Beranda Fikih Dalil Aksi Perampokan Atas Nama Jihad Menurut Kelompok Teroris

Dalil Aksi Perampokan Atas Nama Jihad Menurut Kelompok Teroris

Harakah.idSalah satu upaya untuk mendapatkan pendanaan adalah melakukan perampokan. Anehnya, perampokan ini dilegitimasi dengan ungkapan keagamaan, khususnya Islam. Misalnya, aksi perampokan yang disebut fai’, biasa dieja secara salah oleh media dengan fa’i.

Dalil Aksi Perampokan Atas Nama Jihad. Kelompok teroris memanfaatkan berbagai macam cara untuk mencapai tujuan mereka. Sebagai kelompok, mereka memiliki anggota dan program yang tentunya membutuhkan biaya dalam operasionalnya.

Salah satu upaya untuk mendapatkan pendanaan adalah melakukan perampokan. Anehnya, perampokan ini dilegitimasi dengan ungkapan keagamaan, khususnya Islam. Misalnya, aksi perampokan yang disebut fai’, biasa dieja secara salah oleh media dengan fa’i. Ejaan yang tepat adalah fai’.

Konsep fai’ telah digunakan dan diadopsi untuk mendukung aksi pendanaan kelompok terror. Setidaknya, dalam narasi kelompok pendukung teroris, ada dua dasar keagamaan yang dipakai. Pertama, Qs. Al-Hasyr: 6-7 yang mendasari syariat fai’ secara umum. Kedua, hadis perampokan yang dilakukan Abu Bashir dan teman-temannya yang tertuang dalam kitab Shahih al-Bukhari.

Kita akan memahami alur berpikir kelompok pendukung perampokan atas nama jihad yang didasarkan pada konsep fai’ sebagaimana diulas dalam sebuah artikel di media yang dikelola pendukung terorisme. Artikel ini terbit tahun 2010-an.

Menurut artikel yang dipublikasikan oleh media online pendukung ekstremisme agama, disebutkan pengertian fai’ seperti berikut: “Fa’i secara bahasa mengandung makna mengembalikan atau mengumpulkan. Secara syar’i bermakna segala apa yang dirampas dari orang kafir tanpa melalui perang seperti harta yang ditinggal lari oleh orang kafir karena ketakutan, termasuk harta ahli dzimmah yang tidak memiiliki ahli waris. (Al Jihadu Sabiluna, Abdul Baqi’ Ramdhun).”

Selanjutnya, penulis artikel menjelaskan seperti berikut: “Dalam konteks ini maka harta orang kafir di luar kafir dizimmi (kafir yang tunduk kepada pemerintah Islam dan membayar jizyah), kafir musta’man (kafir yang dapat jaminan keamanan), kafir mu’ahad (kafir yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin) menjadi halal untuk diambil sebagai fa’i dengan tetap memperhatikan batasan-batasan syar’i (di sini tidak cukup untuk membahasnya lebih detail).”

Dasar yang digunakan pendukung perampokan untuk mendukung aksi terorisme adalah Qs. Al-Hasyr: 6-7. Allah SWT berfirman,

وَمَا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6)مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب (7)

“Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (Qs. Al-Hasyr 6 -7)

Kalau kita baca kitab-kitab fikih, konsep fai’ merupakan salah satu yang diperkenalkan hukum Islam. Dalam ilmu fikih, ayat di atas merupakan dasar syariat fai’. Harta fai’ digunakan untuk membiayai kelompok masyarakat yang rentan seperti fakir, miskin, anak yatim, dan lainnya. Tujuan pensyariatan fai’ dalam ayat di atas adalah untuk pemerataan kekayaan. Agar kekuatan ekonomi tidak terkonsentrasi pada kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. Artinya, harta fai’ sejatinya berfungsi dalam kerangka anggaran negara untuk kepentingan masyarakat luas.

Tetapi, dalam kenyataannya, kelompok teroris menggunakan konsep fai’ ini sebagai dasar melakukan perampokan. Para pendukung aksi ini meyakini bahwa Indonesia, khususnya, adalah kawasan konflik dan perang. Harta yang dimiliki oleh orang-orang di luar kelompok mereka adalah harta orang kafir yang dihalalkan bagi para pendukung teroris karena dianggap sebagai harta fai’.

Kelompok teroris juga berdalil dengan sebuah hadis. Dalam situs internet milik pendukung kelompok teroris disebutkan, “Dalil yang cukup kuat sebagai dasar oleh Mujahidin (sekali lagi kalau benar pelakunya mereka) dalam melakukan aksi perampokkan adalah kisah Abu Basyir dan Abu Jandal serta tim mereka Radhiallahu’anhum Ajma’in, ketika mereka tidak dapat memasuki Madinah pasca perjanjian Hudaibiyah mereka akhirnya membuat camp di dekat pantai, kemudian setiap orang yang lari dari Mekkah bergabung dengan mereka dengan sebab tidak dapat masuk Madinah. Selama mereka mendiami tempat itu tidak ada satu pun orang musyrikin Quraisy yang melewati tempat itu melainkan mereka bunuh dan rampas hartanya, hingga kemudian Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam mengizinkan mereka masuk Madinah atas keluhan orang musyrik Quraisy karena keamanan mereka terancam. (Shahih Bukhari I/378-381, Shahih Muslim II/140,105-106, Sirah Ibnu Hisyam II/308-322, Zadul Ma’ad II/122-127).”

