Dari Dulu Al-Quran Sudah Mengajarkan Untuk Tidak Mengandalkan dan Terlalu Berharap pada Manusia

0
Dari Dulu Al-Quran Sudah Mengajarkan Untuk Tidak Mengandalkan dan Terlalu Berharap pada Manusia

Harakah.id – Dalam Surat Yusuf ayat 42, al-Quran secara samar mengajarkan umat manusia untuk tidak terlalu mengandalkan dan berharap pada manusia. Berharaplah kepada Allah SWT!

Nasihat bijak menyebutkan bahwa sumber kekecewaan terbesar adalah terlalu berharap terhadap sesama manusia. Syaikh Abdullah As Syarqowi (Pensyarah kitab Al Hikam karya Syaikh Tajuddin Ibnu Atha’illah) menjelaskan bahwa pengharapan seharusnya dihaturkan kepada yang lebih hebat, bukan kepada sesama manusia yang notabenenya memiliki derajat yang sama (sama-sama ciptaan dan sama-sama menangis kalau tidak punya uang). Larangan terlalu berharap kepada manusia disampaikan oleh Allah di dalam surat Yusuf ayat 42 lewat kekeliruan nabi Yusuf yang terlalu berharap kepada rekan se-penjara

Ayat 42 dari surat Yusuf tersebut berbunyi: Dan Yusuf berkata kepada orang yang Ia anggap akan selamat di antara mereka berdua, “jelaskanlah keadaanku pada tuanmu (raja)”. Maka setan menjadikan dia lupa menerangkannya (keadaan Yusuf) pada tuannya. Karena itu, tetaplah dia (nabi Yusuf) di dalam penjara selama beberapa tahun

Ayat di atas berkesinambungan dengan ayat-ayat sebelumnya. Ringkasan padatnya adalah raja Mesir yang memenjarakan nabi Yusuf (Royyan bin Walid) memiliki pelayan untuk menyediakan makanan (menurut Syaikh Nawawi dalam Tafsir Munir-nya bernama Ro’san) dan pelayan untuk menyediakan minuman (menurut Syaikh Nawawi dalam Tafsir Munir-nya bernama Mirthus).

Dua pelayan tersebut dihasud oleh sekelompok orang yang ingin menggulingkan raja untuk meracuni makanan dan minuman raja. Mereka berdua menyetujuinya, namun di tengah-tengah pelaksanaan rencana Mirthus menyesali perbuatannya. Berbeda dengan Ro’san, ia tetap melaksanakan niat jahatnya. Singkat cerita, (cerita ini sangat panjang, di lain kesempatan semoga bisa diceritakan dengan rinci. Pembaca mohon bersabar) niat jahat mereka bedua terbongkar oleh raja, sehingga raja menjebloskan mereka berdua ke penjara. Di dalam penjara, mereka berdua berkumpul dengan nabi Yusuf. Mirthus dan Ro’san menceritakan mimpi mereka berdua kepada nabi Yusuf dan nabi Yusuf berhasil mena’wilinya dengan benar sebab anugerah dari Allah. 

Nah, di saat Mirthus hendak terbebas dari penjara, nabi Yusuf berkata kepadanya “jelaskanlah keadaanku pada tuanmu (raja)”. Syaikh Nawawi Al Bantani dalam tafsir-nya menyebutkan bahwa maksud dari keadaanku adalah kondisi nabi Yusuf yang telah terpenjara selama 5 tahun dalam keadaan dzalim (dipenjara karena difitnah). Nabi Yusuf terlalu percaya kepada Mirthus bahwa dialah yang dapat menyelamatkan nabi Yusuf dari kedzaliman, padahal satu-satunya yang Maha Menyelamatkan adalah Allah.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah sesuai dengan lanjutan ayat, yakni Setan membuat lupa Mirthus terhadap pesan nabi Yusuf. Syaikh Nawawi juga menambahkan bahwa permintalan tolong terhadap sesama manusia dalam menolak kedzaliman memang diperbolehkan secara syari’at, tetapi bagi orang-orang Shiddiqin (apalagi seorang Nabi sekaligus Rasul) yang paling utama adalah menyibukkan diri kepada Dzat yang membuat sebab atas segala sesuatu (Allah).

Di sinilah letak kekeliruan nabi Yusuf. Gegara hal tersebut Allah menambah waktu nabi Yusuf di penjara. Ulama’ ahli tafsir berbeda pendapat tentang durasi nabi Yusuf di penjara. Syaikh Jalaluddin As Suyuthi (masyhur dengan sebutan Imam Suyuthi) di dalam tafsir Jalalain menyebutkan 7 tahun dan riwayat lainnya 12 tahun. Syaikh Nawawi setuju dengan pendapat yang menyatakan nabi Yusuf di penjara selama 7 tahun (dengan rincian 5 tahun sebelum ucapan pengharapan kepada Mirthus dan 2 tahun setelahnya) menurut Syaikh Nawawi pendapat ini adalah pendapat yang benar (Shahih).