Dari Kertosoewiryo Sampai Abu Toto, Bagaimana Kelanjutan Kisah Gerakan Negara Islam Indonesia Kini?

0
67
Dari Kertosoewiryo Sampai Abu Toto, Bagaimana Kelanjutan Kisah Gerakan Negara Islam Indonesia Kini?

Harakah.idNegara Islam Indonesia atau NII adalah salah satu aliran sekaligus gerakan yang muncul di Indonesia. Lalu bagaimana kabar perkembangan gerakan tersebut?

Di antara aliran Islam kontemporer yang lahir karena dorongan politik adalah Negara Islam Indonesia (NII). Aliran ini secara resmi muncul pada tahun 1949, melalui proklamasi pemimpin tertingginya, SKM. Kartosoewiryo. Pada mulanya merupakan gerakan politik yang kecewa pada pemerintah Republik Indonesia. Lalu berubah menjadi gerakan yang ingin membuat negara sendiri. Pada 1962, SKM. Kartosoewiryo dieksekusi mati karena dianggap memberontak pada pemerintah Republik Indonesia. Mayoritas ulama di Indonesia menolak aksi pemberontakan gerakan NII, sebagaimana ditunjukkan Musyawarah Nasional Alim Ulama di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Pasca kepemimpinan S.M. Kartosoewirjo, NII kemudian dipegang oleh Kahar Muzakkar (1962 – 1965), kemudian oleh Agus Abdullah (1965 – 1970) dan Teungku Daud Beureuh (1970 – 1980).   Pasca kepemimpinan ini, NII terpecah menjadi beberapa faksi, karena terjadi perselisihan paham dan pendapat tentang siapa yang lebih berhak menggantikan posisi Imam NII: ada kubu Mujahidin dalam wadah Fillah di bawah komando Djaja Sujadi, dan Mujahidin dalam wadah Sabilillah di bawah komando Adah Djaelani Tirtapradja.

Kemudian kubu Sabilillah ini pecah lagi menjadi beberapa faksi, yaitu Faksi Abdullah Sungkar. Abdullah Sungkar kemudian mendirikan “Jamaah Islamiyah” bersama Abu Bakar Ba’asyir. Beberapa orang pengikut Jamaah Islamiyah melakukan aksi pengeboman di Indonesia. Hal itu menjadikan pelaku, dan juga organisasi mereka, mendapat label teroris.  

Faksi lainnya adalah kelompok Abu Toto yang sekarang disebut “NII KW IX” dan berpusat di Pesantren al-Zaytun, Mekar Jaya, Haur Geulis, Indramayu Jawa Barat. Abu Toto ini kemudian dikenal dengan nama Panji Gumilang. Berbeda dengan Jamaah Islamiyah yang mengedepankan perjuangan berdarah, NII KW IX lebih banyak membangun gerakan penggalangan dana dengan berbagai cara sekalipun menurut ajaran Islam dilarang seperti mencuri. Di bawah ini adalah beberapa pokok ajaran NII KW IX.  

1.    Syajarah Thayyibah
Secara bahasa berarti pohon yang baik. Dasar ajaran ini adalah Qs. Ibrahim: 24-25.  Namun, dalam paham mereka berarti “Negara Islam Indonesia” yang punya dasar kokoh, cabang yang tumbuh meninggi, dan buah yang baik. Yang dimaksud “Dasar yang kokoh “ menurut mereka adalah konstitusi negara yang didasarkan kepada Al-Quran. Sedangkan “cabang yang tumbuh meninggi” adalah negara Islam Indonesia. “Buah yang baik” lahirnya mukmin sejati. Mukmin sejati adalah hasil adanya negara Islam.

Karena itu, agar dapat menjadi mukmin sejati, umat Islam harus mendirikan negara Islam. Perjuangan mendirikan negara Islam adalah melebihi segalanya, termasuk pelaksanaan syariat Islam seperti shalat, puasa dan haji. Menurut mereka, tidak wajib shalat, puasa dan haji selama belum ada negara Islam. Mereka menganalogikan kepada fase Mekah dalam dakwah Nabi Muhammad saw.

2.    Pembagian tauhid menjadi: Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.
Tauhid Rububiyyah berarti manusia harus menjadikan Allah sebagai satu-satu sumber pengatur, sementara aturan Allah itu terdapat di dalam al-Quran. Berdasarkan hal ini, manusia harus menegakkan hukum Allah dalam hal ini adalah al-Qur’an bukannya Pancasila. Tauhid Mulkiyah berarti meyakini hanya Allah yang menjadi raja di alam ini.

Oleh karena itu manusia harus mendirikan kerajaan (negara) Allah di muka bumi ini, bukannya NKRI. Tauhid Uluhiyyah berarti manusia mengesakan Allah dalam penyembahan. Bahwa umat Islam yang hidup di negara Islam, bukan umat yang beragama dan bersifat gado-gado. Umat Islam yang ideal adalah satu warna, satu format dengan sistem dan tata cara peribadatan yang sama. Itu baru bisa terwujud jika negaranya Islam dan dasarnya al-Qur’an.

Kedua doktrin pokok NII KW IX di atas telah menyebabkan pengikutnya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam.
1.    Menganggap mendirikan negara sebagai rukun iman.
2.    Mengkafirkan umat Islam di golongan mereka.
3.    Menghalalkan mencuri/merampok harta benda golongan di luar mereka.
4.    Mengajarkan anak memusuhi orang tua karena dianggap sudah kafir.
5.    Tidak perlu menjalankan syariat shalat, puasa dan haji.