Beranda Khazanah Dakwah Islam di Era Milenial, Apa yang Harus Beda?

Dakwah Islam di Era Milenial, Apa yang Harus Beda?

Harakah.id Dakwah harus bisa mengimbangi perubahan masyarakat karena bila tidak, masyarakat sebagai umat, akan meninggalkan ajaran-ajaran Islam. Dari hal itu, dapat dilihat bahwa dakwah tidak boleh jalan di tempat tapi harus bisa dinamis, progresif, dan berinovasi.

Pendidikan memiliki arti yang cukup luas. Pendidikan digunakan orang untuk lebih bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Terutama dalam hal pengetahuan, sikap, dan perilakunya yang didasari oleh nilai-nilai tertentu yang menjadi kerangkanya.

Pendidikan islam, menurut Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Alternatif, disebut juga sebagai dakwah Islam. Karena pendidikan Islam identik dengan dakwah Islam. Sehingga menurutnya, setiap muslim dapat menjadi seorang dai sekaligus pendidik.

Menurut Alimuddin dalam tulisannya berjudul Konsep Dakwah dalam Islam, dakwah merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh muslim agar dapat menerapkan ajaran islam ke dalam seluruh segi kehidupan. Hal itu demi tercapainya sebuah keseimbangan yang berakhir kepada totalitas mengabdi kepada Allah SWT.

Keberadaan dakwah dalam berbagai zaman dapat dikatakan penting. Hal itu dikarenakan tegak dan runtuhnya suatu masyarakat ditentukan oleh dakwah Islam itu sendiri. Sebab, menurut Zaidan dalam Alimuddin, Islam tidak bisa berdiri tegak tanpa jemaah dan tidak bisa membangun masyarakat tanpa dakwah.

Dalam prosesnya, dakwah harus bisa membangkitkan potensi baik yang ada dalam diri setiap orang dan sebisa mungkin dapat mengurangi potensi buruknya, itu merupakan perkataan dari Jalaluddin Rakhmat. Hal itu karena tujuan dari dakwah merupakan hal baik yang dapat mendekatkan diri kepada Allah serta dapat mendapat ridho-Nya. Sehingga akhir dari semua itu ialah dakwah menjadi salah satu usaha yang akan membentuk sebuah peradaban manusia. 

Dalam dewasa ini, semua orang dapat mengakses atau menyebarkan dakwah di mana dan kapan saja. Karena hal itu berkaitan dengan semakin terbukanya ruang publik. Lalu, Dakwah Islam di Era Milenial, Apa yang Harus Beda?

Saat ini, dakwah atau mengajarkan ajaran Islam tak selalu disampaikan oleh seorang ulama, tetapi siapa pun yang “merasa” bisa, akan senantiasa bersuara. Selain itu, bila orang ingin bertanya perihal masalah-masalah yang berkaitan dengan Islam, ia bahkan dapat menemukan jawabannya tanpa harus bertanya kepada ulama. Hal itu dikarenakan semakin praktis dan canggihnya internet yang ada dapat membantu menjawab semua permasalahan yang ditanyakan.

Keadaan ini tentu tak selalu menguntungkan bagi Islam itu sendiri. Terkadang karena ruang publik yang sudah terbuka itu, bila tidak dapat diatasi, akan menjadi sebuah “boomerang” yang justru akan melukai islam itu sendiri. Maka salah satu antisipasi yang bisa dilakukan agar keadaan zaman dapat “support”, ialah harus melakukan adaptasi, terutama dalam hal dakwah. 

Sebab, dakwah harus bisa mengimbangi perubahan masyarakat karena bila tidak, masyarakat sebagai umat, akan meninggalkan ajaran-ajaran Islam. Dari hal itu, dapat dilihat bahwa dakwah tidak boleh jalan di tempat tapi harus bisa dinamis, progresif, dan berinovasi.

Untungnya, bila seorang dai dapat beradaptasi dengan keadaan zaman, ia akan mendapat peluang besar untuk dapat menyampaikan pesan-pesan ajarannya. Sebab, keadaan zaman saat ini, telah terkuasai oleh media, sedangkan media saat ini sudah terkuasai oleh anak muda. Oleh karena itu, bilamana seorang dai dapat menguasai media, tentu ia pun akan dapat menguasai anak muda juga. Sebuah hal yang susah-susah-gampang, tetapi bila sukses “menaklukannya”, bukan hanya ilmu yang dapat sampai kepada masyarakat, juga personal dari dai itu sendiri.

Artikel “Dakwah Islam di Era Milenial, Apa yang Harus Beda?ini adalah kiriman dari saudara Muhammad Tegar Yulianza, Mahasiswa Sastra dan Bahasa Indonesia

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...