Beranda Keislaman Ibadah Tradisi Imsak dalam Literatur Mazhab Syaf’i, Mungkin Ustadz Adi Hidayat Bisa Membacanya...

Tradisi Imsak dalam Literatur Mazhab Syaf’i, Mungkin Ustadz Adi Hidayat Bisa Membacanya Sebelum Menyalahkan

Harakah.idJika UAH menyebut tradisi imsak sebelum masuk waktu subuh sebagai kesalahan, maka dia harus menyalahkan Imam Al-Mawardi yang menganjurkannya.

Seorang ustadz kondang, sebut saja ustadz Adi Hidayat (UAH), pernah menyinggung dalam sebuah ceramahnya tentang konsep jadwal Imsakiyah yang populer di masyarakat. Menurutnya, tradisi imsak sebelum azan subuh adalah sebuah kesalahan. Bahkan, ia menyebutnya sebagai sebuah salah yang kaprah (al-akhtha’ al-syai’ah).

Ustadz yang populer dengan sebutan UAH itu menyebut bahwa imsak sebelum azan subuh sama dengan memulai puasa sebelum waktunya. Menurutnya, imsak adalah istilah lain dari shaum atau shiyam. Sebuah channel youtube yang memuat video sang ustadz menampilkan judul “Salah Kaprah Istilah Imsak”. Dalam keterangan dituliskan pernyataan yang mencoba mengambil intisari ceramah UAH. Berikut pernyataan yang dimuat dalam deskripsi channel pendukung UAH:

“Umat Islam meyakini bahwa makan sahur adalah salah satu sunah Rasulullah yang semestinya kita lakukan walaupun hanya dengan seteguk air. Dan Rasulullah memerintahkan agar kita mengakhirkan makan sahur. Batas akhir makan sahur adalah fajar shadiq yang pada masa Rasulullah, Ibn Ummi Maktum selalu adzan pada saat fajar shadiq. Jadi batas akhir waktu makan sahur adalah waktu awal shalat shubuh. Bahkan Rasulullah mengijinkan kita untuk meneruskan kita minum (bahkan mungkin makan) walaupun adan shubuh sudah dikumandangkan. Waktu imsak yang beredar saat ini adalah 10 sebelum adzan shubuh. Maka tidaklah dibenarkan muslimin dan muslimat mengakhiri makan sahur sepuluh menit sebelum adzan shubuh. Bahkan saat itu (10 menit sebelum adzan) adalah waktu terbaik kita melaksanakan makan sahur. Bukankah kita diperintahkan untuk mengakhirkan makan sahur. Bukankah kita tetap dibenarkan untuk sekedar menghabiskan minuman (mungkin juga makanan) yang masih ada di tangan walaupun adzan shubuh sedang/sudah berkumandang? Saudaraku janganlah mempersulit agama ini karena “Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari). Dan janganlah selalu menganggap baik suatu amalan yang tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan (misalnya): “Kami menentukan waktu imsak ‘kan untuk berhati-hati jangan kebablasan makan sampai shalat shubuh”. Ingatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih mengetahui keadaan umatnya dan bukannya orang-orang yang menetapkan waktu imsak. Ingatlah ketika terdengar adzan, suri teladan kita (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) masih memberikan kita kesempatan untuk menghabiskan makanan yang ada di tangan.”

Baca Juga: Tradisi Imsak Gak Ada Dalilnya? Kata Siapa, Baca Dulu Ini

Jelas sekali, penjelasan UAH dan pemahaman pengikutnya kurang memperhatikan maksud dari umat Islam yang melaksanakan tradisi imsak. Tradisi Imsak yang berlaku di masyarakat Muslim Indonesia jelas bukan bagian dari awal ibadah puasa. Umat Islam di Indonesia mengerti betul bahwa kewajiban puasa dimulai sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbenam. Keterangan ini sangat mudah ditemui dalam buku-buku keislaman dasar yang tersebar luas di masyarakat maupun kitab-kitab fiqih mazhab Syafi’i yang dikaji di berbagai pesantren. Jadwal imsak yang terdapat dalam kalender bertujuan menjaga kehati-hatian agar jangan sampai sahur yang dilakukan tidak melewati batas, misalnya seseorang masih makan padahal waktu subuh sudah masuk. Azan subuh yang dikumandangkan menandakan waktu subuh sudah masuk. Yang artinya sudah tidak boleh lagi menelan makanan atau minuman jika seseorang sedang mengunyahnya. Jika dilakukan, tentu saja ia tidak melaksanakan puasa pada awal waktu puasa, yaitu pada awal masuk waktu subuh. Di sini tentu saja puasanya tidak sah.

Jadi, bisa dipahami bahwa tradisi imsak merupakan bentuk kehati-hatian umat Islam di Indonesia. Tradisi ini mempunyai landasan dalam kitab-kitab fiqh dalam mazhab Syafi’I yang menjadi pedoman umat Islam di kawasan ini. Misalnya, dalam kitab Al-Iqna’ Fi Fiqh Al-Syafi’i karya Imam Al-Mawardi (w. 450 H.). Dalam disebutkan,

وزمان الصيام من طلوع الفجر الثاني الى غروب الشمس، ولكن عليه تقديم الأمساك يسيرا قبل طلوع الفجر و تأخير الفطر يسيرا بعد غروب الشمس ليصير مستوفيا لامساك ما بينهما

Dan waktu puasa dimulai sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari. Tetapi bagi seseorang dianjurkan mendahulukan imsak (menahan diri dari makan dan minum) beberapa saat sebelum terbitnya fajar, dan mengakhirkan berbuka beberapa saat setelah terbenamnya matahari, agar dia bisa menyempurnakan kewajiban puasa yang ada di antara dua batas puasa tersebut (Al-Mawardi, Al-Iqna’ Fi Fiqh Al-Syafi’i, hlm. 74)

Keterangan Imam Al-Mawardi di atas menunjukkan adanya anjuran imsak sebelum masuknya waktu subuh. Imsak di sini jelas bukan awal ibadah puasa. Tetapi sebagai bentuk penyempurnaan terhadap perintah puasa. Bahkan, Imam Al-Mawardi juga menganjurkan agar ketika berbuka seseorang menahan diri terlebih dahulu beberapa saat agar waktu maghrib benar-benar telah masuk.

Demikian adalah penjelasan singkat bahwa tradisi imsak, menahan diri dari makan dan minum, sebelum masuknya waktu subuh yang juga menjadi awal waktu ibadah puasa, mempunyai rujukan dalam literatur mazhab Syafi’i. Setidaknya, anjuran imsak sebelum masuk waktu subuh merupakan pendapat salah tokoh penting dalam mazhab ini, yaitu Imam Al-Mawardi. Beliau adalah salah satu dari banyak ulama besar dalam jajaran ulama mazhab Syafi’i yang berhasil mencapai level Mujtahid Fatwa Wa Tarjih. Sebuah tingkat kefaqihan yang tinggi dalam mazhab Syafi’i dan diakui oleh ulama-ulama Syafi’iyyah. Jika UAH menyebut tradisi imsak sebelum masuk waktu subuh sebagai kesalahan, maka dia harus menyalahkan Imam Al-Mawardi yang menganjurkannya. Lalu, siapa UAH yang penceramah jika dibandingkan Al-Mawardi sang mujtahid fatwa wa tarjih?

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...