Dakwah Islam Mazhab Pedang Versus Mazhab Makan-Makan, Bagaimana Seharusnya Dakwah Islam Diterapkan?

0
132
Dakwah Islam Mazhab Pedang dan Mazhab Makan-Makan, Bagaimana Seharusnya Dakwah Islam Diterapkan?

Harakah.idDakwah Islam banyak disalahpahami sebagai jalan memaksa dan kekerasan. Padahal, dakwah Islam, sebagaimana yang diajarkan Nabi dan para ulama, tidak pernah menggunakan logika pedang.

Keliru, kalau memahami jalan penyebaran dakwah Islam dilakukan lewat peperangan, atau memahami Islam disebarkan lewat kekerasan. 

Atas dasar pemahaman yang keliru itu, sebagian kelompok melakukan perbuatan bar-bar atas nama agama Islam. Kumandang takbir pun bergema saat mereka melakukan perbuatan bar-bar (menyakiti manusia lain) atas nama agama. Sungguh, gema takbir yang tak pada tempatnya.

Buya Hamka dalam bukunya Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam menjelaskan, “Banyak orang mengatakan bahwa dakwah Islam dimajukan dengan pedang, dijalankan dengan paksa. Untuk sementara waktu pandangan itu bisa laku kepada orang-orang yang membicarakannya tidak dengan ilmu dan pendidikan. Akan tetapi, jika diselidiki jalan peperangan-peperangan yang terjadi pada masa Nabi saw, itu bukan agama Islam disiarkan dengan pedang, tetapi agama Islam memberantas dengan pedang segala halangan yang dicobakan orang untuk menghalangi dakwah. Ini penting dan harus diingat.”

Lanjut Buya Hamka, “Masuk ke suatu negeri (saat Islam menang perang), ditawarkan (Islam) pada penduduk negeri itu, agama tidak dipaksakan, boleh diteruskan agama mereka (kalau tak mau masuk Islam), tetapi membayar jizyah. Kadang-kadang jizyah yang dibayarkan oleh orang-orang yang tidak mau masuk Islam lebih ringan daripada zakat yang dibayar oleh orang Islam.”

Satu pemicu pandangan yang mengatakan Islam didakwahkan dengan pedang, adalah sebab “gagal paham” akan maksud kenapa Nabi Muhammad saw sampai berperang. Mereka kira adalah untuk memerangi orang-orang nonmuslim sebagai jalan mendakwahkan Islam. Padahal, perang yang dilakukan oleh Nabi saw bukan untuk memerangi nonmuslim atas nama dakwah Islam, melainkan untuk melindungi serta memepertahankan diri umat muslim yang kala itu akan diserang oleh nonmuslim.

Prinsipnya: tak ada asap kalau tak ada api. Sekiranya nonmuslim tak memerangi umat muslim, bisa dipastikan kalau perang tak akan terjadi. Sebab, aslinya Nabi saw tak ingin berperang, namun perang terpaksa jadi pilihan untuk mempertahankan diri umat muslim.

Sejak awal Nabi saw tak ingin berperang. Bahkan, saat Nabi Muhammad saw berdakwah di Thaif, warga di sana melemparinya hingga berdarah-darah. Tak sedikit pun ada rasa dendam dan amarah di hatinya. Justru Nabi saw malah mendoakan kebaikan untuk keturunan mereka kelak.

Pada Fathu Makkah–momen Nabi Muhammad saw menaklukkan Mekah–Nabi saw memaafkan semua penduduk Mekah yang telah menyakitinya. Tak ada darah yang tumpah saat itu. Sebab, sekali lagi, Nabi Muhammad saw tak ingin berperang. Nabi saw justru ingin agar setiap orang hidup aman, damai, dan selamat.

Sikap yang kemudian dicontohi oleh umatnya. Semisal, Saladdin, saat berhasil merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib. Saladdin memaafkan semua orang Kristen di tanah itu, termasuk pasukan Tentara Salib. Tak sedikit pun terpikir di kepalanya untuk membalas pembantaian atas umat muslim yang dilakukan Tentara Salib pada Perang Salib I.

Tak ada seorang Kristen pun dibunuh. Saladdin memulangkan mereka di benteng Tirus yang merupakan tempat pertahanan Kristen. Saladdin bahkan menjamin keamanan setiap orang Kristen. Sebab tujuannya adalah merebut kembali Yerusalem dan melawan Tentara Salib yang menzalimi umat muslim, bukan untuk niat menyakiti nonmuslim. Sebab Islam tak pernah mengajarkan untuk menyakiti makhluk hidup.

Karen Amstrong dalam bukunya Fields of Blood menjelaskan, kalau dari momen itu, orang-orang Kristen Barat dengan gelisah menyadari bahwa Saladdin telah bersikap lebih manusiawi daripada Tentara Salib. Momen itu membuat Saladdin menjadi legenda yang tak hanya dikenang umat muslim, namun juga dikenang dan dihormati oleh umat kristiani.

Demikian, orang yang paham ajaran Islam, pasti tak akan bersikap menzalimi manusia lain, karena Islam adalah agama rahmat. Sebabnya, saat Umar bin Khattab ra menjadi Khalifah, dia mengirim utusan sebagai wakil-wakil atau pemegang kekuasaan di daerah-daerah dengan pesan, “Saya utus kalian bukan untuk membunuh orang, tapi untuk mengajarkan agama.”

Mengajarkan agama Islam yang rahmat. Jadi, tujuan utusan Umar ra adalah untuk mengajarkan serta menyebarkan rahmat Islam. Bukan untuk niat berperang membunuh nonmuslim.

Bahkan, telah masyhur diketahui, di mana Umar ra lebih memilih memasuki Yerusalem dengan damai tanpa ada pertumpahan darah. Umar ra menjamin keamanan nonmuslim. Sebab Umar ra adalah manusia yang paham ajaran Islam, karenanya dia memilih sikap rahmat, bukan sikap bar-bar menindas manusia lain dengan dalih agama.

Bagi manusia yang benar-benar memahami ajaran Islam, pasti paham kalau dakwah Islam tak dilakukan dengan cara bar-bar–menindas dan menzalimi manusia. Namun, dakwah Islam dilakukan dengan rahmat, sebab demikianlah Islam adalah agama yang membawa rahmat untuk seluruh alam.