Beranda Keislaman Doa Dasar Anjuran Membaca Doa Qunut dalam Shalat Witir pada Pertengahan Ramadhan

Dasar Anjuran Membaca Doa Qunut dalam Shalat Witir pada Pertengahan Ramadhan

Harakah.idSalah satu amalan yang dianjurkan adalah membaca doa qunut dalam shalat witir sejak pertengahan Ramadhan. Hal ini merupakan pendapat ulama Syafi’iyyah sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka.

Anjuran Membaca Doa Qunut dalam Shalat Witir. Pada paruh kedua bulan Ramadhan, terdapat perubahan dalam tata cara shalat witir yang biasa dilakukan setelah shalat tarawih. Yaitu adanya doa yang dibaca setelah rukuk pada akhir shalat witir. Doa yang dibaca disebut doa qunut. Doanya persis seperti doa qunut yang dibaca pada waktu shalat subuh. Lalu, apa dasar anjuran memabca doa qunut dalam shalat witir pada pertengahan Ramadhan?

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah membaca doa qunut dalam shalat witir sejak pertengahan Ramadhan. Hal ini merupakan pendapat ulama Syafi’iyyah sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka.

Dalam kitab Matan Taqrib disebutkan keterangan sebagai berikut:

وبعد الدخول فيها شيئان: التشهد الأول والقنوت في الصبح  وفي الوتر في النصف الثاني من شهر رمضان

Adapun perkara yang disunnahkan saat sudah di dalam shalat ada dua; membaca doa tasyahud awal dan membaca doa qunut dalam shalat shubuh dan dalam shalat sunnah witir pada paruh kedua bulan Ramadhan (Tadzhib Fi Adillati Matni Al-Ghayah Wa Al-Taqrib, hlm. 59)

Berdasarkan keterangan kitab Matan Taqrib di atas dapat dipahami bahwa menurut ulama mazhab Syafi’i, membaca doa qunut dalam shalat witir pada pertengahan bulan Ramadhan, atau tanggal 16 Ramadhan adalah perkara yang dianjurkan. Ia termasuk sunnah shalat yang jika dilakukan oleh seseorang, akan dihitung sebagai pahala untuknya. Jika  ditinggalkan, ia tidak mendapat dosa, atau batal shalatnya. Konsekuensi meninggalkan kesunnahan ini adalah anjuran diganti dengan ibadah lain, yaitu sujud sahwi, atau sujud yang dilakukan karena lupa.

Dasar dianjurkannya membaca doa qunut dalam shalat witir ini adalah sebuah hadis riwayat Imam Abu Dawud,

عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ، أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، «أَمَّهُمْ – يَعْنِي – فِي رَمَضَانَ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْآخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»

Dari Muhammad, dari sebagian sahabatnya, bahwa Ubay bin Ka’b menjadi imam pada bulan Ramadhan. Ia membaca doa qunut pada pertengahan kedua bulan Ramadhan. (HR. Sunan Abi Dawud).

Menurut Syekh Syuaib Al-Arnauth, hadis dengan sanad Abu Dawud ini berkualitas dhaif karena ada penyamaran nama perawi (ibham), yaitu Muhammad. Tetapi, dalam jalur lain ditemukan bahwa yang dimaksud Muhammad adalah Muhammad ibnu Sirin, seorang tabiin terkemuka. Berdasarkan jalur lain tersebut, kualitas hadis qunut dalam witir adalah shahih. Selain itu, Imam Al-Baihaqi As-Syafi’i Al-Asy’ari dan Imam Ibnu Khuzaimah Al-Syafi’i meriwayatkan hadis tentang qunut witir pada akhir Ramadhan dengan kualitas shahih.

Berdasarkan hadis di atas, amaliah seorang sahabat dapat dijadikan dasar ibadah karena mereka dianggap tidak melakukan ibadah kecuali berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW.

Riwayat di atas dikuatkan dengan hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dan An-Nasa’i sebagai berikut;

 عَنْ أَبِي الحَوْرَاءِ، قَالَ: قَالَ الحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الوِتْرِ: “اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ”

Dari Abul Haura’ yang berkata, “Al-Hasan bin Ali berkata, ‘Rasulullah SAW mengajariku beberapa bacaan yang dibaca saat shalat witir, ‘Allahummahdini fiman hadait, wa afini fiman afait, wa tawallani fiman tawallait, wa barikli fima a’thait, wa qini syarrama qadhait, fa innaka taqdhi wa yuqdha alaik, wa innahu la yadzillu man walait, tabarakta rabbana wa ta’alait.’” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Hadis ini juga menunjukkan bahwa para sahabat membaca doa qunut dalam shalat witir. Ini menguatkan informasi yang disebutkan dalam hadis sebelumnya. Sampai di sini, dapat dipahami bahwa para sahabat Nabi, bahkan cucu Nabi SAW, membaca doa qunut dalam shalat witir. Pembacaan doa qunut ini dilakukan dalam shalat witir pada paruh kedua bulan Ramadhan. Yaitu tanggal 16 Ramadhan setiap tahunnya.

Demikianlah dasar anjuran membaca doa qunut dalam shalat witir pada pertengahan Ramadhan. Semoga ulasan tentang dasar anjuran membaca doa qunut ini dapat menambah wawasan kita semua. Dan semoga, tidak ada yang menuduh bahwa amaliah ini tergolong bid’ah karena anggapan hadis yang menjadi dasar bernilai dhaif. Dasar Anjuran Membaca Doa Qunut dalam Shalat Witir pada Pertengahan Ramadhan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...