Beranda Headline Dalam al-Quran Dijelaskan, Bahwa Bahan Bakar Api Neraka Adalah Manusia dan Batu....

Dalam al-Quran Dijelaskan, Bahwa Bahan Bakar Api Neraka Adalah Manusia dan Batu. Lalu Bagaimana dengan Setan Atau Jin?

Harakah.id Bahan bakar api neraka, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran, terdiri dari manusia dan batu. Pertanyaannya, bagaimana dengan mahluk yang lain? setan atau jin misalnya?

Kalau manusia kelak akan dijadikan bahan bakar api neraka, lalu bagaimana dengan jin dan setan?

Sebagai umat muslim kita meyakini bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Sedangkan, kehidupan yang abadi adalah kehidupan yang akan kita jalani setelah kehidupan di dunia, yaitu kehidupan di akhirat kelak. Di akhirat nanti, orang-orang baik akan dimasukkan ke dalam Surga. Yaitu tempat yang dipenuhi oleh kesenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, orang-orang yang tidak baik kelak akan dimasukkan ke dalam Neraka. Yaitu tempat yang dipenuhi oleh siksaan dan kesakitan.

Berbicara mengenai Neraka, di dalam bahasa Arab atau di dalam al-Quran, Neraka ditulis dengan istilah al-Naar. Yang mana, kata ini juga memiliki makna api. Hal ini selaras dengan definisi neraka yang tertulis dalam beberapa literatur, yang menjelaskan bahwa neraka adalah tempat disiksanya manusia dengan api, bahkan api yang panasnya tidak tertandingi.

Lalu, sebenarnya kelak yang akan menghuni neraka ini siapa saja? Tentunya beragam dan bermacam-macam. Neraka adalah tempat disiksanya hamba sebab perbuatannya sendiri, sebab kejahatannya, sebab kekufurannya, dan lain sebagaimana. Dan yang masuk ke dalam neraka bukan hanya manusia saja, tetapi juga dari golongan jin atau setan. 

Tetapi, jika kalian membaca surat at-Tahrim ayat 6 yang berbunyi;

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang- orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia- manusia dan batu- batu.

Di sana tertulis bahan bakar api neraka hanyalah batu dan manusia, lalu bagaimana dengan jin atau setan? Apakah mereka tidak menjadi bahan bakar api neraka? Apa mereka tidak ada di dalam neraka? Pada tulisan kali, kita akan sedikit membahas terkait pertanyaan-pertanyaan seperti tadi.

Mengutip pendapat Az-Zamakhsyari dalam kitabnya Tafsir al-Kasysyaf, beliau menjelaskan bahwa api yang dimaksud dalam ayat tadi adalah api yang khusus atau api tertentu saja, yang memang hanya bisa menyala dengan bahan bakar manusia atau batu. Sedangkan di dalam neraka tentunya masih banyak api-api yang lain yang tidak menutup kemungkinan bisa menyala dengan berbahan bakar jin atau setan. Alasan Az-Zamakhsyari berpendapat seperti ini karena melihat bentuk kata naar  di dalam ayat yang berbentuk nakiroh.

Kemudian jika melihat tafsir Ibnu Katsir, dan mengutip perkataan Ibnu Jarir yang tertulis di sana saat menjelaskan maksud kata al-naas dalam surat An-Naas. Beliau mengatakan bahwa di dalam kata al-naas ini juga termasuk beberapa orang dari bangsa jin. Yang artinya, bukannya tidak mungkin dalam tafsir ayat ini pun sama. Boleh jadi istilah kata al-naas dalam ayat ini mengandung juga bangsa jin di dalamnya sebagaimana penjelasan atau pendapat Ibnu Jarir tadi. Dan pendapat seperti ini selaras dengan apa yang dijelaskan oleh Al-Farra dalam kitabnya Ma’ani al-Quran saat menafsirkan kata al-naas.

Sedangkan di dalam tafsir al-Jami; li Ahkam al-Quran, Al-Qurthubi menjelaskan dan menafsirkan dengan hanya disebutkannya manusia dan batu sebagai bahan bakar api neraka, bukan berarti di dalamnya tidak ada golongan jin atau setan. Sebab jin maupun setan juga banyak yang menghuni neraka bahkan menjadi bahan bakar api neraka juga.

Jadi sudah jelas, di dalam banyak literatur kitab tafsir sudah diterangkan sedemikian rupa. Bahwa penyebutan al-nas dan al-hijaroh sebagai bahan bakar api neraka bukan berarti menafikan golongan lain yang juga menghuni neraka, yaitu golongan jin atau setan. Karena mereka juga termasuk dari para penghuni neraka.

Dan jika dilihat dari kontek ayatnya yang diawali dengan perintah agar menjaga diri serta keluarga dari siksaan api neraka, bisa juga kita ambil sebuah kesimpulan. Bahwa penyebutan manusia dan batu sebagai bahan bakar api neraka ini sebagai bentuk ancaman, atau bentuk peringatan khususnya ditujukan kepada manusia.

Sebab, penyebutan manusia yang kelak dijadikan sebagai bahan bakar api neraka ini mempunyai pesan agar manusia semakin takut dan berhati-hati supaya tidak tergelincir masuk ke dalam neraka. Serta penyebutan api yang berbahan bakar batu  itu menggambarkan bahwa api tersebut sangatlah panas dan tidak tertandingi. Karena batu merupakan benda yang keras tidak seperti kayu, yang artinya api yang menyala pada batu tentu berkali-kali lipat dengan panasnya api yang hanya menyala di atas kayu.

Wallahu a’lam

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...