Beranda Keislaman Ibadah Dalil Kesunnahan Tradisi Dzikir dan Membaca Syair Puji-Pujian Sebelum Salat Berjamaah

Dalil Kesunnahan Tradisi Dzikir dan Membaca Syair Puji-Pujian Sebelum Salat Berjamaah

Harakah.id Syair puji-pujian sebelum salat berjamaah adalah tradisi yang sampai sekarang masih berlangsung di musalla-musalla, langgar-langgar ataupun di masjid-masjid. Ada yang mengatakannya bidah. Tapi sebenarnya tradisi itu hukumnya sunnah lho!

Dalam buku Hujjah NU disebutkan bahwa membaca dzikir dan syair puji-pujian sebelum salat berjamaah adalah perbuatan yang boleh dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kebolehan ini bisa ditinjau dari beberapa sisi.

Pertama, dari sisi dalil. Membaca syair puji-pujian sebelum salat berjamaah di dalam masjid bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Pada masa Rasulullah SAW, para sahabat juga membaca syair di masjid.

Dari Sa’id bin Musayyab R.A yang berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, “Aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu.” Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah R.A. Hassan melanjutkan perkataannya, “Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, ”Jawablah dariku, Ya Allah mudah-mudahan engkau menguatkannya dengan ruh Al-Qudus”. Abu Hurairah menjawab, “Ya Allah, benar (aku telah mendengarnya).” (H.R Abu Dawud [4360] al-Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).

Mengomentari hadis ini, Syaikh Ismail Al-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan syair yang berisi nasehat, pelajaran tata krama dan ilmu yang bermanfaat atau syair puji-pujian sebelum salat berjamaah di dalam masjid (Irsyad al-Mu’minin Ila Fadha’ili Dzikr Rabb al-‘Alamin, hal. 16)

Kedua, dari sisi syiar dan penanaman akidah umat. Selain menambah syiar agama, amaliah ini merupakan strategi yang sangat jitu untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Karena di dalamnya tersebut terkandung beberapa pujian kepada Allah SWT, dzikir dan nasehat.

Ketiga, dari aspek psikologis. Lantunan syair yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Dalam hal ini, tradisi yang telah berjalan di masyarakat tersebut dapat menjadi semacam warming up (persiapan) sebelum masuk ketujuan inti, yakni shalat lima waktu.

Manfaat lain adalah, untuk mengobati rasa jemu sembari menunggu waktu shalat jamaah dilaksanakan. Juga agar para jamaah tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu ketika menunggu shalat jamaah dilaksanakan.

Dengan beberapa alasan inilah maka membaca dzikir, nasehat, puji-pujian sebelum pelaksanaan salat berjamaah di masjid atau mushalla adalah amaliah yang baik dan dianjurkan. Namun dengan satu catatan, tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan shalat. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing masjid dan mushalla dimaksud. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...