Cerita tentang Abu Bashir dan Abu Jandal ini termuat dalam Shahih al-Bukhari dengan riwayat yang cukup panjang. Berikut potongan teks Arabnya.

 فَجَاءَ أَبُو بَصِيرٍ فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَدْ وَاللَّهِ أَوْفَى اللَّهُ ذِمَّتَكَ، قَدْ رَدَدْتَنِي إِلَيْهِمْ، ثُمَّ أَنْجَانِي اللَّهُ مِنْهُمْ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلُ أُمِّهِ مِسْعَرَ حَرْبٍ، لَوْ كَانَ لَهُ أَحَدٌ» فَلَمَّا سَمِعَ ذَلِكَ عَرَفَ أَنَّهُ سَيَرُدُّهُ إِلَيْهِمْ، فَخَرَجَ حَتَّى أَتَى سِيفَ البَحْرِ قَالَ: وَيَنْفَلِتُ مِنْهُمْ أَبُو جَنْدَلِ بْنُ سُهَيْلٍ، فَلَحِقَ بِأَبِي بَصِيرٍ، فَجَعَلَ لاَ يَخْرُجُ مِنْ قُرَيْشٍ رَجُلٌ قَدْ أَسْلَمَ إِلَّا لَحِقَ بِأَبِي بَصِيرٍ، حَتَّى اجْتَمَعَتْ مِنْهُمْ عِصَابَةٌ، فَوَاللَّهِ مَا يَسْمَعُونَ بِعِيرٍ خَرَجَتْ لِقُرَيْشٍ إِلَى الشَّأْمِ إِلَّا اعْتَرَضُوا لَهَا، فَقَتَلُوهُمْ وَأَخَذُوا أَمْوَالَهُمْ

Abu Bashir datang, lalu berkata, “Wahai Nabi Allah. Demi Allah, Allah telah menyempurnakan tanggunganmu. Engkau telah mengembalikanku kepada mereka. Kemudian Allah telah menyelamatkanku dari mereka. Nabi SAW berkata, “Hancurlah ibunya. Ia akan menyalakan api perang jika bergabung dengannya satu orang.” Kemudian tatkala Abu Bashir mendengar hal tersebut maka ia mengerti bahwa beliau akan mengembalikannya kepada mereka. Maka ia keluar hingga sampai di tepi laut, dan Abu Jundal hilang dan bergabung dengan Abu Bashir. Tidak kabur dari suku Quraisy seorang lelaki yang telah masuk Islam kecuali bergabung dengan Abu Bashir sehingga berkumpul menjadi kelompok besar. Demi Allah, mereka tidak mendengar ada rombongan kafilah yang keluar milik suku Quraisy menuju Syam kecuali mereka akan mengganggunya. Mereka membunuh para penjaga kafilah dan mereka mengambil hartanya. (HR. Al-Bukhari).

Yang perlu digaris-bawahi, keputusan Abu Bashir dan Abu Jandal itu dikecam oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika Abu Bashir melarikan diri, Nabi menyebutnya sebagai orang yang akan menyalakan api perang yang tidak seharusnya. Terlebih ketika mereka membunuh dan merampok kafilah suku Quraisy. Provokasi perang ini dikecam Nabi SAW karena Allah sendiri menyatakan telah mencegah perang dan melindungi kaum Muslimin dari pertumpahan darah melalui perjanjian Hudaibiyyah sebagaimana ditegaskan dalam Qs. Al-Fath: 24.

Dengan mengatasnamakan situasi perang, kelompok pendukung teroris mengutip riwayat di atas untuk melegitimasi aksi perampokan. Padahal, sekalipun disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, praktik perampokan yang dilakukan oleh Abu Bashir dan teman-temannya adalah tercela dalam pandangan Nabi SAW.

Sampai di sini, memahami ayat dan hadis dalam bingkai perang seperti yang dilakukan kelompok pendukung terorisme, dapat melahirkan pemahaman yang berbahaya. Terlebih jika pemahaman yang berbasis asumsi kekerasan itu dipraktikkan atas nama pengamalan ajaran agama.

Demikian “Dalil Aksi Perampokan Atas Nama Jihad Menurut Kelompok Teroris”. Semoga “Dalil Aksi Perampokan Atas Nama Jihad Menurut Kelompok Teroris ini dapat menambah wawasan kita semua”.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...