Beranda Keislaman Akidah Dalam Islam, Akal dan Wahyu itu Harmonis, Bagaimana Penjelasannya?

Dalam Islam, Akal dan Wahyu itu Harmonis, Bagaimana Penjelasannya?

Harakah.idAhlussunnah Wal-Jama’ah memosisikan akal dan wahyu secara seimbang. Mengakui kalau wahyu adalah hal penting dalam menjalani kehidupan, dan tak mengabaikan peran akal dalam memahami wahyu sebagai petunjuk yang diberikan Tuhan. Harmonis.

Akal dan wahyu punya sejarah pertikaian hebat. Ini bukan karena keduanya bertentangan, namun karena ulah manusia yang menciptakan pertikaian antara akal dan wahyu.

Sehingga, seakan-akan, kalau mau pakai akal harus meninggalkan atau mengesampingkan wahyu, atau sebaliknya mau pakai wahyu harus mengesampingkan akal.

Tal heran kalau orang yang “sok-sokan” sebagai manusia yang paling mengedepankan akalnya, jika bicara tentang wahyu dan Tuhan, kadang mulutnya jadi terlampau kurang ajar sampai bilang manusia tak butuh agama.

Sesungguhnya yang bertikai bukan lah akal dan wahyu, melainkan kelompok manusia yang mendahulukan akal dan kelompok manusia yang mendahulukan wahyu.

Dalam sejarah pertikaian manusia yang mendahulukan wahyu dan mendahulukan akal. Kadang kelompok wahyu yang menang, sehingga memaksa para filsuf tunduk di bawah kekuasaan para pendeta (pemuka agama).

Kadang kelompok akal yang menang, sehingga memaksa para pemuka agama tunduk di bawah aturan para filsuf. Terciptalah istilah abad kegelapan dan zaman pencerahan di Barat.

Dalam dunia Islam, pertikaian semacam ini juga sering terjadi. Yang paling terkenal adalah insiden Mihnah atau dikenal juga insiden Qur’an makhluk (sebab pandangan Muktazilah yang memandang kalau Qur’an itu makhluk bukan kalamullah yang qadim).

Peristiwa yang dipicu oleh pandangan dan ego diri kelompok Muktazilah yang amat mendahulukan akal. Sekali lagi, sesungguhnya bukan lah akal dan wahyu yang bertikai, melainkan kelompok manusia yang punya pandangan beda dalam memosisikan akal dan wahyu.

Dalam buku “Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah” yang disusun oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, dijelaskan kalau dalam teologi Islam atau ilmu kalam, ada 3 aliran (golongan) berbeda dalam memandang peran akal dan wahyu. Yaitu, golongan Muktazilah yang lebih mendahulukan akal daripada wahyu. Golongan Hasyawiyah, Zhahiriyah, dan semacamnya yang hanya mengakui dominasi wahyu dan mengabaikan peran akal. 

Dan golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) yang memosisikan akal dan wahyu secara moderat dan seimbang, tak ekstrim kiri seperti Muktazilah dan tak ekstrim kanan seperti Hasyawiyah.

Dalam pandangan golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah kalau semua kewajiban agama hanya dapat diketahui melalui informasi dari wahyu, sedangkan terkait keyakinan hanya dapat dicapai dengan penalaran akal.

Dengan kata lain, golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah memosisikan akal dan wahyu secara seimbang. Mengakui kalau wahyu adalah hal penting dalam menjalani kehidupan, dan tak mengabaikan peran akal dalam memahami wahyu sebagai petunjuk yang diberikan Tuhan.

Imam Al-Gazali berkata dalam kitabnya al-Iqtishad fi al-I’tiqad: Orang yang merasa puas hanya dengan bertaklid pada teks-teks hadis, namun mengingkari metodologi penelitian dan nalar tak mungkin menemukan jalan kebenaran, karena syara’ itu bersandar pada sabda Nabi, sedangkan argumentasi rasional adalah satu-satunya sarana yang dapat membuktikan kebenaran yang disampaikan Nabi.

