Beranda Keislaman Akhlak Cobalah Agak Santai dalam Menanggapi Perbedaan Paham

Cobalah Agak Santai dalam Menanggapi Perbedaan Paham

Harakah.id Perbedaan di kalangan ulama merupakan suatu kewajaran. Kita tak bisa memaksa agar semua umat Islam harus mengikuti pendapat yang sama.

Sebagian orang membatasi Islam yang benar adalah Islam yang sesuai dengan ustaz yang diikutinya. Pandangan demikian, mungkin baik, jika ustaznya mengajarkan untuk menghormati paham lain. Namun, akan buruk, kalau ustaznya suka merendahkan ulama yang tak sepaham dengannya.

Contoh sederhana, ustaznya meyakini doa arwah 40 malam untuk orang meninggal itu bidah dan “kullu bid’atin dhalala”. Maka muslim yang ikut dengan ustaz itu akan meyakini kalau Islam yang benar adalah yang tidak ikut doa arwah 40 malam. Sampai di sini tak masalah, sebab mau ikut doa arwah 40 malam atau tidak itu pilihan masing-masing.

Namun masalahnya saat ustaz itu meyakinkan pada jamaahnya kalau orang yang ikut doa arwah 40 malam sebagai ahli bidah dan sesat. Apalagi ditambah dengan cara penyampaian yang seakan merendahkan kelompok yang ikut doa arwah 40 malam.

Pengikut ustaz itu akan ikut memahami kalau yang ikut doa arwah 40 malam sebagai ahli bidah yang sesat yang akan masuk neraka. Sehingga dengan amat mudahnya si muslim itu bisa mengatai muslim lain sebagai ahli bidah yang sesat, bahkan sampai mengatai muslim lain sebagai ahli neraka. Lahirlah panitia surga-neraka yang baru.

Sehingga sikap membatasi Islam yang benar hanya Islam yang sesuai dengan ustaz tertentu atau Islam kelempok tertentu, bisa berpotensi menjadikan mudah menuduh muslim lain punya paham yang salah, dan merasa diri yang paling benar sebagai hamba yang akan masuk surga. Sebab dalam pandangannya Islam kelompoknya saja yang benar.

Padahal, masih ada pendapat lain juga. Misalnya dalam masalah bidah tadi, pendapat lain, Imam Syafii membagi bidah menjadi dua, yaitu bidah yang baik dan bidah yang buruk.

Pembagian ini lebih dirinci oleh Imam Izuddin bin Abdissalam menjadi bidah yang wajib, bidah yang sunnah, bidah yang makruh, bidah yang mubah, dan bidah yang haram.

Jadi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa tak semua bidah itu sesat. Namun, muslim tadi tak tahu atau memang tak ingin tahu. Dia hanya tahu, Islam yang benar itu yang sesuai dengan ustaznya. Siapa pun yang menjelaskan tentang pembagian bidah, kalau itu bukan ustaznya, dia tak mau tahu.

Tak ada salahnya, kalau seorang muslim memahami bahwa “Islam yang saya amalkan” adalah yang sesuai dengan ustaz saya, sesuai dengan madzhab saya, sesuai dengan golongan saya. Sebab memang demikianlah pengamalan itu sesuai dengan paham yang diyakini.

Namun, kurang tepat jika membatasi bahwa “Islam yang benar” hanya yang sesuai dengan paham yang diyakini, sementara paham lain adalah sesat. Sikap demikian akan membuat mudah memandang yang berbeda dalam mengamalkan Islam sebagai penganut Islam yang tidak benar.

Sementara ada banyak perbedaan pendapat ulama, sehingga kita pun harus bisa saling menghargai dalam perbedaan. Karena itu harus dipahami bahwa Islam yang benar bukan hanya tercermin dari pendapat 1 orang ustaz saja, atau hanya tercermin dari 1 golongan saja.

Perbedaan di kalangan ulama merupakan suatu kewajaran. Kita tak bisa memaksa agar semua umat Islam harus mengikuti pendapat yang sama. Sehingga alangkah baiknya sebagai muslim jangan terlalu kagetan, saat melihat ada muslim lain yang berbeda pemahamannya. Cobalah untuk bersikap lebih santai.

Pada dasarnya, kita harus belajar memahami sesuatu dari berbagai sisi. Kita harus belajar melihat beragam pendapat ulama dalam satu persoalan. Walaupun, nantinya yang akan kita amalkan hanyalah satu pendapat ulama saja.

Ini penting agar kita tak mudah kaget melihat ada muslim yang beda dengan kita. Sehingga kita pun tak mudah menyalahkan orang lain.

Kalaupun tak memahami atau belajar beragam pendapat ulama, sebab tentunya sulit. Cobalah untuk bersikap lebih hormat pada paham yang beda. Dan juga bersikap lebih santai saat melihat adanya perbedaan, jangan terlalu emosional.

Dalam konteks perbedaan paham, cobalah menjadi muslim yang agak santai dan jangan terlalu emosional. Santai, jika melihat ada yang beda cara ber-Islamnya dengan kita.

Santai, jika melihat ada yang cara sholatnya beda dengan kita. Santai, setiap melihat perbedaan. Sikap santai tak selamanya buruk. Kadang dengan sikap santai, kita bisa meredam emosi dalam diri.

Sehingga, dalam konteks ini, jadi hamba yang santai membantu untuk menjadi muslim yang tak mudah terprovokasi saat dikatai sesat, syirik, kafir, dan lainnya. Sebab kalau dikatai yang demikian, ya santai saja.

Santai juga membuat kita tak mudah mengatai muslim lain sebagai muslim yang sudah sesat, syirik, dan kafir. Sebab kalau melihat kok ada muslim yang beda amalan dengan kita, ya santai saja. Toh, ada banyak pendapat ulama dalam ber-Islam, kan?

Jadi hamba yang santai membuat semakin saling menghargai perbedaan. Namun, santainya bukan dalam konteks ibadah, belajar, atau berbuat baik. Sebab kalau untuk hal-hal itu jangan santai, harus semangat.

Manusia hanya bisa merasa benar. Namun, tak memiliki hak untuk menjadi hakim kebenaran. Manusia juga bukan sebagai panitia kebenaran yang menentukan siapa yang benar di sisi Tuhan.

Meminjam perkataan Qong Qiu, “Janganlah kamu melakukan sesuatu pada orang lain yang kamu sendiri tak ingin diperlakukan orang lain seperti itu.” Maka saling menghargai sesama manusia, sebab kita pun ingin dihargai, kan?

Jangan suka mengatai orang lain sesat, syirik, kafir dan perkataan lain yang menyinggung keyakinan/paham orang lain, karena kita juga tak suka dikatai demikian. Pesan Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa muslim adalah yang selamat muslim lainnya dari lisan dan tangannya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...