Dahulukan yang Mana? Ganti Utang Puasa Wajib Atau Berpuasa Syawal?

0
462
Dahulukan yang Mana? Ganti Utang Puasa Wajib Atau Berpuasa Syawal?

Harakah.id Ganti utang puasa wajib atau berpuasa syawal? Mana yang harus dikerjakan dulu? Mungkin kalian bertanya-tanya. Dan simak artikel berikut ini untuk mendapatkan jawabannya…

Bulan ramadhan tahun lalu, salah satu kerabat saya tak bisa puasa beberapa hari. Di awal romadhon dan jelang lebaran. Usai lebaran ia bingung, mana yang didahulukan? Mengganti puasa wajib (qadha’) atau puasa sunnah 6 hari di bulan syawal. Puasa syawal sudah lama dikenal masyhur di kalangan awam. Ada dalilnya lho.

عن أبي أيوب الأنصاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Diriwayatkan dari Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw. bersabda: barang siapa berpuasa di bulan Ramadlan kemudian melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun” (Shahih Muslim, 1164 dan Sunan Ibnu Majah, 1716).

Telah disepakati orang yang melakukan puasa sunnah mendapat pahala, kecuali wanita bersuami yang tidak mendapat izin suaminya (Ensiklopedi ijma’ hal 610). Hari ini ia mengqadha’ puasa wajib. Habis itu Istri saya izin bahwa hari selasa akan memulai puasa syawal.

Beralih ke pokok persoalan. Ada dua ulama menyikapi hal ini. Pertama, ayahnya Najwa shihab. Di dalam buku M. Quraish shihab menjawab 1001 soal Keislaman, (hal 96), beliau berpendapat “Puasa syawal dilakukan kapan saja selama bulan syawal. Sebaiknya bayar utang puasa (qadha’) lebih dahulu karena hukumnya wajib, dan baru kemudian mengerjakan yang sunnah“.

Pendapat kedua, ust A Qadir Hassan. Melalui buku Kata berjawab: Solusi untuk Berbagai permasalahan Syariah (2004) ulama asal Persatuan islam ini berpendapat “Tidak ada keterangan bahwa seseorang harus mengganti puasa yang wajib dulu, lalu baru boleh puasa sunnah. Karena itu, boleh puasa sunnah sebelum membayar puasa wajib“.

Akhir kata, mana yang paling enak dilaksanakan? Qadha’ puasa bisa dicicil dahulu, baru puasa syawalnya di cicil alias tidak terus-menerus. Jadi puasa syawalnya bisa diselang seling dengan mengganti puasa wajib. Sebagaimana saran dari dosen Ma’had Aly Annur 2 Al-Murtadlo di Bululawang, Helmi nawali M.Ag. Dia menyuguhkan pendapat mazhab Hanafi dalam al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (Juz 1). “Madzhab Hanafi berkata: disunnahkan melakukan puasa tersebut secara terpisah, misalnya tiap seminggu puasa dua hari (minggu 1 berpuasa 2 hari, minggu kedua 2 hari, minggu ketiga 2 hari, dan minggu keempat satu hari)”.