Dari Logika Sampai Anatomi Tubuh Manusia, Mengenal Ilmuan Cemerlang Bernama Ibnu Sina

0
250
Dari Logika Sampai Anatomi Tubuh Manusia, Mengenal Ilmuan Cemerlang Bernama Ibnu Sina

Harakah.idIbnu Sina adalah satu dari sekian banyak ilmuan yang muncul dalam sejarah Islam. kepakarannya melintasi banyak disiplin; dari filsafat, fisika hingga kedokteran. Tak ayal, Ibnu Sina sampai kini masih dikenal.

Abu Ali al-Husain bin Abdullah atau yang biasa di panggil Ibnu Sina merupakan filsuf islam dan termasuk dokter yang terkenal. Beliau terkenal dengan sebutan Avicenna saat di Barat. Pada bulan safar tahun 370 H atau 980 M, beliau di lahirkan di Afsyanah, Bukhara dari ibu berkebangsaan Turki, ayahnya sendiri dari keluarga Arab-Persi. Saat itu ayahnya menikah dengan Sattarah (nama ibu Ibnu Sina) dan memiliki tiga anak yakni Ali, Husain dan Muhamad.

Saat berusia 10 tahun, beliau mampu menghafalkan Al-Qur an. Beliau juga hafal buku karangan dari Aristoteles seperti metafisika yang dibacanya sebanyak empat puluh kali. Akan tetapi beliau belum memahaminya, sampai pada akhirnya beliau memahami setelah membaca ulasan dari Al-Farabi. Saat berusia 16 tahun, beliau juga telah banyak menguasai Sastra Arab, ilmu pengetahuan, Fiqih, ilmu hitung bahkan ilmu kedokteran pun beliau pelajari sendiri.

Dan saat berusia 17 tahun beliau memulai profesinya dalam bidang kedokteran. Beliau juga berhasil menyembuhkan seorang penguasa Dinasti Samaniah yakni Nuh bin Mansur (976-997 M). Sebagai penghargaannya dari sang raja, Husain (Ibnu Sina) diminta untuk menetap di istana. Akan tetapi Husain menolak permintaan dari sang raja tersebut dengan halus. Beliau hanya meminta izin kepada sang raja untuk mengunjungi sebuah perpustakan kuno dan antik di kerajaan untuk mempelajari buku-buku disana.

Ibnu Sina dapat menghafalkan sebagian besar isi buku-buku itu. Dengan daya ingat yang luar biasa, menjadi modal Ibnu Sina untuk menulis buku pertamanya tentang psikologi menurut metodenya Aristoteles. Buku itu berjudul Hadiyah al-Ra’is ila al-Amir yang dipersembahkan juga untuk Sultan Nuh Ibnu Mansur.

Ibnu Sina tertarik kepada alairan Syi’ah Isma’iliyyah dan aliran kebatinan pada saat masa mudanya. Ibnu Sina banyak mendengar percakapan antara ayah atau kakanya dengan tokoh-tokoh kedua aliran tersebut. Mereka berdiskusi tentang kejiwaan dan akal pikiran menurut pandangan mereka. Akan tetapi Ibnu Sina tidak mengikuti madzhab atau aliran sunnah maupun Syi’ah. Ibnu Sina memiliki madzhabnya sendiri yakni madzhab Sinawi.

Beberapa gelar nama Ibnu Sina yang diberikan orang kepadanya, yakni asy-Syaikh ar-Rais yang berarti (guru para raja) dalam bidang kedokteran dan bidang filsafat. Ayahnya meninggal saat beliau berusia 22 tahun. Saat kejadian tersebut Ibnu Sina merasa sangat terpukul atas kepergian ayahnya, hingga la dengan berat hati meninggalkan Bukhara dan bertemu dengan Abu ‘Ubaid al-Jurjani di Jurjan yang kemudian menjadi salah seorang murid dan juga penulis sejarah kehidupannya. Pada tahun 1037 M/ 428 H dalam usia 58 tahun, beliau meninggal dunia. Karena penyakit maag yang fatal. Makamnya berada di Hamadzan, Iran.

Karya-Karya Ibnu Sina

Meskipun kesibukan Ibnu Sina yang banyak dalam urusan politik, beliau berhasil mengarang sebuah buku. Hasil karya beliau sendiri dikarenakan kecerdasan otak dan kekuatan ingatannya, beliau juga pintar dalam mengatur waktu. Selain berbahasa Perisa, kebanyakan karyanya juga berbahasa Arab. Karya-karya tersebut mencakup dalam bidang Mantik, Fisika, Kedokteran dan Filsafat. Ada pun karyanya yang terkenal, sebagai berikut :

  1. As-Syifa’ yang berarti penyembuhan. Merupakan karya yang mencakup dalam bidang pengetahuan yang luas dari filsafat ke sains.
  2. Al-Qanuun fi at-Tibb. Merupakan karya yang terkenal karena menjadi ensiklopedia filosofi di dunia kedokteran. Selama 15 abad di Eropa, menjadi literatur penting bagi fakultas  kedokteran. Al-Qanuun fi at-Tibb (Canon of Medicine) merupakan buku yang didalamnya tertulis jutaan item tentang obat-obatan dan pengobatannya. Buku ini dijadikan sebagai rujukan selama tujuh abad dengan memperkenalkan penyembuhan yang secara sistematis dan menjadi buku standar di universitas Eropa hingga akhir abad 17 M. Pada tahun 1593 di Roma dan 1323 H di India, buku ini pernah di terbitkan juga.
  3. Al-Najat merupakan buku hasil dari ringkasan As-Syifa’. Karya tulis ini di khususkan bagi kelompok terpelajar yang ingin mengetahui dasar ilmu hikmah secara lengkap.
  4. Al-Magest. Merupakan buku yang terkait dengan bidang astronomi. Isi dari buku ini meragukan pandangan dari Aristoteles yang menyamakan bintang tak bergerak juga mencakup bantahan terhadap pandangan Euclides. Bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada dalam satu globe, menurut Ibnu Sina.
  5. De Conglutineation Lagibum. Yang membahas tentang masalah penciptaan alam dan ditulis menggunakan Bahasa Latin. Contohnya tentang asal mula terbentuknya sebuah gunung. Kemungkinan terbentuknya gunung karena dua sebab, yakni pertama kaerna goncangan hebat dari gempa hingga pada akhirnya menggelembung kulit luar bumi. Kedua, karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Akibatnya muncul lembah dan membentuk penggelembungan pada permukaan bumi.
  6. Al-Isyaaraah wa at-Tanbihaat (isyarat dan penjelasan), mengandung uraian tentang logika Timur (Mantiq al-Masyriqiyyin) dan juga mata air hikmat (Uyuun al-Hikmah).

Itulah ulasan mengenai sosok filsuf, ilmuan dan pakar kedokteran yang sempat tampil cemerlang dalam sejarah Islam.