Sedangkan orang yang hanya mengikuti akal dan tak mengikuti petunjuk cahaya syara’ (wahyu dan hadis), juga tak mungkin memperoleh petunjuk menuju kebenaran, karena dia hanya berpegangan pada akal yang diliputi kelemahan dan keterbatasan.

Jadi bisa dipahami dalam pandangan Imam Al-Ghazali bahwa seorang muslim harus memosisikan akal dan wahyu (termasuk hadis) secara seimbang. Menggunakan petunjuk syara’ berupa wahyu Tuhan dan hadis Nabi dalam kehidupan, tanpa mengabaikan peran akal baik dalam memahami dan untuk membuktikan kebenaran petunjuk syara’.

Sehingga dapat dipahami, kalau sesungguhnya dalam Islam antara akal dan wahyu harus menjadi 2 kekuatan yang harmonis. Sebab pada hakikatnya akal dan wahyu merupakan 2 kekuatan yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia.

Ibarat air dan minyak dalam semangkuk indomi yang bersama memberi rasa. Begitu juga wahyu dan akal, bersama memberi rasa dalam kehidupan manusia. Sebab baik wahyu maupun akal, keduanya adalah pemberian Tuhan yang Maha Esa sebagai bekal untuk manusia menapaki jalan hidup. Jadi, tak perlu diadu.

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang menyuruh agar manusia menggunakan akalnya dalam merespon berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Misalnya firman Tuhan dalam Surah as-Saffat ayat 138, yang terjemahannya: Maka apakah kamu tidak memikirkan? 

Jadi, manusia harus berpikir. Dan kalau berpikir pakai akal, masak pakai lutut. Namun, jelas itu tak kemudian menjadi alasan untuk menelantarkan peran wahyu dalam beragama atau dalam menjalani hidup. Sebab dalam Islam antara wahyu dan akal, keduanya harmonis berjalan bersama dan saling melengkapi.

Ibaratnya begini, saat berjalan agar bisa menapaki jalan dengan baik manusia akan melihat jalan yang mau dilalui. Dan untuk bisa melihat, selain harus punya mata juga harus ada cahaya. Maka peran wahyu adalah sebagai cahaya yang menerangi jalan manusia. Tuhan berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 2, yang terjemahannya: Kitab (al-Qur’an) ini tak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Jangan biarkan akal menyusuri jalanan gelap sendirian, sebab dia bisa tersesat dan jatuh dalam jurang tak berdasar. Akal harus berjalan bersama cahaya yang menuntunnya. Dan wahyu lah yang menjadi cahaya penuntun itu. Sehingga posisi wahyu dan akal bisa diibaratkan sama seperti posisi antara mata dan cahaya.

Sehingga bisa dipahami bahwa Islam merupakan agama yang menekankan peran wahyu Tuhan sebagai petunjuk, dan tak melupakan peran akal dalam memahami berbagai petunjuk itu.

Maka jangan buang akalmu, dan juga jangan menelantarkan wahyu dari Tuhan, bro. Jangan sok-sokan menamai diri sebagai manusia kiri yang tak butuh agama. Pun jangan sok-sokan menamai diri sebagai manusia kanan yang tak perlu akal. Sebab keduanya adalah anugerah Tuhan untuk manusia agar bisa menapaki jalan keselamatan. Yang perlu diingat adalah muslim bukan manusia yang tak menggunakan akalnya. Dan juga muslim bukan lah pemikir yang terlampau bebas, sebab ada wahyu yang menuntunnya.

Sehingga kalau melewati jalan kehidupan, jangan terlalu ke kiri, jangan juga terlalu ke kanan. Sebab di kiri dan kanan itu ada selokan, kacau kalau jatuh ke selokan. Jalannya tetap di atas jalan. Dan jangan lupa untuk hati-hati jika ada kendaraan lewat, ya. Sebab setan selalu mengendarai mobil untuk menabrak manusia di jalan kehidupan, biar manusianya jatuh ke selokan. Jadi, hati-hati, pakai akalmu dan genggam wahyu Tuhan (dan hadis Nabi) sebagai petunjuk jalan keselamatan dunia dan akhirat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...