Beranda Keislaman Akhlak Dalam Tasawuf, Konsep Zuhud Muncul Dalam Beragam Versi Makna

Dalam Tasawuf, Konsep Zuhud Muncul Dalam Beragam Versi Makna

Harakah.id Zuhud merupakan sifat dan karakter yang sering dianjurkan untuk dimiliki setiap individu. Tapi kenyataannya, definisi dan maksud dari zuhud tidaklah tunggal. Ada banyak berbagai versi tentang zuhud yang harus kita ketahui…

Secara bahasa zuhud berarti meninggalkan dan tidak menyukai. Maka ada istilah zahida fid dunya yang berarti menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk fokus beribadah kepada Allah SWT. Pelakunya dinamakan al-zahid yang berarti orang yang meninggalkan kehidupan maupun kesenangan duniawi dan lebih memilih kehidupan akhirat yang diyakininya lebih kekal. Secara etimologis, kata zahada juga berarti raqaba ‘an syai’in wa tarakahu, yang berarti tidak tertarik, menjauhi sesuatu dan meninggalkannya.

Secara terminologi, zuhud memiliki beberapa definisi dan penjelasan yang beragam, yang masing-masing sufi memiliki versinya tersendiri untuk dijelaskan. Dalam pandangan kaum sufi, dunia dan segala isinya merupakan sumber kemaksiatan dan kemungkaran yang dapat menjauhkan seorang hamba dari Tuhan. Segala hasrat, keinginan, dan nafsu seseorang yang lahir dari kecenderungan serta kebergantungan yang berlebih kepada kemewahan dan kenikmatan duniawi seringkali menjadi tujuan hidup dan faktor terbesar yang memalingkannya dari Tuhan. Oleh karena itu, seorang sufi dituntut untuk terlebih dahulu memalingkan seluruh aktifitasnya, baik jasmani dan rohani, dari hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan demikian segala apa yang dilakukannya dalam kehidupan tidak lain hanyalah dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan.

Menurut al-Ghazali, zuhud meliputi tiga dimensi utama: ‘ilm, hal, ‘amal. Yang dimaksud dengan dimensi ‘ilm adalah kesadaran atau secercah pengetahuan bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal, sedangkan dunia hanyalah sementara. Sedangkan dimensi hal (keadaan) bisa dilihat dari sikap seseorang; bagaimana caranya bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama. Adapun dimensi ‘amal (perilaku) terwujud dalam tiga bentuk; 1) meninggalkan sesuatu yang tidak disukai, 2) mengeluarkan kecintaan pada dunia dari hatinya; 3) memasukkan cinta pada kepatuhan ke dalam hatinya; 4) mengeluarkan kecintaan pada dunia dari tangan dan mata dan 5) menugaskan tangan, mata dan anggota tubuhnya yang lain untuk cinta pada kepatuhan.

Dzun Nun al-Misri, sebagaimana yang dikutip oleh Amir an-Najar, mengatakan bahwa yang dikatakan zuhud adalah orang yang zuhud jiwanya, karena ia meninggalkan kenikmatan yang fana untuk mendapatkan kenikmatan yang baqa. Pengertian zuhud dari Dzun Nun al-Misri diikuti oleh Anas Ismail Abu Daud yang mengatakan bahwa zuhud adalah sebuah sikap meninggalkan nikmat dunia karena mencari kenikmatan akhirat (tarkur rahatad dunya thaliban li rahatil akhirat).

Tak berbeda jauh dengan pengertian sebelumnya, Imam al-Qusyayri mendefinisikannya dalam pengertian umum tersebut. Selain menempatkannya sebagai bagian dari maqam, al-Qusyayri juga menempatkan zuhud dalam tataran akhlaq. Maka dapat dipetakan bahwa pemikiran al-Qusyayri tentang zuhud bertumpu pada dua hal; maqam dan akhlaq. Dengan berbekal ayat al-Qur’an, Hadis dan pendapat ulama tasawuf, al-Qusyayri membagi zuhud dalam tiga tingkatan; Pertama, zuhud dari barang yang haram. Kedua, meninggalkan barang yang halal. Ketiga, hanya pasrah terhadap pemberian Allah SWT dan tidak berkehendak selain dari Allah SWT.

