas dari citra atletis itu sendiri. Kejujuran, integritas dan kepatuhan Kiai Mursyid pada prinsip-prinsip baik yang dipegangnya, adalah intisari dari segala bentuk altetisitas yang memendar dari dalam dirinya.

Nilai yang terakhir inilah yang hampir kita temui dalam entitas sosok dan seorang tokoh bernama Kiai. Betapa menjadi Kiai, tidak bisa dilalui dengan hanya menyelesaikan jenjang pendidikan formal tertentu, dengan sertifikat atau ijazah tertentu Ia adalah gelar dan penempatan yang menandakan signifikansi peran seseorang di tengah masyarakatnya. Tanpa integritas dan kesetiaan pada nilai-nilai kebaikan, mustahil seorang Kiai mampu menengahi keragaman yang muncul di tengah masyarakat sebagai satu keniscayaan.

Kalaupun kita melihat, bahwa ada rona kewibawaan dan kebijaksanaan dalam garis wajah seorang Kiai yang sulit disembunyikan, maka itulah atletisisme dalam arti yang sebenarnya. Ia tidak ditempa dengan barbel, balok-balok besi dan workout semisal push-up dan sit-up. Ia ditempa dan dibentuk oleh benturan-benturan batiniah dan peperangan panjang seseorang melawan dirinya sendiri.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...