Konsep zuhud al-Qusyayri memang terlihat agak ekstrem, ini bisa dilihat dari beberapa pendapat yang diambil oleh al-Qusyayri dalam merumuskan konsep zuhud-nya. Pertama, ia menukil pendapat gurunya sendiri yaitu Abu Ali al-Daqqaq yang mengatakan bahwa zahid harus mempunyai sifat anti kemewahaan dunia dan tidak berkeinginan membangun pondok dan Majlis Ta’lim karena hal itu hanya akan mengakibatkan dirinya sibuk sehingga akan melupakan Allah SWT.

Lebih jauh al-Qusyayri mengatakan bahwa sifat tersebut membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri sehingga seseorang yang hatinya sudah dipenuhi cinta pada dunia maka ia seperti orang yang tidak mempunyai harga diri, begitu juga sebaliknya apabila hatinya diliputi cinta pada Allah SWT maka ia akan mengabdikan dirinya hanya pada Allah SWT semata.

Ibn al-Jalla, sebagaimana dikutip oleh al-Qusyayri, mengatakan bahwa zuhud adalah memandang kehidupan dunia hanya sekedar pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan, oleh karenanya ia akan mudah sirna. Tanda-tanda zuhud adalah seseorang akan merasa sangat senang ketika meninggalkan segala bentuk kehidupan dan harta benda tanpa ada keterpaksaan.

Zuhud adalah ruang tempat orang yang terisolir dalam kehidupan dunia, sedangkan ma‘rifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat. Pendapat ini disampaikan oleh al-Sirri dan Nashr Abadi, yang kemudian dinukil oleh al-Qusyayri dalam al-Risalah. Senada dengan pendapat itu, Abdul Wahid bin Zayd berkata bahwa arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham sekaligus meninggalkan semua aktifitas yang akan mengakibatkan seseorang lupa pada Allah SWT.

Dari pendapat tersebut al-Qusyayri mengatakan bahwa zuhud tidak akan bisa dicapai kecuali dengan mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia, melepaskan diri sepenuhnya dari keterikatan harta benda, baik yang halal apalagi yang haram. Tujuan darinya hanyalah Allah SWT semata. Apabila seorang zahid lupa pada Allah SWT karena dunia, maka hal itu dianggap sebagai suatu kesalahan besar. Seorang zahid harus menyerahkan hidupnya hanya pada Allah SWT, karena kebersamaan dengan Allah SWT adalah tujuan hidupnya.

Al-Qusyayri berusaha mendekontruksi konsep zuhud yang terlihat ekstrem dan menolak dunia menjadi sebuah konsep yang dinamis. Dalam tataran ahlaq, al-Qusyayri tidak malah menganjurkan untuk meninggalkan dunia, tapi ia menekankan bagaimana orang yang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk orang lain dan tidak merasa kehilangan apabila harta tersebut bermanfaat bagi orang lain karena sadar kalau harta yang ia miliki adalah titipan dari Allah SWT.

Menurut Ahmad bin Hanbal arti zuhud adalah memperkecil cita-cita dan kehendak dari dunia. Ia pun membagi zuhud menjadi tiga macam: pertama, meninggalkan hal yang haram. Ini adalah levelnya orang yang awam. Kedua, meninggalkan yang halal. Ini adalah levelnya orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh dari Allah SWT. Zuhud model terakhir ini hanya bagi orang yang sudah mencapai level ma‘rifat.

Zuhud adalah salah satu maqam yang sangat penting dalam tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkannya dalam pembahasan tentang maqamat, meskipun dengan sistematika yang berbeda-beda. Al-Ghazali menempatkannya dalam sistematika: al-Tawbah, al-Shabr, al-Faqr, al-Zuhd, al-Tawakkul, al-Mahabbah, al-Ma‘rifah, dan al-Ridla. Al-Thusi menempatkan zuhud dalam sistematika: al-Tawbah, al-Warâ‘, al-Zuhd, al-Faqr, al-Shabr, al-Ridlâ, al-Tawakkul, dan al-Ma‘rifah Sedangkan al-Qusyayri menempatkannya dalam urutan maqam yang keenam dari empat puluh sembilan maqam yang dibahas, antara lain: al-Tawbah, al-Mujahadah, al-‘Uzlah, al-Taqwa, al-Wara‘, dan al-Zuhd.

Wallahu A’lam bis Shawab…

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...